Hai!
Lama yaa tak bersua menorehkan goresan kata di setiap lembar halaman.
Kalau dibilang sibuk, tidak juga. Hanya, rasanya banyak sekali pikiran yang sering bercengkerama sendiri. Padahal, dengan menuliskannya bisa jadi wadah untuk bisa refleksi bukan?
Kali ini, aku ingin menuliskan catatan tentang diri sendiri. Disclaimer. Bukan bermaksud untuk jumawa, tapi catatan ini jadi salah satu tahap pembelajaranku, hingga menjadi seorang Vida yang sekarang ini. Kenapa begitu? Tentu saja, Vida di 20 tahun yang lalu jelas jauuh sangat berbeda dengan Vida yang sekarang ini. Di setiap jeda waktu, slalu mendalami proses yang panjang. Enggak mudah, tapi tetap terus mengupayakan dan mengusahakan.
Guys, percayalah. Vida yang dulu selalu minder, nggak percaya diri, slalu overthinking and always asked herself (what if...). Padahal pertanyaan what if itu jadi boomerang diri sendiri, karena masih takut akan kekhawatiran-kekhawatiran yang terjadi. Padahal bisa aja kalau di fight ya akan tetap bisa dilaluinya dengan baik bukan?
Ngobrolin tentang self improvement sendiri, aku justru banyak sekali bersyukur karena tumbuh di lingkungan yang saling pembelajar. Makanya, nggak perlu heran kalo ada yang nanya
"Kok kamu senang belajar sih?"
Belajar itu buatku jadi satu kebutuhan hidup. Bukan karena masih single, even if you're married you also have to learn, right? Bahkan proses mengenal setelah menikah itu juga sangaaat panjang. Kalau nggak mau melewati proses belajar yaaa ngapain hidup, bukan? Hidup segan, mati pun tak mau.
Dulu mah awalnya nggak ada keyakinan sama sekali buat terbang ke Deutschland. Berasa yaudah cuman mimpi aja, nggak bakal kemana-mana juga. Tapi di satu sisi kalo inget kata kunci dari Bapake "Vid, FOKUS!" Maka, Kun Fayakun. Tak ada daun yang gugur atas izin-Nya. Kalau memang sudah seizin-Nya, itu juga akan terjadi juga. Nah, proses self improvement di sini pun menjadi tumbuh karena kita belajar untuk memimpin diri sendiri demikian:
- How to take the responsibility
- How to adaptable
- How to make a decision
- How to make things up
- How to manage your financial by yourself
- How to manage your time, your work (work life balance)
Daaann masih banyak lagi yang perlu dipelajari untuk bisa self improvement.
Kalau boleh dibilang gimana mengambil tanggung jawab? Poinnya adalah, aku nggak mau ngerepotin Ibu Bapak lagi. Ini udah jadi pilihanku, yaaa berarti aku harus bisa bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Meski balik lagi kalo kata Bapak "Kamu masih dalam pengawasan Bapak, Vida!" But, it's not like he thought. I take my responsibility, because I lived far away from my parents saat itu. Kalau dikata orang:
"Vida enak yaa hidup di Jerman, jalan-jalan teruuus"
Guys, I worked there. I should take the responsibility of my self. No one can disturb. Masa mau orang lain yang tanggung jawab? Nggak mungkin kan? Belajar untuk tanggung jawab atas hidup sendiri emang nggak mudah, tapi tetap terus mengupayakan. Maka, keyword nya yaaa "LEARN".
"Again! If you would then you can! Kamu tuh mampu kalau kamu mau" bedakan sama "INGIN" yaaa. Jelas itu jauh sekali. Ingin itu yaa cuman terbayang-bayang aja dan kurang ada tindakannya, tapi kalau MAU yaa kamu akan bisa fokus karena kamu punya target buat mencapai itu, menurutku demikian.
Jerman itu negara yang sangat maju, tentu saja beda jauh dengan Indonesia. Di sana, orang slalu mengusahakan banyak hal supaya bisa bertahan hidup. Ketepatan waktunya itu sungguh sangat diacungin jempol, kalau kita nggak bisa ngikutin ritme mereka yaa Wassalam (ini berlaku untuk semua negara maju di Eropa yaa tidak hanya di Jerman aja). Pernah suka dibilang kalau "Orang Asia itu kerjanya lelet, terutama Indonesia" Yaa beneer juga dan nggak salah. Makanya, di situ aku coba belajar buat tanggung jawab dan membuktikan kalau nggak semua orang Indonesia itu kerjanya lelet dan malas. See? Belajar lagi kan jadinya how to manage the time!
Percayalah, mereka kalau nggak suka sama orang akan bener-bener secara profesional menyampaikan ketidaksukaan cara kerja kita. Kalau salah yaudah emang salah, kamu udah nggak bisa defens kecuali kalau kamu punya cukup evidences buat nyampein itu. Kalau nggak, yauda emang udah salah aja. Tapi, setelah itu yaa akan balik kayak biasanya di luar keprofesionalitasan mereka. Atau hal lainnya saat dikasih tau tentang sikap kita ya mereka juga akan jujur menyampaikan itu, asalkan itu memang untuk kebaikan kita. Dan kita? No baper baper club pokoknya. Nah, ini belajar memahami konsep mengelola hati. We just have to say thank you and never do that again!
Insights-nya selama aku berada di Jerman hal-hal yang bisa menjadi diriku berkembang:
- Independent dalam pengambilan keputusan. Teteg. Kalau iya ya iya, kalau nggak ya nggak. Ini soalnya pernah dibilang sama salah seorang kollega begini "Aku tidak suka dengan orang yang plin plan. Saat dia bisa mengambil dan memutuskan sesuatu yauda dilaksanakan. Kalau suka ya bilang kalau nggak suka ya juga bilang. Iya iya, nggak nggak". Kalau masih kepikiran "Aku takut apa yang aku putuskan jadi salah". Itu sudah jadi konsekuensi, maka dari situ jadi belajar untuk bisa bertanggung jawab. Tapi tetep meskipun demikian, aku masih bisa mendengar pendapat orang lain sebagai upaya untuk pengambilan keputusan tersebut;
- Time management mengelola waktu itu jadi satu hal yang wajib supaya saat mau melakukan aktivitas selanjutnya nggak keteteran. Ah kalo dibilang "Di Indonesia nggak akan bisa dengan itu karena udah jadi budaya tentang terlambat" Kubilang salah besar sih. Makanya, jangan membudayakan hal-hal yang kurang baik yang bisa jadi itu merugikan orang lain. Kalau janjian jam segitu yaudah datang tepat waktu jam segitu, kalau pun telat yaa minimal berkabar atas keterlambatannya. Kalau nggak ada kabar, hmmm tak ada toleransi apa pun. Trust me! Orang-orang di negara maju sangat menghargai waktu sekali, buat mereka waktu itu adalah rezeki kalau pintar mengelolanya akan menjadi kelimpahan;
- Respect. Kalau kita mau dihargai oleh orang lain yaa kita wajib juga respect sama mereka. Aku slalu percaya bahwa dimanapun kita berada, kita akan slalu bertemu dengan orang-orang baik. Tergantung bagaimana kita respect sama orang lain tersebut. Dengerin saat mereka sedang berbicara, memahami apa yang diperlukannya, merespon kalau memang dia butuh respon dari kita. Mereka sangat respect juga sama kita, kalau kita juga respect ke mereka.
By the way, barangkali ini menjadi catatan self improvement pertamaku berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah aku lalui selama ini. Bagi sebagian orang mempertahankan prinsip itu idealis, tapi bagiku kalau memang prinsip itu bisa baik untuk diri sendiri dan orang lain, why not? Masih banyak hal-hal yang jadi bikin aku semangat belajar selain memang kebutuhan dan lingkungan bertumbuh itu. Jadi, saat kamu punya lingkungan yang mengajakmu untuk terus bertumbuh itu take it for granted. Minder? Itu pasti. Tapi, tau posisi diri dengan melangkah maju itu jadi satu pilihan yang tepat juga. Karena kalo kita bisa bertumbuh, lingkungan itu akan selalu mendukung.
Fly higher!
Terima kasih sudah membaca.
~vidahasan~
Kebanyakan orang menganggap dirinya nggak mampu
Padahal semua orang itu ya mampu asalkan dia mau
