30 October 2024

Mindfulness With Journaling

Hey dear lovely people,

Long time noooo see after hmm many years? a yeas? 2 years? or 3 years? I think that I should go back to write about something here, right? heheh

By the way, kalau ditanya "Vids, ngapain aja sih nggak nongol-nongol buat nulis lagi?" Mau jawab "Kebanyakan bertapa di dalam goa, jadi lupa buat menuliskan banyak hal yang udah terlewati. Maleees amat jadinya" Heheh Doakan ini istiqomah kembali yaa buat menulis banyak hal yang udah dan akan terlewati. But anyway, I would write about something new and many reflections that I got for these years. Ini karena sebenernya adalah pelampiasan diri udah semacam nggak mau ngepost apapun di instagram and still left some memories there. :') Whyyy? Yaa karena jadi nggak fokus aja, sedangkan aku pengen fokus buat belajar menata kembali diri and then finish my masteeer! OMG :")

So, lovely people,
Here, I want to share you something about the magic of writing by journaling. It makes really incredible moments that I got. So, let me to tell you about that magical things. 

Sebenernya, aku udah lama melakukan journaling ternyata. Since, I was kid 10 years old. Tapi, dulu dikenal dengan yang namanya diary. Dari diary itu pun jadi belajar banyak hal dan bikin mesam mesem sendiri pas dibaca-baca lagi. Jangan ditanya, bukunya masih ada? Hmmm... I forgot where those were going. But, may be my mom threw them anyway somewhere else. And may be, many people read my randomly curcol on my diaries. HAHAH (and yauda sih. Whatever!).

From diary then I was going to this blog. Kayaknya dulu hampiiir banget tiap hari nulis hal-hal konyol deh. Pokoknya nulis aja gitu, mau pake bahasa non formal lah sok-sokan Inggris lah atau bahasa gaul sekalipun. Tapi yaa mohon maap, kalau diminta menulis pake bahasa ilmiah masih ampun, bukan anak researcher yang formal banget soalnya. So, don't ask me anyway about "Vids, which methods are you using from this research? Theories? Conclusions? anything else?" Enggak, enggak mampu! Bukan anak teoritical, just want execute it. Hihihi

Well back to on my stories deh about journaling. 

 Guys, as you know, buatku pribadi journaling itu adalah healing untuk diri sendiri. Dari journaling belajar banyak hal dan berefleksi diri. Sudah sejak sekitar entah kapan sebenernya melakukan journaling. Tapi, untuk selalu menjadikan bahan refleksi memang udah sekitar 3-4 tahunan ini. Ada beberapa manfaat yang aku dapatkan dari aku ngejournal setiap hari:

  1. Lebih mindfulness. Kenapa mindfulness. Di buku journal ini aku menuliskan beberapa hal terkait mood tracker, habits, to do list, goals, and insights. Dari menuliskan mood tracker kita, kita jadi tau loh seberapa banyaknya mood kita nggak baik. Nah, dari nggak baik itu bisa dicari tau juga kenapa sih bisa nggak baik? Kita bisa menuliskan alasan dan solusi dari hal-hal nggak baik yang kita dapat di hari itu. Makanya, sebenernya kita tau ada sebab dan akibat yang kita lakuin. Dari sebab itu, akibatnya misal kerjaan kita jadi nggak selesai, stress dan akhirnya nggak mencapai tujuan yang diinginkan.
  2. Time management. Dari to do list yang dibuat, kita bisa ngebagi waktu sebenernya. Hal-hal apa aja yang perlu kita prioritaskan di hari itu dan yang bisa kita lakuin nyicil di hari itu. Jadi, nggak semua hal mesti kita kerjakan di hari yang sama. Kalau atasan kita minta diselesaikan di hari itu, sebenernya kita bisa sampaikan bahwa kita ada agenda yang perlu diselesaikan juga di hari yang sama. So, it's okay buat bilang "Sebentar ya Pak/Bu. Saya selesaikan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, setelahnya akan saya kerjakan. Diusahakan hari ini. Kalau tidak hari ini, paling lambat kemungkinan besok." Say it frankly. Jadi lebih belajar berkomunikasi dan menyampaikan hal yang jujur aja, jadi sama-sama nyaman kan? :)
  3. Self control emotions. Boleh kita menuliskan capaian yang ingin dicapai di setiap bulan. Tapi, seringkali kalau capaian itu nggak tercapai yaa nggak masalah. Kita tuliskan lagi aja terus di bulan berikutnya. Namanya juga udah ada niatan buat mencapai tujuan itu. Kalau nggak tercapai ya nggak masalah, tapi tetap terus berproses supaya terlihat progressnya. Contoh nih, aku sebenernya ingin banget nih bimbingan tesis di bulan ini. Tapi ternyata penelitianku belum cukup mumpuni karena kendala narasumber yang kurang atau ada kegiatan lainnya, and then 'Ok, Vid. This is rush, but still handle it. You have to wait until your datas complete'. Enggak papa, udah berprogres sampai wawancara di beberapa tempat dan dengan beberapa orang. Nggak perlu regret yang penting tetap terus berjalan.
  4. Dari insights juga jadi belajar bahwa, ada banyak hal baik yang dilakukan setiap harinya sekalipun itu adalah hari buruk buatmu. Take your hard time as your lessons that day. Tapi juga nggak perlu menolak perasaan burukmu, still keep it but soon leave it.
  5. Daily Routines. Habbits tracker ini bisa banget ngebantu buatku lebih sering melakukan rutinitas. Meskipun yaa rutinitasnya gitu-gitu aja, tapi jadi berasa kalau nggak ngelakuin ada aja hal yang kurang di hari itu. Contohnya adalah workout. Aku ngelakuin workout almost everyday sebenernya. Nah, kadang kalau nggak ngelakuin itu kayak ada yang kurang aja. Jadi ngerasa bersalah nggak kalau nggak ngelakuin itu? Ya kadang-kadang juga sih ngerasa salah, tapi yauda nggak papa. Mungkin di hari itu lagi perlu berjeda dulu buat istirahat. But you should back on your track again in the next day. Ngebantu biar bisa merutinkan hidup lebih baik lagi.
Tetiba ada yang nanya "kok bisa sih konsisten sampe segitunya buat ngejournaling?". Aku juga nggak sekonsisten itu kok. Kadang juga masih banyak bolongnya. Kalau bolong di beberapa hari, biasanya aku akan ngerapel journal dan remindering hal-hal yang udah aku lakuin di hari-hari yang udah terlewati. And I got that reminds with photos which I took or some messages that I got. Jadi, journalku jadi rapet lagi deh di hari-hari bolongnya. 

Ngejournalnya juga sesuai dengan kemampuan diri aja mau templatenya seperti apa. Di pinterest banyak banget contoh-contoh journal doodling yang lucu-lucu. Templatenya pun juga sesuaikan dengan kebutuhan diri. Kalau akau mood tracker, habits and insights is a must, karena ngebantu banget buat ngeremind perjalanan dari bulan ke bulan. 

"Buku journalnya harus seperti apa?" Aku pake buku yang kupunya aja, lalu aku corat coret sendiri dengan ala-ala. Biasanya aku emang selalu dapat buku-buku yang bisa dibuat journaling, jadi daripada beli-beli lagi, maka aku manfaatkan buku yang udah kupunya aja. Then, I also like to write about what I listened like podcast. I also join journaling class every month. Itu juga ngebantu banget buat ngeheal diri dengan mendengar cerita dari teman-teman yang lain.

So guys, setiap orang itu punya fase sulit masing-masing. Tapi, trust me kalau journaling bisa bikin diri lebih memaafkan diri sendiri, banyak bersyukur dengan apa yang udah kita lewati, lebih sadar bahwa nggak selamanya kita seburuk itu, dan tentu saja lebih mindfulness. 

"Bingung nih mau memulai journaling darimana" -- yang penting mulai aja dulu hal-hal yang disyukuri sehari-hari minimal 1 kalimat juga boleh. Setelahnya, pasti akan menemukan pola.

Jujur, ku tak pandai merangkai kata ilmiah. Tapi kalau udah bercerita dengan rangkaian kata harian udah ngalor ngidul nggak karuan. :)

Thanks anyway to read this.

see yaa!
-Vids-



Share: