Hari ini saya teringat akan setahun yang lalu. Bukan, bukan sebuah refleksi namun sebuah kenangan. Baper? bukan, bukan pula baper, hanya saja saya ingin berusaha mengingat hal kecil yang menyenangkan bersama Nunukaners. Tiba-tiba ada suatu massa yang mengingatkan saya akan martabak, pentol dan rujab/ rumah biru. Gegara melihat martabak berseliweran di depan mata, saya pun teringat keharmonisan gara-gara martabak saat di penempatan dulu. Martabak? Iya, beli satu aja kurang loh, dan terkadang suka ada yang bela-belain keluar untuk membeli martabak lagi :D
![]() |
| Pic by google |
Hari ini entah kenapa tetiba saya bernostalgia saat makan matabak telur yang mereknya cukup kekinian dibanding martabak yang biasa saya beli di abang-abang dengan gerobak yang apa adanya. Kenapa bernostalgia? Itu mengingatkan saya akan sesuatu ketika berada di rumah biru bersama dengan 9 Nunukers lainnya.
Di desa penempatan untuk membeli martabak saja harus rela untuk turun gunung dan berkendara hingga pusat kota kecamatan. Alhasil, saya yang kala itu adalah seorang penggemar martabak telur harus menahan godaan selama beberapa bulan untuk membeli martabak heheheh Lah kenapa nggak turun ke kota kecamatan dan beli aja gitu? Deuh, mas-mbak, dikira kotanya deket? Jauh euy kotanya, lumayan sih untuk membuang waktu perjalanan dan bensinnya. Apalagi jalannya naik turun tidak beraturan, melewati perkebunan sawit dan coklat, dan bahkan tak ada lampu penerang di jalan. Lebih takut dengan manusianya yang tiba-tiba muncul dalam gelap gulita heheh...
Martabak dan rumah biru adalah satu kesingkronisasi dari PM Nunukan. Dimana kami di Nunukan, martabak adalah jajanan malam favorit kami ketika kami bercumbu dengan laporan dan laptop. Gimana kagak subur coba? Kalau ngemilnya begituan saat malam tiba? Ouch, tidak hanya martabak, pentol juga salah satu jajanan yang paling mengenang dari kami. Tapi, pentol yang enak cukup sulit dijangkau jika kami berada di rumah biru. Tak ada kendaraan bermotor, yang ada hanyalah angkot biru yang bayarnya bisa dibilang lebih mahal daripada beli pentolnya hihihi
Saya ingat, setiap kami jalan dan melewati penjual martabak atau pentol seringnya kami akan selalu lirak lirik satu sama lain. Rasanya, jajanan ini begitu istimewa karena di desa kami jarang memakannya. Duh, martabak dan pentol sahabat setia kami selama di Nunukan. Mengeratkan satu sama lain. Jika tersisa satu, ada rasa malu-malu memakannya meskipun ujungnya tetap ada yang makan dengan izin hahaha
"tinggal satu, buat aku yaa... Daripada nggak ada yang makan!" Gengsinya masih aja terlalu.
Berbagi dengan mas-mas TNI yang bertetangga dengan kami. Kehangatan dan kebersamaan yang begitu terasa. Terima kasih martabak dan rumah biru.
Nah di belakang kami itu adalah rumah biru kami yang memiliki banyak kenangan setahun lalu. Meskipun kami baru menempatinya hanya beberapa bulan, namun kenangannya ada banyak hal yang kami lakukan di sana. :)
(maafkan jika tulisan tidak niat) :(
--vidahasan--
Jakarta, 13 Oktober 2017


0 comments:
Post a Comment