Well, guys!
Meski beberapa minggu ini terlalu resah dengan kejadian-kejadian yang ada di negeri ini, mau diam aja tapi ternyata rasanya tetap terus bergejolak. Ingin sekali melakukan sesuatu, tapi nyatanya memang belum bisa kecuali menulis catatan ini sebagai pengingat diri. Bahwa saat ini kita sedang hidup dalam kecarut marutan keserakahan penguasa negeri kita sendiri.
Beberapa waktu lalu pernah pasang keresahan dengan menuliskan demikian "untuk bisa bertahan sebagai seorang idealis di negeri ini, ternyata tidak mudah". Lalu, salah seorang mentorku merespon pernyataan tersebut "nggak susah kok kalau menemukan teman yang tepat". Maka berceritalah aku dengan segala keresahan-keresahan. She reminded me that Indonesia pun tak kekurangan orang baik. Masih ada kok orang-orang yang menjaga kewarasannya itu. And you'll find them in your path.
Keresahanku berawal dari beberapa orang yang sering berkoar-koar di publik masuk ke "dalam sistem" dan warga percaya dengan public figure tersebut. Ada rasa sedih, kecewa bahkan marah tentu saja. Tapi, apakah kita hanya sebatas mengutarakan rasa tersebut? So, what should we do now? Perbaikan pasca banjir bandang di Aceh belum usai, lalu Karhutla yang semakin meraja lela, MBG yang tidak pernah ada inspeksi dan perbaikan, nilai rupiah yang anjlog. Ah, capek yaa selalu mendengar berita yang tidak baik di negeri ini.
Lalu apa yang sudah dilakukan oleh penguasa? Tidak ada pergerakan dan hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Enggak apa kan meragukan pemimpin sendiri? Dari cara dia menyampaikannya saja sudah tidak beraturan dan kemana-mana, yang dipertahankan hanyalah ego, kekuasaan, kerakusan dan ketamakan. (Jahat sekali bilang begini). Tapi, menurut pengamatanku seorang warga biasa yang hanya bisa menuliskan catatan ini.
Kebijakan apa yang sudah dibuat oleh Pemerintah atas kejadian-kejadian yang terjadi sekarang ini? Belum ada pergerakan sama sekali terlihat pun tidak. Sama saja ingin mematikan warga dengan pelan-pelan. Sistem sekarang perlu diubah, pun tidak hanya sistemnya, tapi orang-orang yang ada di dalamnya.
Diskusi dengan mentorku saat itu lagi-lagi membuka pandangan lebih luas bahwa jika suatu sistem di negara itu sudah bobrok maka yang perlu dilakukan adalah Reboot and Reset. Sistem akan kebentuk dengan baik apabila pemimpin tersebut sudah sejak awal mempunyai idealisme dan konsep bernegara. Nah, pemimpin yang satu ini tidak ada idealismenya sama sekali karena dia punya kepentingan yang menguntungkan dirinya bukan rakyatnya. Kalau ditanya "emang kepentingan apa?" Yuklah mari kita cari kepentingan yang dia punya kenapa bisa sampai sangat ngotot sekali pengen jadi pemimpin negara ini.
I thought, that you'll find something unique about what "they" did to us. So, what you wanna do right now, Vid? I'm not anybody, so I can't fix the policies. But, there's somethi I can do, is just speak up!
Nyatanya, kebakaran hutan yang terjadi saat ini dia tutup mata tidak ada pergerakan sama sekali. Ah atau mungkin aku yang apatis karena tidak terlihat jelas hal yang dilakukan oleh pemerintah pusat saat ini. Baru kali ini rasanya menjadi WNI sekhawatir ini karena pemerintah yang tak jelas arah kebijakannya seperti apa. "Udah nggak perlu dipikir, capek ntar!". How could I just silent, if the news always come around my mind and my homepage in social media? Hidup dengan kabut alami itu it's okay, tapi ini adalah kabut asap yang bisa menyebabkan banyak penyakit. Sedangkan pemerintahnya gonta-ganti nge reshuffle pejabat, pergi ke luar negeri yang entahlah apa yang dilakukan, dan masih banyak hal lain yang abstrak mungkin yang dilakukan.
Well yeah! "nggak boleh semarah itu Vid" Am I not allowed to be angry? Am I not allowed to be disappointed with this sick people?
Besides on kebakaran hutan. Belum lagi yang tidak ada evaluasi terkait MBG yang saat ini sedang berjalan. I'm pretty sure sih, kalau ada audit kena semuanya. Capek yaa Vid!
Ah sebegininya mikirin pemerintah negeri ini. Once more, negara dalam artian kata benda itu tidak bisa disalahkan. Tapi, orang-orang yang menganggap "negarawan"lah yang perlu dikroscek ulang lagi.
Jangan pernah lelah mencintai Indonesia (as a noun).
-vidahasan-
Mungkin saat ini langitnya sudah tak biru lagi seperti dulu
-Kaltara, 2016-




