7 November 2024

Rumah Mamak di Sebatik

Aku kembali membongkar foto di dalam ruang penyimpanan eksternalku tentang keluarga angkatku di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sudah sejak, 8 tahun silam aku belum pernah pulang kembali menjenguk mereka. Kami hanya bertegur sapa sesekali lewat pesan Whatsapp atau sesekali kami pun ber video call melepas rasa rindu. Setahun mungkin waktu yang sebentar kalau dilakukan dengan begitu asik, pun aku merasakannya.

Tapi ternyata, setahun itu tak cukup buatku mengenal lebih dekat dengan keluarga angkatku saat penempatan menjadi Pengajar Muda di pulau ini. Salah satu kesyukuranku saat ditugaskan di pulau Sebatik adalah tinggal bersama dengan keluarga angkat yang baiknya tiada tara, tidak pernah menuntut apapun dariku yang yaa boleh dibilang hanya menumpang hidup saja selama setahun.

Kembali diingatkan lagi di hari ini, 7 November 2024. Aku video call dengan adik-adik angkatku di sana, karena salah satu adikku menikah esok hari. Aku sudah dapat kabar dari Elin (adik bungsuku), bahwa Airin akan menikah di bulan ini. Inginku hadir, tapi ternyata tiket kembali ke sana cukuplah tidak bersahabat ditambah pun kerjaanku juga sedang menumpuk. Maka, aku pun tak dapat hadir melihat adikku Airin melangsungkan pernikahannya. 

Mamak Saminah dan Bapak Arifin sangatlah baik padaku saat aku tinggal setahun bersama mereka. Mamak Saminah adalah seorang guru agama di sekolah tempatku dulu bertugas. Dedikasinya besar buat pendidikan di daerahnya. Honorer yang kala itu sudah hampir 15 tahun lamanya mengajar di sekolah tersebut. Meskipun demikian, beliau tak pernah sekali pun mengeluh dan tetap mengajarkan anak muridnya yang muslim sekitar 50an anak. Maklum, kala itu mayoritas di sekolah penugasanku beragama Katholik meskipun memang sekolah negeri.

Sedikit cerita, dusun penempatanku merupakan salah satu dusun di Pulau Sebatik yang mayoritas warganya adalah transmigran dari Nusa Tenggara Timur yang pernah merantau di Malaysia. Lalu, mereka kembali ke Indonesia melalui pulau Sebatik dan akhirnya Bapak Tua membangun perkampungan yang disebut Kampung Lourdes. Sebuah kesyukuran juga karena aku pun dipertemukan dengan lingkungan yang sangat menjaga toleransi di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia ini.


Keluarga angkatku adalah salah satu keluarga dari 5 Kepala Keluarga muslim di kampung Lourdes ini. Kepala Sekolah tahu kalau yang akan bertugas perempuan, muslim dan berhijab maka, rumah Mamak Saminah lah yang akan menjadi tempatku bernaung selama bertugas di sana.

Aku mempunyai 4 adik angkat 3 perempuan dan 1 laki-laki. Airin, Asmi, Abang Totos, dan Elin. 


Airin si adik pertamaku di sana memang yang paling bertanggung jawab, mungkin karena anak pertama sama sepertiku. Saat selesai sekolah SMA, Airin selalu bilang "Aku bisa nggak ya seperti Kakak, melanjutkan sekolah lagi? Ingin bah kuliah". And Allah's Plan Airin berkuliah di jurusan kesehatan masyarakat di Makassar. Mamak sempat galau lalu menanyakan pendapatku "Adikmu itu pengen kuliah Pida. Tapi aku belum tega melepas kalau jauh-jauh". Aku meyakini bahwa Airin akan slalu berjuang dan bersemangat menyelesaikan apa yang dilakukannya. And here she is now. She grew well up. Bahkan ia sudah menemukan laki-laki yang akan mendampinginya insyaAllah seumur hidupnya. "Apa kabar kakaknya ini? Dilangkahi lagi!" Heheeh doakan yang terbaik, kalau memang belum ada jodoh mungkin memang masih diminta untuk terus belajar memperbaiki diri. Airin, selamat atas pernikahanmu. Rasanya sedih, belum bisa membersamai di hari bahagia Airin. Meskipun demikian, semoga doa-doa Kak Vida sampai yaaa 💕


Asmi si adik nomor dua. Paling unik dari yang lain tapi paling loyal sama Abang Totos. Dia paling berani maju terdepan kalau ada hal-hal yang bikin dia kesal. Asmi termasuka gadis tomboy dengan gayanya yang sangat seru dan kocak. Memang dibandingkan Airin dan Elin, paling susah diminta belajar yaaa si Asmi ini hehehh Meskipun begitu, ia yang paling diam-diam slalu ngasih perhatian. Seringnya dimasakin sama Asmi kalau Mamak nggak masak. Asmi, makasii yaa sudah jadi adik yang paling berani. Asmi hebat! 😊



Abang Totos adik nomor tiga. Kalau abang Totos juga perhatian dan lebih paham kalau aku lagi sedih. Seringnya, ia pun ikut sedih kalau aku sudah merasa lelah. Abang Totos si paling spesial tapi yang paling rame dan bahagia kalau semua turut bahagia. Sehat-sehat Abang Totoskuuu!


Elin si adik bungsu. Adik bungsu satu ini kalau dulu suka ngambekan. Mungkin sekarang sudah berubah karena sudah kelas XII. Paling cerewet, paling heboh, dan si paling suka hal-hal yang berbau seni semacam tari, membaca puisi, bernyanyi atau bermain peran. Yaaa meskipun suaranya cempreng, tapi harusnya sih bisa dong kalau vokalnya dilatih. Katanya ia pengen jadi guru Bahasa Indonesia atau Seni sesuai dengan kemampuan dan hobinya. 


Foto ini adalah perjalananku sama Mamak ke kota Tawau di Malaysia. Untung bawa paspor, jadi masih dapat stempel kota Tawau deh naik kapal feri yang cuman satu jam dari Nunukan. Kami berkeliling ke pasar lalu terminal dan menengok pelabuhan tempat kami pulang pergi. Kami bermalam di rumah saudara Mamak yang menetap di Tawau. Mungkin kalau Mamak nggak ngajakin, belum pernah pun aku menginjakkan kaki di kota yang jaraknya jauh dari Ibu Kota Malaysia ini, yang wilayahnya hanya dibatasi oleh laut Sulu dan Sulawesi. Rasanya masih belum puas pun berkunjung di kota Tawau ini. :)

Ahh.. kalau bercerita banyak hal tentang mereka rasanya rindu. Terima kasih Mama, Bapak, Airin, Asmi, Abang, dan Elin sudah slalu mengingatku dan menanyakan "kapan datang ke Sebatik? Itu adikmu bla bla bla... Itu Bapakmu bla bla bla" Aku merasakan punya keluarga di luar Jawa sana yang selalu menantikan kehadiranku kembali untuk pulang ke rumah.

I can't describe anything today. When I was on the phone and seeing Airin with her traditional Bugis Costume for Mapaci Ceremony (Bugis Ceremony), I was crying. Then Mamak asked me "Why are you not coming? And She was also crying and hoping I was there to celebrate Airin's day.
 
Terima kasih sudah merawatku dan mengajariku banyak hal dengan kesederhanaan. 


-vidahasan-
Share:

30 October 2024

Mindfulness With Journaling

Hey dear lovely people,

Long time noooo see after hmm many years? a yeas? 2 years? or 3 years? I think that I should go back to write about something here, right? heheh

By the way, kalau ditanya "Vids, ngapain aja sih nggak nongol-nongol buat nulis lagi?" Mau jawab "Kebanyakan bertapa di dalam goa, jadi lupa buat menuliskan banyak hal yang udah terlewati. Maleees amat jadinya" Heheh Doakan ini istiqomah kembali yaa buat menulis banyak hal yang udah dan akan terlewati. But anyway, I would write about something new and many reflections that I got for these years. Ini karena sebenernya adalah pelampiasan diri udah semacam nggak mau ngepost apapun di instagram and still left some memories there. :') Whyyy? Yaa karena jadi nggak fokus aja, sedangkan aku pengen fokus buat belajar menata kembali diri and then finish my masteeer! OMG :")

So, lovely people,
Here, I want to share you something about the magic of writing by journaling. It makes really incredible moments that I got. So, let me to tell you about that magical things. 

Sebenernya, aku udah lama melakukan journaling ternyata. Since, I was kid 10 years old. Tapi, dulu dikenal dengan yang namanya diary. Dari diary itu pun jadi belajar banyak hal dan bikin mesam mesem sendiri pas dibaca-baca lagi. Jangan ditanya, bukunya masih ada? Hmmm... I forgot where those were going. But, may be my mom threw them anyway somewhere else. And may be, many people read my randomly curcol on my diaries. HAHAH (and yauda sih. Whatever!).

From diary then I was going to this blog. Kayaknya dulu hampiiir banget tiap hari nulis hal-hal konyol deh. Pokoknya nulis aja gitu, mau pake bahasa non formal lah sok-sokan Inggris lah atau bahasa gaul sekalipun. Tapi yaa mohon maap, kalau diminta menulis pake bahasa ilmiah masih ampun, bukan anak researcher yang formal banget soalnya. So, don't ask me anyway about "Vids, which methods are you using from this research? Theories? Conclusions? anything else?" Enggak, enggak mampu! Bukan anak teoritical, just want execute it. Hihihi

Well back to on my stories deh about journaling. 

 Guys, as you know, buatku pribadi journaling itu adalah healing untuk diri sendiri. Dari journaling belajar banyak hal dan berefleksi diri. Sudah sejak sekitar entah kapan sebenernya melakukan journaling. Tapi, untuk selalu menjadikan bahan refleksi memang udah sekitar 3-4 tahunan ini. Ada beberapa manfaat yang aku dapatkan dari aku ngejournal setiap hari:

  1. Lebih mindfulness. Kenapa mindfulness. Di buku journal ini aku menuliskan beberapa hal terkait mood tracker, habits, to do list, goals, and insights. Dari menuliskan mood tracker kita, kita jadi tau loh seberapa banyaknya mood kita nggak baik. Nah, dari nggak baik itu bisa dicari tau juga kenapa sih bisa nggak baik? Kita bisa menuliskan alasan dan solusi dari hal-hal nggak baik yang kita dapat di hari itu. Makanya, sebenernya kita tau ada sebab dan akibat yang kita lakuin. Dari sebab itu, akibatnya misal kerjaan kita jadi nggak selesai, stress dan akhirnya nggak mencapai tujuan yang diinginkan.
  2. Time management. Dari to do list yang dibuat, kita bisa ngebagi waktu sebenernya. Hal-hal apa aja yang perlu kita prioritaskan di hari itu dan yang bisa kita lakuin nyicil di hari itu. Jadi, nggak semua hal mesti kita kerjakan di hari yang sama. Kalau atasan kita minta diselesaikan di hari itu, sebenernya kita bisa sampaikan bahwa kita ada agenda yang perlu diselesaikan juga di hari yang sama. So, it's okay buat bilang "Sebentar ya Pak/Bu. Saya selesaikan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, setelahnya akan saya kerjakan. Diusahakan hari ini. Kalau tidak hari ini, paling lambat kemungkinan besok." Say it frankly. Jadi lebih belajar berkomunikasi dan menyampaikan hal yang jujur aja, jadi sama-sama nyaman kan? :)
  3. Self control emotions. Boleh kita menuliskan capaian yang ingin dicapai di setiap bulan. Tapi, seringkali kalau capaian itu nggak tercapai yaa nggak masalah. Kita tuliskan lagi aja terus di bulan berikutnya. Namanya juga udah ada niatan buat mencapai tujuan itu. Kalau nggak tercapai ya nggak masalah, tapi tetap terus berproses supaya terlihat progressnya. Contoh nih, aku sebenernya ingin banget nih bimbingan tesis di bulan ini. Tapi ternyata penelitianku belum cukup mumpuni karena kendala narasumber yang kurang atau ada kegiatan lainnya, and then 'Ok, Vid. This is rush, but still handle it. You have to wait until your datas complete'. Enggak papa, udah berprogres sampai wawancara di beberapa tempat dan dengan beberapa orang. Nggak perlu regret yang penting tetap terus berjalan.
  4. Dari insights juga jadi belajar bahwa, ada banyak hal baik yang dilakukan setiap harinya sekalipun itu adalah hari buruk buatmu. Take your hard time as your lessons that day. Tapi juga nggak perlu menolak perasaan burukmu, still keep it but soon leave it.
  5. Daily Routines. Habbits tracker ini bisa banget ngebantu buatku lebih sering melakukan rutinitas. Meskipun yaa rutinitasnya gitu-gitu aja, tapi jadi berasa kalau nggak ngelakuin ada aja hal yang kurang di hari itu. Contohnya adalah workout. Aku ngelakuin workout almost everyday sebenernya. Nah, kadang kalau nggak ngelakuin itu kayak ada yang kurang aja. Jadi ngerasa bersalah nggak kalau nggak ngelakuin itu? Ya kadang-kadang juga sih ngerasa salah, tapi yauda nggak papa. Mungkin di hari itu lagi perlu berjeda dulu buat istirahat. But you should back on your track again in the next day. Ngebantu biar bisa merutinkan hidup lebih baik lagi.
Tetiba ada yang nanya "kok bisa sih konsisten sampe segitunya buat ngejournaling?". Aku juga nggak sekonsisten itu kok. Kadang juga masih banyak bolongnya. Kalau bolong di beberapa hari, biasanya aku akan ngerapel journal dan remindering hal-hal yang udah aku lakuin di hari-hari yang udah terlewati. And I got that reminds with photos which I took or some messages that I got. Jadi, journalku jadi rapet lagi deh di hari-hari bolongnya. 

Ngejournalnya juga sesuai dengan kemampuan diri aja mau templatenya seperti apa. Di pinterest banyak banget contoh-contoh journal doodling yang lucu-lucu. Templatenya pun juga sesuaikan dengan kebutuhan diri. Kalau akau mood tracker, habits and insights is a must, karena ngebantu banget buat ngeremind perjalanan dari bulan ke bulan. 

"Buku journalnya harus seperti apa?" Aku pake buku yang kupunya aja, lalu aku corat coret sendiri dengan ala-ala. Biasanya aku emang selalu dapat buku-buku yang bisa dibuat journaling, jadi daripada beli-beli lagi, maka aku manfaatkan buku yang udah kupunya aja. Then, I also like to write about what I listened like podcast. I also join journaling class every month. Itu juga ngebantu banget buat ngeheal diri dengan mendengar cerita dari teman-teman yang lain.

So guys, setiap orang itu punya fase sulit masing-masing. Tapi, trust me kalau journaling bisa bikin diri lebih memaafkan diri sendiri, banyak bersyukur dengan apa yang udah kita lewati, lebih sadar bahwa nggak selamanya kita seburuk itu, dan tentu saja lebih mindfulness. 

"Bingung nih mau memulai journaling darimana" -- yang penting mulai aja dulu hal-hal yang disyukuri sehari-hari minimal 1 kalimat juga boleh. Setelahnya, pasti akan menemukan pola.

Jujur, ku tak pandai merangkai kata ilmiah. Tapi kalau udah bercerita dengan rangkaian kata harian udah ngalor ngidul nggak karuan. :)

Thanks anyway to read this.

see yaa!
-Vids-



Share: