30 September 2026

Self Improvement (1)

Hai!

Lama yaa tak bersua menorehkan goresan kata di setiap lembar halaman.
Kalau dibilang sibuk, tidak juga. Hanya, rasanya banyak sekali pikiran yang sering bercengkerama sendiri. Padahal, dengan menuliskannya bisa jadi wadah untuk bisa refleksi bukan?

Kali ini, aku ingin menuliskan catatan tentang diri sendiri. Disclaimer. Bukan bermaksud untuk jumawa, tapi catatan ini jadi salah satu tahap pembelajaranku, hingga menjadi seorang Vida yang sekarang ini. Kenapa begitu? Tentu saja, Vida di 20 tahun yang lalu jelas jauuh sangat berbeda dengan Vida yang sekarang ini. Di setiap jeda waktu, slalu mendalami proses yang panjang. Enggak mudah, tapi tetap terus mengupayakan dan mengusahakan.

Guys, percayalah. Vida yang dulu selalu minder, nggak percaya diri, slalu overthinking and always asked herself (what if...). Padahal pertanyaan what if itu jadi boomerang diri sendiri, karena masih takut akan kekhawatiran-kekhawatiran yang terjadi. Padahal bisa aja kalau di fight ya akan tetap bisa dilaluinya dengan baik bukan?

Ngobrolin tentang self improvement sendiri, aku justru banyak sekali bersyukur karena tumbuh di lingkungan yang saling pembelajar. Makanya, nggak perlu heran kalo ada yang nanya 

"Kok kamu senang belajar sih?" 

Belajar itu buatku jadi satu kebutuhan hidup. Bukan karena masih single, even if you're married you also have to learn, right? Bahkan proses mengenal setelah menikah itu juga sangaaat panjang. Kalau nggak mau melewati proses belajar yaaa ngapain hidup, bukan? Hidup segan, mati pun tak mau.

Dulu mah awalnya nggak ada keyakinan sama sekali buat terbang ke Deutschland. Berasa yaudah cuman mimpi aja, nggak bakal kemana-mana juga. Tapi di satu sisi kalo inget kata kunci dari Bapake "Vid, FOKUS!" Maka, Kun Fayakun. Tak ada daun yang gugur atas izin-Nya. Kalau memang sudah seizin-Nya, itu juga akan terjadi juga. Nah, proses self improvement di sini pun menjadi tumbuh karena kita belajar untuk memimpin diri sendiri demikian:
  1. How to take the responsibility
  2. How to adaptable
  3. How to make a decision
  4. How to make things up
  5. How to manage your financial by yourself
  6. How to manage your time, your work (work life balance)
Daaann masih banyak lagi yang perlu dipelajari untuk bisa self improvement.

Kalau boleh dibilang gimana mengambil tanggung jawab? Poinnya adalah, aku nggak mau ngerepotin Ibu Bapak lagi. Ini udah jadi pilihanku, yaaa berarti aku harus bisa bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Meski balik lagi kalo kata Bapak "Kamu masih dalam pengawasan Bapak, Vida!" But, it's not like he thought. I take my responsibility, because I lived far away from my parents saat itu. Kalau dikata orang:

"Vida enak yaa hidup di Jerman, jalan-jalan teruuus" 

Guys, I worked there. I should take the responsibility of my self. No one can disturb. Masa mau orang lain yang tanggung jawab? Nggak mungkin kan? Belajar untuk tanggung jawab atas hidup sendiri emang nggak mudah, tapi tetap terus mengupayakan. Maka, keyword nya yaaa "LEARN".

"Again! If you would then you can! Kamu tuh mampu kalau kamu mau" bedakan sama "INGIN" yaaa. Jelas itu jauh sekali. Ingin itu yaa cuman terbayang-bayang aja dan kurang ada tindakannya, tapi kalau MAU yaa kamu akan bisa fokus karena kamu punya target buat mencapai itu, menurutku demikian.

Jerman itu negara yang sangat maju, tentu saja beda jauh dengan Indonesia. Di sana, orang slalu mengusahakan banyak hal supaya bisa bertahan hidup. Ketepatan waktunya itu sungguh sangat diacungin jempol, kalau kita nggak bisa ngikutin ritme mereka yaa Wassalam (ini berlaku untuk semua negara maju di Eropa yaa tidak hanya di Jerman aja). Pernah suka dibilang kalau "Orang Asia itu kerjanya lelet, terutama Indonesia" Yaa beneer juga dan nggak salah. Makanya, di situ aku coba belajar buat tanggung jawab dan membuktikan kalau nggak semua orang Indonesia itu kerjanya lelet dan malas. See? Belajar lagi kan jadinya how to manage the time!

Percayalah, mereka kalau nggak suka sama orang akan bener-bener secara profesional menyampaikan ketidaksukaan cara kerja kita. Kalau salah yaudah emang salah, kamu udah nggak bisa defens kecuali kalau kamu punya cukup evidences buat nyampein itu. Kalau nggak, yauda emang udah salah aja. Tapi, setelah itu yaa akan balik kayak biasanya di luar keprofesionalitasan mereka. Atau hal lainnya saat dikasih tau tentang sikap kita ya mereka juga akan jujur menyampaikan itu, asalkan itu memang untuk kebaikan kita. Dan kita? No baper baper club pokoknya. Nah, ini belajar memahami konsep mengelola hati. We just have to say thank you and never do that again!

Insights-nya selama aku berada di Jerman hal-hal yang bisa menjadi diriku berkembang:
  1. Independent dalam pengambilan keputusan. Teteg. Kalau iya ya iya, kalau nggak ya nggak. Ini soalnya pernah dibilang sama salah seorang kollega begini "Aku tidak suka dengan orang yang plin plan. Saat dia bisa mengambil dan memutuskan sesuatu yauda dilaksanakan. Kalau suka ya bilang kalau nggak suka ya juga bilang. Iya iya, nggak nggak". Kalau masih kepikiran "Aku takut apa yang aku putuskan jadi salah". Itu sudah jadi konsekuensi, maka dari situ jadi belajar untuk bisa bertanggung jawab. Tapi tetep meskipun demikian, aku masih bisa mendengar pendapat orang lain sebagai upaya untuk pengambilan keputusan tersebut;
  2. Time management mengelola waktu itu jadi satu hal yang wajib supaya saat mau melakukan aktivitas selanjutnya nggak keteteran. Ah kalo dibilang "Di Indonesia nggak akan bisa dengan itu karena udah jadi budaya tentang terlambat" Kubilang salah besar sih. Makanya, jangan membudayakan hal-hal yang kurang baik yang bisa jadi itu merugikan orang lain. Kalau janjian jam segitu yaudah datang tepat waktu jam segitu, kalau pun telat yaa minimal berkabar atas keterlambatannya. Kalau nggak ada kabar, hmmm tak ada toleransi apa pun. Trust me! Orang-orang di negara maju sangat menghargai waktu sekali, buat mereka waktu itu adalah rezeki kalau pintar mengelolanya akan menjadi kelimpahan;
  3. Respect. Kalau kita mau dihargai oleh orang lain yaa kita wajib juga respect sama mereka. Aku slalu percaya bahwa dimanapun kita berada, kita akan slalu bertemu dengan orang-orang baik. Tergantung bagaimana kita respect sama orang lain tersebut. Dengerin saat mereka sedang berbicara, memahami apa yang diperlukannya, merespon kalau memang dia butuh respon dari kita. Mereka sangat respect juga sama kita, kalau kita juga respect ke mereka.
By the way, barangkali ini menjadi catatan self improvement pertamaku berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah aku lalui selama ini. Bagi sebagian orang mempertahankan prinsip itu idealis, tapi bagiku kalau memang prinsip itu bisa baik untuk diri sendiri dan orang lain, why not? Masih banyak hal-hal yang jadi bikin aku semangat belajar selain memang kebutuhan dan lingkungan bertumbuh itu. Jadi, saat kamu punya lingkungan yang mengajakmu untuk terus bertumbuh itu take it for granted. Minder? Itu pasti. Tapi, tau posisi diri dengan melangkah maju itu jadi satu pilihan yang tepat juga. Karena kalo kita bisa bertumbuh, lingkungan itu akan selalu mendukung.

Fly higher!

Terima kasih sudah membaca.

~vidahasan~


Kebanyakan orang menganggap dirinya nggak mampu
Padahal semua orang itu ya mampu asalkan dia mau



Share:

5 January 2025

WORK - LIFE BALANCE

Hey good people,

What's going on now? Sepertinya, aku akan mulai kembali menulis minimal seminggu sekali untuk merelease kejadian mingguan yang aku alami. Barangkali pun aku akan menuliskan insights yang aku dapatkan di setiap minggunya. Sepertinya seru untuk dibagikan.

Minggu pertama di tahun 2025 aku belajar kembali mengatur Work-Life Balance. Why? Nggak semua orang harus bisa mengikuti ritme orang lain, karena kita juga berhak buat melakukan hal-hal yang kita suka di luar hari kerja kita. And that's our choices. 

"Kok enak banget? Kok gitu banget?", 

Well sudah saatnya kita perlu mewaraskan diri kita agar tidak terjebak dalam pekerjaan yang berlarut-larut. Karena, itu nggak baik buat diri kita sendiri.

"Tapi kita bekerja untuk orang lain. Tapi, kita juga senang melakukannya" 

Yaa, as far as you like it, then do! Tapi, nggak semua orang kan bisa buat ngikutin itu? :) "Tapi kalau itu really urgent gimana?" Tetap diliat urgent itu seperti apa. Apakah itu prioritas banget atau masih bisa menjadi prioritas aja. And we control it! 
 
For me as a person, Work-Life balance itu perlu banget karena menjaga kestabilan emosi kita. Selama ini, meskipun pekerjaanku banyak terutama yang berkutat ke masyarakat, aku perlu mempertimbangakn diriku sendiri. Kalau aku dalam kondisi tidak baik, aku perlu menyendiri dan menjauh dari banyak orang. Kalau aku nggak melakukan hal tersebut, khawatir orang yang ada di sekitarku yang akan menjadi dampak kurang baik.

Because, we know ourself better kan? Jadi, kita perlu membuat mitigasi buat diri kita sendiri. Nah, pentingnya punya rekan kerja yang paham kita itu sangat membantu diri kita banget dalam kondisi yang demikian. Kadang, ia yang akan menggantikan posisi kita kalau kondisi kita sedang nggak baik. Tapi, kita tetap perlu menginformasikan dulu permasalahannya, sehingga ia bisa paham dengan kondisi tersebut.

Untuk menerapkan Work-Life balance, aku menerapkan dengan metodeku sendiri, yaitu:
  1. Weekend no laptop for work! Kalau nggak urgent banget aku nggak akan membuka dokumen untuk urusan pekerjaan atau bahkan laptop. Aku punya prioritas lain, di luar pekerjaanku. For example: aku melanjutkan mengerjakan tesisku, menulis, membaca, olahraga, baking time atau kumpul dengan keluarga, ikutan race, dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa aku lakukan di saat weekend.
  2. Priority scale! Bikin skala prioritas yang mau dikerjakan dulu, terutama saat weekdays atau hari kerja. Seumpama kerjaan itu datang di hari Sabtu, sampaikan bahwa apakah bisa dilakukan di hari Senin atau nggak? Bilang aja, ada agenda lain yang perlu dilakukan di weekend atau punya skala prioritas yang lain. Tapi, saat hari Senin tiba, jadikan kerjaan yang datang di hari Sabtu itu paling atas buat diselesaikan yaa. 
  3. To do list! Nah ini penting banget sih. Aku biasanya ngelakuin cuman di hari kerja supaya nggak lupa apa yang mesti dikerjakan dulu. Setelah selesai baru bisa conteng check list nya dan itu bikin bahagia. Berasa semua kerjaan itu udah diselesaikan, meskipun padahal juga masih banyak kerjaan yang perlu dikerjakan. Tapi, karena udah menentukan skala prioritas itu jadi kebantu dan akhirnya nggak overwhelmed.
  4. Respect to others! Kuncinya ini, kalau kita nggak mau diganggu saat hari libur, ya kita juga nggak ngeganggu yang lainnya buat ngelakuin kerjaan itu. Paham sih, biar nggak lupa atau memang lagi diperlukan banget tapi tetep with permission sih kalau kataku. Minimal dengan bilang "Maaf yaa ngeganggu waktu weekendnya atau cutinya. Tapi biar nggak lupa dikirim sekarang... dan bla bla lainnya". Ini tanda bahwa kita respect sama orang yang dia bener-bener lagi pengen punya waktu bareng sama keluarganya.
  5. Say No! Jujur ini susah buat people pleaser like me. Tapi, sekarang aku lebih bisa menerapkan karena aku tau prioritas yang aku bangun di diriku sendiri. Enggak semua hal harus kita iyakan, tapi tetap bisa dipilah mana yang perlu kita bilang tidak dan iya dalam kondisi tertentu. Tapi, jangan keterusan yaa. Why? Karena kalau kita pun banyak kerjaan, yaa ngapain bilang iya kalau itu nggak wajib buat kita kerjain di waktu yang bersamaan? Ingat, you are not a robot, you're just a human.
  6. Draw a line in the sands! Ini sering terjadi kalau kerjaan kita numpuk, karena kita nggak bisa ngebatasin itu. Multitasking itu perlu, tapi kalau berlebihan waaah bisa sakit mental. Beberapa ada yang lebih senang push their limits buat challenge mereka. Tapi, pelan-pelan yaaa kalau mau melakukan tantangannya itu. Ada saatnya dimana kamu bisa push your limits kok, nggak perlu ngoyo. Because everyone has their limits. 
  7. Doing your hobbies! Biar bisa bahagia dan punya energi buat menghadapi segala hal di luar hobi kita ini. 
So, good people. Kadang aku pun ngerasa "Aku egois banget nggak ya dengan melakukan hal-hal demikian?" Tapi aku juga perlu, supaya aku bisa menyeimbangkan segala hal yang ada di tubuhku baik secara lahir maupun batin. Burn out ku sendiri terjadi saat bersamaan kerjaan menumpuk dan harus menyelesaikan tesisku yang harus diselesaikan ini. But, it's okay! While I'm doing this, I have to make it mindfulness [I tried and still try]. 

One of important things that you should do is just being you, good people! Kita hanya mengupayakan yang baik untuk diri kita supaya baik juga ke orang lain, meskipun memang belum tentu juga itu terjadi. Tapi kita perlu mengupayakan kesehatan kita lebih dulu. It's not about "ah gitu aja cemen" tapi perlu bener-bener menyeimbangkan dari yang terlihat maupun nggak terlihat di orang lain yaa..

Thanks for reading good people!

-vidahasan-


Share:

7 November 2024

Rumah Mamak di Sebatik

Aku kembali membongkar foto di dalam ruang penyimpanan eksternalku tentang keluarga angkatku di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sudah sejak, 8 tahun silam aku belum pernah pulang kembali menjenguk mereka. Kami hanya bertegur sapa sesekali lewat pesan Whatsapp atau sesekali kami pun ber video call melepas rasa rindu. Setahun mungkin waktu yang sebentar kalau dilakukan dengan begitu asik, pun aku merasakannya.

Tapi ternyata, setahun itu tak cukup buatku mengenal lebih dekat dengan keluarga angkatku saat penempatan menjadi Pengajar Muda di pulau ini. Salah satu kesyukuranku saat ditugaskan di pulau Sebatik adalah tinggal bersama dengan keluarga angkat yang baiknya tiada tara, tidak pernah menuntut apapun dariku yang yaa boleh dibilang hanya menumpang hidup saja selama setahun.

Kembali diingatkan lagi di hari ini, 7 November 2024. Aku video call dengan adik-adik angkatku di sana, karena salah satu adikku menikah esok hari. Aku sudah dapat kabar dari Elin (adik bungsuku), bahwa Airin akan menikah di bulan ini. Inginku hadir, tapi ternyata tiket kembali ke sana cukuplah tidak bersahabat ditambah pun kerjaanku juga sedang menumpuk. Maka, aku pun tak dapat hadir melihat adikku Airin melangsungkan pernikahannya. 

Mamak Saminah dan Bapak Arifin sangatlah baik padaku saat aku tinggal setahun bersama mereka. Mamak Saminah adalah seorang guru agama di sekolah tempatku dulu bertugas. Dedikasinya besar buat pendidikan di daerahnya. Honorer yang kala itu sudah hampir 15 tahun lamanya mengajar di sekolah tersebut. Meskipun demikian, beliau tak pernah sekali pun mengeluh dan tetap mengajarkan anak muridnya yang muslim sekitar 50an anak. Maklum, kala itu mayoritas di sekolah penugasanku beragama Katholik meskipun memang sekolah negeri.

Sedikit cerita, dusun penempatanku merupakan salah satu dusun di Pulau Sebatik yang mayoritas warganya adalah transmigran dari Nusa Tenggara Timur yang pernah merantau di Malaysia. Lalu, mereka kembali ke Indonesia melalui pulau Sebatik dan akhirnya Bapak Tua membangun perkampungan yang disebut Kampung Lourdes. Sebuah kesyukuran juga karena aku pun dipertemukan dengan lingkungan yang sangat menjaga toleransi di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia ini.


Keluarga angkatku adalah salah satu keluarga dari 5 Kepala Keluarga muslim di kampung Lourdes ini. Kepala Sekolah tahu kalau yang akan bertugas perempuan, muslim dan berhijab maka, rumah Mamak Saminah lah yang akan menjadi tempatku bernaung selama bertugas di sana.

Aku mempunyai 4 adik angkat 3 perempuan dan 1 laki-laki. Airin, Asmi, Abang Totos, dan Elin. 


Airin si adik pertamaku di sana memang yang paling bertanggung jawab, mungkin karena anak pertama sama sepertiku. Saat selesai sekolah SMA, Airin selalu bilang "Aku bisa nggak ya seperti Kakak, melanjutkan sekolah lagi? Ingin bah kuliah". And Allah's Plan Airin berkuliah di jurusan kesehatan masyarakat di Makassar. Mamak sempat galau lalu menanyakan pendapatku "Adikmu itu pengen kuliah Pida. Tapi aku belum tega melepas kalau jauh-jauh". Aku meyakini bahwa Airin akan slalu berjuang dan bersemangat menyelesaikan apa yang dilakukannya. And here she is now. She grew well up. Bahkan ia sudah menemukan laki-laki yang akan mendampinginya insyaAllah seumur hidupnya. "Apa kabar kakaknya ini? Dilangkahi lagi!" Heheeh doakan yang terbaik, kalau memang belum ada jodoh mungkin memang masih diminta untuk terus belajar memperbaiki diri. Airin, selamat atas pernikahanmu. Rasanya sedih, belum bisa membersamai di hari bahagia Airin. Meskipun demikian, semoga doa-doa Kak Vida sampai yaaa 💕


Asmi si adik nomor dua. Paling unik dari yang lain tapi paling loyal sama Abang Totos. Dia paling berani maju terdepan kalau ada hal-hal yang bikin dia kesal. Asmi termasuka gadis tomboy dengan gayanya yang sangat seru dan kocak. Memang dibandingkan Airin dan Elin, paling susah diminta belajar yaaa si Asmi ini hehehh Meskipun begitu, ia yang paling diam-diam slalu ngasih perhatian. Seringnya dimasakin sama Asmi kalau Mamak nggak masak. Asmi, makasii yaa sudah jadi adik yang paling berani. Asmi hebat! 😊



Abang Totos adik nomor tiga. Kalau abang Totos juga perhatian dan lebih paham kalau aku lagi sedih. Seringnya, ia pun ikut sedih kalau aku sudah merasa lelah. Abang Totos si paling spesial tapi yang paling rame dan bahagia kalau semua turut bahagia. Sehat-sehat Abang Totoskuuu!


Elin si adik bungsu. Adik bungsu satu ini kalau dulu suka ngambekan. Mungkin sekarang sudah berubah karena sudah kelas XII. Paling cerewet, paling heboh, dan si paling suka hal-hal yang berbau seni semacam tari, membaca puisi, bernyanyi atau bermain peran. Yaaa meskipun suaranya cempreng, tapi harusnya sih bisa dong kalau vokalnya dilatih. Katanya ia pengen jadi guru Bahasa Indonesia atau Seni sesuai dengan kemampuan dan hobinya. 


Foto ini adalah perjalananku sama Mamak ke kota Tawau di Malaysia. Untung bawa paspor, jadi masih dapat stempel kota Tawau deh naik kapal feri yang cuman satu jam dari Nunukan. Kami berkeliling ke pasar lalu terminal dan menengok pelabuhan tempat kami pulang pergi. Kami bermalam di rumah saudara Mamak yang menetap di Tawau. Mungkin kalau Mamak nggak ngajakin, belum pernah pun aku menginjakkan kaki di kota yang jaraknya jauh dari Ibu Kota Malaysia ini, yang wilayahnya hanya dibatasi oleh laut Sulu dan Sulawesi. Rasanya masih belum puas pun berkunjung di kota Tawau ini. :)

Ahh.. kalau bercerita banyak hal tentang mereka rasanya rindu. Terima kasih Mama, Bapak, Airin, Asmi, Abang, dan Elin sudah slalu mengingatku dan menanyakan "kapan datang ke Sebatik? Itu adikmu bla bla bla... Itu Bapakmu bla bla bla" Aku merasakan punya keluarga di luar Jawa sana yang selalu menantikan kehadiranku kembali untuk pulang ke rumah.

I can't describe anything today. When I was on the phone and seeing Airin with her traditional Bugis Costume for Mapaci Ceremony (Bugis Ceremony), I was crying. Then Mamak asked me "Why are you not coming? And She was also crying and hoping I was there to celebrate Airin's day.
 
Terima kasih sudah merawatku dan mengajariku banyak hal dengan kesederhanaan. 


-vidahasan-
Share:

30 October 2024

Mindfulness With Journaling

Hey dear lovely people,

Long time noooo see after hmm many years? a yeas? 2 years? or 3 years? I think that I should go back to write about something here, right? heheh

By the way, kalau ditanya "Vids, ngapain aja sih nggak nongol-nongol buat nulis lagi?" Mau jawab "Kebanyakan bertapa di dalam goa, jadi lupa buat menuliskan banyak hal yang udah terlewati. Maleees amat jadinya" Heheh Doakan ini istiqomah kembali yaa buat menulis banyak hal yang udah dan akan terlewati. But anyway, I would write about something new and many reflections that I got for these years. Ini karena sebenernya adalah pelampiasan diri udah semacam nggak mau ngepost apapun di instagram and still left some memories there. :') Whyyy? Yaa karena jadi nggak fokus aja, sedangkan aku pengen fokus buat belajar menata kembali diri and then finish my masteeer! OMG :")

So, lovely people,
Here, I want to share you something about the magic of writing by journaling. It makes really incredible moments that I got. So, let me to tell you about that magical things. 

Sebenernya, aku udah lama melakukan journaling ternyata. Since, I was kid 10 years old. Tapi, dulu dikenal dengan yang namanya diary. Dari diary itu pun jadi belajar banyak hal dan bikin mesam mesem sendiri pas dibaca-baca lagi. Jangan ditanya, bukunya masih ada? Hmmm... I forgot where those were going. But, may be my mom threw them anyway somewhere else. And may be, many people read my randomly curcol on my diaries. HAHAH (and yauda sih. Whatever!).

From diary then I was going to this blog. Kayaknya dulu hampiiir banget tiap hari nulis hal-hal konyol deh. Pokoknya nulis aja gitu, mau pake bahasa non formal lah sok-sokan Inggris lah atau bahasa gaul sekalipun. Tapi yaa mohon maap, kalau diminta menulis pake bahasa ilmiah masih ampun, bukan anak researcher yang formal banget soalnya. So, don't ask me anyway about "Vids, which methods are you using from this research? Theories? Conclusions? anything else?" Enggak, enggak mampu! Bukan anak teoritical, just want execute it. Hihihi

Well back to on my stories deh about journaling. 

 Guys, as you know, buatku pribadi journaling itu adalah healing untuk diri sendiri. Dari journaling belajar banyak hal dan berefleksi diri. Sudah sejak sekitar entah kapan sebenernya melakukan journaling. Tapi, untuk selalu menjadikan bahan refleksi memang udah sekitar 3-4 tahunan ini. Ada beberapa manfaat yang aku dapatkan dari aku ngejournal setiap hari:

  1. Lebih mindfulness. Kenapa mindfulness. Di buku journal ini aku menuliskan beberapa hal terkait mood tracker, habits, to do list, goals, and insights. Dari menuliskan mood tracker kita, kita jadi tau loh seberapa banyaknya mood kita nggak baik. Nah, dari nggak baik itu bisa dicari tau juga kenapa sih bisa nggak baik? Kita bisa menuliskan alasan dan solusi dari hal-hal nggak baik yang kita dapat di hari itu. Makanya, sebenernya kita tau ada sebab dan akibat yang kita lakuin. Dari sebab itu, akibatnya misal kerjaan kita jadi nggak selesai, stress dan akhirnya nggak mencapai tujuan yang diinginkan.
  2. Time management. Dari to do list yang dibuat, kita bisa ngebagi waktu sebenernya. Hal-hal apa aja yang perlu kita prioritaskan di hari itu dan yang bisa kita lakuin nyicil di hari itu. Jadi, nggak semua hal mesti kita kerjakan di hari yang sama. Kalau atasan kita minta diselesaikan di hari itu, sebenernya kita bisa sampaikan bahwa kita ada agenda yang perlu diselesaikan juga di hari yang sama. So, it's okay buat bilang "Sebentar ya Pak/Bu. Saya selesaikan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, setelahnya akan saya kerjakan. Diusahakan hari ini. Kalau tidak hari ini, paling lambat kemungkinan besok." Say it frankly. Jadi lebih belajar berkomunikasi dan menyampaikan hal yang jujur aja, jadi sama-sama nyaman kan? :)
  3. Self control emotions. Boleh kita menuliskan capaian yang ingin dicapai di setiap bulan. Tapi, seringkali kalau capaian itu nggak tercapai yaa nggak masalah. Kita tuliskan lagi aja terus di bulan berikutnya. Namanya juga udah ada niatan buat mencapai tujuan itu. Kalau nggak tercapai ya nggak masalah, tapi tetap terus berproses supaya terlihat progressnya. Contoh nih, aku sebenernya ingin banget nih bimbingan tesis di bulan ini. Tapi ternyata penelitianku belum cukup mumpuni karena kendala narasumber yang kurang atau ada kegiatan lainnya, and then 'Ok, Vid. This is rush, but still handle it. You have to wait until your datas complete'. Enggak papa, udah berprogres sampai wawancara di beberapa tempat dan dengan beberapa orang. Nggak perlu regret yang penting tetap terus berjalan.
  4. Dari insights juga jadi belajar bahwa, ada banyak hal baik yang dilakukan setiap harinya sekalipun itu adalah hari buruk buatmu. Take your hard time as your lessons that day. Tapi juga nggak perlu menolak perasaan burukmu, still keep it but soon leave it.
  5. Daily Routines. Habbits tracker ini bisa banget ngebantu buatku lebih sering melakukan rutinitas. Meskipun yaa rutinitasnya gitu-gitu aja, tapi jadi berasa kalau nggak ngelakuin ada aja hal yang kurang di hari itu. Contohnya adalah workout. Aku ngelakuin workout almost everyday sebenernya. Nah, kadang kalau nggak ngelakuin itu kayak ada yang kurang aja. Jadi ngerasa bersalah nggak kalau nggak ngelakuin itu? Ya kadang-kadang juga sih ngerasa salah, tapi yauda nggak papa. Mungkin di hari itu lagi perlu berjeda dulu buat istirahat. But you should back on your track again in the next day. Ngebantu biar bisa merutinkan hidup lebih baik lagi.
Tetiba ada yang nanya "kok bisa sih konsisten sampe segitunya buat ngejournaling?". Aku juga nggak sekonsisten itu kok. Kadang juga masih banyak bolongnya. Kalau bolong di beberapa hari, biasanya aku akan ngerapel journal dan remindering hal-hal yang udah aku lakuin di hari-hari yang udah terlewati. And I got that reminds with photos which I took or some messages that I got. Jadi, journalku jadi rapet lagi deh di hari-hari bolongnya. 

Ngejournalnya juga sesuai dengan kemampuan diri aja mau templatenya seperti apa. Di pinterest banyak banget contoh-contoh journal doodling yang lucu-lucu. Templatenya pun juga sesuaikan dengan kebutuhan diri. Kalau akau mood tracker, habits and insights is a must, karena ngebantu banget buat ngeremind perjalanan dari bulan ke bulan. 

"Buku journalnya harus seperti apa?" Aku pake buku yang kupunya aja, lalu aku corat coret sendiri dengan ala-ala. Biasanya aku emang selalu dapat buku-buku yang bisa dibuat journaling, jadi daripada beli-beli lagi, maka aku manfaatkan buku yang udah kupunya aja. Then, I also like to write about what I listened like podcast. I also join journaling class every month. Itu juga ngebantu banget buat ngeheal diri dengan mendengar cerita dari teman-teman yang lain.

So guys, setiap orang itu punya fase sulit masing-masing. Tapi, trust me kalau journaling bisa bikin diri lebih memaafkan diri sendiri, banyak bersyukur dengan apa yang udah kita lewati, lebih sadar bahwa nggak selamanya kita seburuk itu, dan tentu saja lebih mindfulness. 

"Bingung nih mau memulai journaling darimana" -- yang penting mulai aja dulu hal-hal yang disyukuri sehari-hari minimal 1 kalimat juga boleh. Setelahnya, pasti akan menemukan pola.

Jujur, ku tak pandai merangkai kata ilmiah. Tapi kalau udah bercerita dengan rangkaian kata harian udah ngalor ngidul nggak karuan. :)

Thanks anyway to read this.

see yaa!
-Vids-



Share:

25 October 2023

Jalawastu's Journey [Part 2]

In the morning when I wake...

I woke up at 3 am and going to take a bath. Kalau nggak demikian pasti mengantri dengan tamu yang sedang menginap lainnya di rumah Pak Dastam. Awalnya, kami tidak ada berniat untuk menginap di rumah Pak Dastam, namun ternyata tubuh ini lunglai tak berdaya yang akhirnya aku, Audi dan beberapa teman lain ikut tumbang. Teman-teman lain, yang malam harinya berkunjung ke sesepuh adat tidak tega membangunkan kami yang sudah pulas tertidur. Selain, kami ada beberapa tamu dari dinas juga yang menginap di rumah Pak Dastam. Seru karena semakin malam orang berlalu lalang, aku pun tidur semacam kucing yang masih sering terbuka sedikit-sedikit matanya. hihihi

Setelah mandi dan beberes, pukul 05.30 kami menuju ke kampung budaya Jalawastu yang lokasinya lebih naik lagi dari tempat kami menginap. Sekitar 1 kilometer dari rumah Pak Dastam menuju tempat upacara adatnya. Setibanya kami di sana, sudah ramai berlalu lalang penduduk dan hmmm kampungnya sudah terlihat berbeda dari tahun 2020, waktu pertama dan terakhir kali aku melihatnya. Aku dan mbak Dewi mencoba merefleksikan apa yang berbeda di tahun ini dan tiga tahun yang lalu. Oohh... beberapa rumah yang saat itu sempat kami berfoto di depannya sudah tidak ada, rumah-rumah yang sekarang cukup warna-warni dan mencolok, bahkan jika boleh dibilang, dibanding tiga tahun lalu rumah-rumah tersebut sudah semakin lumayan modern meskipun masih menggunakan papan kayu. Hmmm...

Ekspektasiku menurun dengan kondisi demikian. Di tahun 2020 sebelum pandemi, aku dan mbak Dewi sempat datang berkunjung. Namun, karena kami datang telat dan tiba pukul 7 pagi akhirnya tertinggal melihat langsung upacara adat Ngasa-nya. Semua orang sudah kembali turun ke bawah, kami malah baru naik ke atas menuju Kampung Adatnya. 

Nah, yang sangat sangat berbeda di tahun ini adalah seharusnya upacara adat sudah dimulai sejak pagi-pagi buta, saat datang ke sana pukul 6 pagi masih berasa sepi. Tempat masih belum penuh dengan masyarakat kampung. Dapat kabar, bahwa ternyata ada yang harus ditunggu dari Dinas/Pemerintah yang akan berkunjung ke kampung adat. Ealahh..

Saking bosannya, karena aku membawa kamera dan menjadi tim dokumentasi [dadakan] aku pun kembali turun ke bawah bersama dengan Audi. Lumayan lama menunggu di bawah atau gerbang masuk utama kampung Jalawastu, kurang lebih satu jam lamanya. And theeeennn... what I thought, waaasss different. That was out of my expectations. Karena oh karena rombongan yang ditunggu itu diiringi oleh drumband yang mana menurutku itu sudah sangat modern dan nggak menciri khaskan upacara adat. Kalau dengar dari Pak Dastam semalam, di Kampung Jalawastu gong dibunyikan saja sudah tidak diperbolehkan. And that was a drumband player. That shocked me!

Dulu ada yang namanya tumpengan besar yang dibawa bersama dengan rombongan, tapi yang terakhir aku temui tidak demikian. Bahkan yang sebelumnya aku sampaikan bahwa seharusnya protokoler yang mematuhi apa yang menjadi aturan adat ini malah kebalikannya. Duh nggak seseru itu ternyata. But yeaah nggak papa, jadi dapat insight dan cerita seru dari para sesepuh terutama om Heru nih. Asiiik ngobrol sama beliau yang tau banyak tentang kebudayaan.

Akhirnya karena di luar ekspektasi tersebut, kami berjalan kembali menuju parkiran di gerbang masuk. Ngopi, Ngemie, Ngobrol. Tapi saat sedang asik 3N dan akan beranjak kembali pulang, kami kehilangan satu orang yang jadi bagian rombongan kami. Yap! Si Samsuri masih tertinggal di atas, di lokasi tempat upacara adat. Sinyal tak kunjung hadir, lalu akhirnya aku dan mbak Dewi pun kembali menyusulnya ke lokasi upacara adat. Ehh dasar si Samsuri. Hihihi kalau nggak ngeboncengin mas Gusmo aja, juga udah ditinggal ini anak. Hwehehhe but it's okay. Everything will be alright.

Well, kita kembali ke sekelumit perjalanan pulangnya.

Setelah mengambil barang-barang yang kami tinggal di rumah Pak Dastam, kami meluncur turun "gunung". Om Jali dan Om Heru bercerita bahwa di sekitaran Desa sini ada sumber mata air yang dikenal agak keramat [anggap bahasanya demikian], namanya sumber mata air cipanas. Konon katanya, sumber mata air ini akan muncul jika waktu tertentu saja dan tidak semua orang dapat langsung menemukannya. Kami berkendara secara konvoi dengan beberapa sepeda motor. Aku, Audi, Pak Guru Aziz mendahului teman-teman yang lain. Saking keasikan dan tak melihat ke belakang akhirnya kami bingung setelah keluar gang pertama menuju kampung Jalawastu. 

Berasa tadi teman-teman di belakang kami, kenapa sekarang jadi menghilang? Ditunggu tak kunjung muncul, yang pada akhirnya kami pun kembali masuk ke gang dan naik lagi menuju kampung Jalawastu. Rupa-rupanya, mas Gusmo dan teman-teman lain berhenti di salah satu tempat yang konon katanya itu merupakan sumber mata air cipanas tersebut. Untung saja, Samsuri dan beberapa rombongan lain dari teman-teman Ketanggungan sedang duduk menunggu motor yang sedang terparkir.

Aku, Audi dan Pak Guru Aziz pun menyusul teman-teman yang sudah turun. Kutelfon mbak Dewi dan aku diminta untuk terus menelusuri jejak sampai berjumpa dengan titik turunan menuju sungai. Yap! Ketemulah kami dengan teman-teman yang katanya pun tertinggal jejaknya dari Mas Gusmo, mbak Okta, mas Viktor dan Om Jali. Seruuu..

Sembari menunggu rombongan yang turun ke sungai naik kembali, kami pun berfoto ria. #eeaa

Mas Gusmo bercerita, bahwa saat mereka turun ke sungai mereka mengikuti seorang ibu yang baru selesai dari ladangnya. Jalannya cepat dan setelah menunjukkan tempat sumber mata airnya Ibu tersebut langsung pergi tanpa jejak. Entahlah katanya, tapi menurutnya Sumber Mata Air Cipanas ini memang muncul di waktu tertentu dan yang mencari memang mempunyai tujuan mulia maka mata air tersebut akan muncul dengan sendirinya. Mungkin hanya karena penasaran, jadi mata air tersebut tidak muncul dan mas Gusmo tidak bisa menemuinya. :')

Yasudah, kami pulang tentu saja tidak dengan tangan kosong. Kami pulang dengan membawa cerita seru yang pada akhirnya aku tulis di blog ini. :)

Well yeaah.. akhirnya hutang bercerita di Jalawastu selesai juga. 

_vidahasan_




Share:

Jalawastu's Journey [Part 1]

Yep! After looong break, I think that I should write again about my journey. It's not (so) my journey, but what I see, what I do, it makes better if I can share it to you with my (bad) writting. I'm not a writer, but I try and want to be a good writter or story teller. Na ja, even though I just did it and shared it in my (old) blog. So, let me share to you about my (our) journey went to Jalawastu almost more than months ago. (hmm I forgot that I want also to write in Deutsch). Ja ja ja...

So, here it is...
Be calm. I'll be write of course in Bahasa.

Aku akan bercerita menggunakan bahasaku yang mungkin lebih ke bahasa informal. Supaya, aku lebih nyaman menceritakannya.

Perjalanan ke Jalawastu ini sudah direncanakan sejak satu minggu saat Kak Sophie, mbak Dewi, Om Gusmo berkeliling ke wilayah Banjarharjo. Ekspedisi pertama dalam rangka project re-inviting Brebes. Sayangnya, di ekspedisi pertama ini aku tak bisa ikut karena kami harus berbagi tugas untuk jaga kandang. Tepat di hari yang sama karena ada jadwal Pojok Musik. Hanya khawatir kalau pulangnya terlalu larut.

Banyak cerita yang aku dapatkan dari sejarah-sejarah masa lalu di wilayah Brebes. Bahwa Brebes ternyata merupakan sebuah Universitas dimana banyak para raja-raja justru belajar di Kabupaten Brebes ini. Lalu, ada cerita bahwa Brebes merupakan salah satu Kabupaten yang biasa disebut Manusia Antara. Makna Manusia Antara ini aku dapatkan saat ikut menyimak diskusi pertama kali yang diikuti oleh Mas Gusmo, Mbak Ibe, Pak SS, Pak Azmi, Rara dan Kak Sophie. Menarique sekali mendengarkan mereka berdiskusi.. Sayangnya, aku tak sanggup melanjutkan karena sudah mulai human error kalo jam-jam setelah isya. hehehe

Tapi tenang, aku akan share link cerita menarik tentang Peristiwa Tiga Daerah. Ini ada temuan-temuan yang bisa dibaca dan seru bisa mengenal Brebes lebih dalam lagi...

Setelah berdiskusi panjang dan berkeliling ke Banjarharjo, tempat tujuan selanjutnya yaitu Jalawastu. Salah satu Kampung Budaya di Desa Cisereuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Jarak yang ditempuh kurang lebih 25km kalau dimulai dari Padepokan Kalisoga. 

Kalau ditanya, why we are going to Jalawastu? Di sana setiap tahun sekali pada hari Selasa Kliwon  antara tgl 1-7 Maret selalu diadakan upacara adat Ngasa. Upacara adat Ngasa ini merupakan sebuah upacara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala hal yang telah diberikan baik pangan, papan dan sandang. 

Perjalanan ke Jalawastu ini dilaksanakan mulai tanggal 27 Februari dan di sore hari. Aku bersama yang lainnya menginap satu malam di sana. Alasannya karena, Upacara Ngasa ini dilaksanakan di pagi hari mulai pukul 06.00.  Jadi, supaya tidak tertinggal upacara sakralnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan di sore hari sekitar pukul 16.30.

Adalah aku, mbak Dewi, mas Gusmo, mbak Okta, Samsuri, Audi, mas Aziz beserta istri dan anaknya yang berangkat dari Slatri/Padepokan Kalisoga. Di Desa Buara, tepatnya di Bendungan Cisadap kami bertemu dengan rombongan Losari yang sudah menunggu di sana. Setelah berjumpa, kami berhenti, beristirahat sejenak sekitar 5-10 menit lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Tim Losari yang ikut dalam ekspedisi ini yaitu mas Dani, mas Viktor, mas Burhan, om Jali dan om Heru, Mereka merupakan para penggerak literasi di wilayah Losari dan sering berdiskusi dengan kami di Padepokan Kalisoga (kecuali om Jali dan om Heru, karena aku baru berjumpa dengannya). Rombongan pun menjadi banyak berjumlah 13 orang (plus gadis kecil berusia empat tahun). 

Perjalanan yang kami tempuh sangat seru. Kami melewati toang/sawah hijau, Desa Cikeusal yang jalannya uhuy ulala, lalu melewati hutan dari ada sinyal hingga tak ada sinyal sekalipun, beberapa ruas jalan yang terkena longsor dan becek hingga aku yang dibonceng oleh Audi harus turun dari motor karena takut terpeleset. Lalu, tambah lagi naik turun jalan yang berbukit tanpa ada listrik atau lampu dimana-mana. 

Akhirnya, kami pun tiba di rumah Pak Dastam. Beliau merupakan mantan ketua adat di kampung budaya Jalawastu. Disambut dengan hangat dan ramah, serta berjumpa dengan Pak Wijanarto. Pak Wijan merupakan Ketua Dewan Kesenian di Kabupaten Brebes. Beberapa kali sering berjumpa dengan beliau, bahkan sempat menjadi narasumber di program Padepokan Kalisoga. 

Setelah meminta izin ke toilet, bersalaman dengan para tamu yang sudah hadir terlebih dulu, sejenak kami melepas lelah dan berchit chat sebentar. Pak Dastam menawarkan makan malam yang sudah tersaji di atas meja dengan beberapa menu khas saat acara upacara adat ngasa. Ada dedaunan semacam poh-pohan [lupa lagi nama daunnya apa], ada ayam goreng, ada tumis tempe, tahu tempe, lepet, opor ayam dan beberapa sajian lainnya. Dari ceritanya Pak Dastam, mumpung malam ini masih diperbolehkan makan daging jadi, kami sajikan daging. Besok  orang-orang yang ikut upacara adat sudah tidak diperbolehkan makan daging dan harus menu nabati. 

Setelah makan malam, kami ngobrol seru dengan tuan rumah, yaitu Pak Dastam. Pak Dastam bercerita banyak hal tentang upacara Adat Ngasa, kebudayaan di kampung Jalawastu juga. Menurutnya, dulu kampung Jalawastu tidak seperti ini, jauh dari kata modern. Tidak diperbolehkan ada bangunan batu dan harus terbuat dari papan kayu. Alasannya karena para leluhur memang masih belum mengizinkan bangunan batu masuk ke dalam kampung adat. Namun, seiring berjalannya waktu, ada beberapa bagian di Jalawastu yang akhirnya terbangun bangunan yang didirikan. Hal ini dikarenakan, masuknya pendidikan di kampung kebudayaan tersebut sehingga bangunan berbatu pun mulai tumbuh di sana.

Selain itu, kampung Jalawastu sudah mulai dikenal oleh banyak orang bahkan termasuk salah satu tempat wisata kebudayaan yang tercantum sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Brebes. Akhirnya, "rasa kepemilikan" kampung Jalawastu pun ditarik ulur oleh masyarakat adat dan pemerintah di Kabupaten Brebes. Sejak tahun berapa pun pada akhirnya kampung Jalawastu sebagai destinasi wisata saya jujur masih harus mencari informasinya kembali.

Setelah bercerita dengan Pak Dastam, ada pagelaran seni di lapangan dekat rumah Pak Dastam. Saya pun menuju ke sana sambil mendokumentasikan acaranya. Pagelaran Kolak Janda ini bercerita tentang kehidupan masyarakat di Kampung Jalawastu pada masa lampau. Saya lupa-lupa ingat, tapi pagelaran ini cukup unik dengan dekorasi dan perlengkapan yang bikin mesem-mesem. Selain itu, diiringi juga dengan gamelan atau alat musik khas sunda yang menarik.

Tak bertahan lama, saya kembali menuju rumah Pak Dastam. Saya memulai merebahkan diri karena lelah menempuh perjalanan yang lumayan. Audi sudah tepar terlebih dahulu sebelum yang lainnya, bahkan saya undur diri dari obrolan karena tak kuasa menahan kantuk. Kawan-kawan yang lain masih terus berupaya untuk mencari tahu tentang kebudayaan di kampung Jalawastu tersebut. Mereka pergi ke sesepuh adat yang benar-benar asli dari Kampung tersebut. 

Menurut cerita dari Mbak Dewi, beliau merupakan sesepuh adat asli yang merupakan turunan langsung dari ketua adat yang lama. Ada permainan politik selama, kampung budaya Jalawastu diambil alih oleh Pemerintah. Banyak kejadian-kejadian unik yang terjadi, contohnya adalah upacara yang seharusnya dilaksanakan setelah shubuh tepat harus menunggu protokoler. Seharusnya, sebagai kampung adat protokoler yang harus patuh dengan aturan adat bukan adat yang patuh terhadap protokoler. 

Ini menarik untuk ditelaah lebih jauh kembali. Jadi, sebenernya ada apa dengan perubahan yang terjadi di Kampung Jalawastu? Apakah teriming-imingi jabatan? hmmm

Let see what will happen in the morning...

_vidahasan_







Share:

9 February 2023

CHILDFREE

Duh udah lama juga ya nggak ngobrol-ngobrol seru di blog ini. hehe
Pasti alasannya slalu nggak punya waktu, padahal padahal udah tau males dan mager trus nggak mau mikir. Capek!

Gara-gara ada perbincangan yang lagi rame aja sih ini, jadi gatel juga kepengen nulis dan ngasih komentar yang mungkin agak lumayan panjang kali, karena nulisnya juga di blog. Hwehehe

Well yeah guys, lagi rame polemik kehidupan nih tentang salah seorang influencer yang tinggal di Jerman dan nggak mau balik ke negara Konoha (kalo kata orang-orang sih). Apakah ideologi seseorang bisa berubah sedemikian rupa, karena ia menempuh pendidikan di negeri barat sana? Hmm, le' me tell you...

Sebagai warga NKRI nih yang sejak tahun 2015 balik ke Indonesia dan pernah tinggal di Jerman, yang merupakan salah satu negara mbak influencer tersebut rasanya uhuy ulala. Uhuy ulalanya kenapa? Ternyata, kalau kita pegang prinsip kita bener-bener nih mau bagaimanapun kita tinggal di negeri barat insyaAllah ideologi kita yang udah dipegang itu nggak akan tergantikan. Alasannya simple, kita punya Allah yang 24 jam ada buat kita, bersimpuh dan minta pertolongan semoga dijauhkan dari segala hal yang menimpa keburukan ke kita. Itu aja...

Nah, terkait childfree yang dilontarkan oleh mbak influencer tersebut memang agak cukup "anarsis" sih ya hampir mirip sebelas dua belas lah ya sama anarkis. Dari beberapa informasi yang kudapatkan tentang mbak-nya tersebut, ia memperoleh sifat narsisnya dari Ibunya. Hmmm... I will tell you just from my point of view. 

Unfortunately, sangat disayangkan sebenernya ketika mbak-nya ini memilih untuk childfree. No, I'am not disagree, but how pity her decision. Childfree memang betul sebuah pilihan dan itu hak masing-masing orang, tapi coba deh apa iya doi sudah bener-bener discuss sama pasangannya, sama keluarganya (terutama kedua belah pihak) bahwa doi memilih untuk childfree. Kalau segala keputusan "ini kan hidup gue, jadi nggak perlu ada deal dari pihak lain terutama keluarga", itu berarti doi mementingkan egonya sendiri. Bukan begitu?

Apa doi nggak memikirkan perasaan yang lain, saat doi mengambil keputusan tersebut? Logika boleh terus berjalan, but you have also to respect with others. Kesel juga nih jadinya meskipun ya ujung-ujungnya I apreciate her decision. Balik lagi deh sama kata "sayangnya" itu ya guys ya..

Kenapa sih, vida bilang sayang bangeeet..

Mbak Gitasav ini wanita cerdas dan mandiri, dia slalu punya pemikiran-pemikiran unik dan out of the box banget. Rasanya sayang, kalau mbak Gita sebagai perempuan tidak mau meregenerasi pemikiran-pemikiran uniknya ke anak-anaknya kelak. Anak cerdas itu lahir dari seorang ibu yang cerdas pula bukan? Waahh.. Ini sih yang sangat disayangkan. Padahal mbak Gita bisa saja melanjutkan mimpi-mimpinya yang kelak juga akan dilanjutkan oleh anak-anaknya. 

Hmm.. kalau berpikir bahwa childfree itu bisa menekan penuaan, buatku juga kurang logic. Kalau yang dikhawatirkan doi adalah berisik karena mendengar teriakan anak-anak, nggak bisa tidur 8 jam, trus cepet tuanya sebenernya bisa juga diantisipasi. Aku rasa, mbak Gita pasti orang yang sangat well prepare. Kalau bisa membuat perencanaan diri saat ini, kenapa nggak mencoba buat membuat perencanaan yang lainnya? Daaaan paling penting, orang se cerdas mbak Gita, masa sih nggak bisa memberikan dampak baik buat keluarganya? Bahkan bisa jadi contoh buat keluarga dan keturunannya kelak loh.

Katanya, perempuan itu harus berdampak buat lingkungan sekitarnya? Katanya, perempuan itu harus mandiri? katanya, perempuan itu harus mempunyai pendidikan yang layak dan setara sama laki-laki? Naaaahhh.. dari segala hal yang disampaikan di youtube-nya doi tentang a woman independent, kalau doi kepikiran mempunyai anak kan bisa saja justru jadi belajar banyak hal.

Jadi kepikiran, sebenernya yang dipikirkan doi itu justru di jangka pendeknya deh, bukan di jangka panjangnya kalau punya anak. Duuuh, schade lah pokoknya kalau pemikiran cerdasnya ternyata cuman seuprit itu, sampai nggak memikirkan jangka panjangnya. I am still not married, but I will. Hakikatnya pernikahan adalah selain punya pasangan untuk menemani hidup, ada sustainability buat kelangsungan hidup dalam sebuah keluarga.

Ya kenapa aku bilang doi cuman mikir jangka pendeknya? Dari komentar doi yang anak-anak itu berisik dan bikin nggak bisa tidur selama 8 jam. Padahal yaa itu hanya akan terjadi di masa-masa usia emas si anak, kalo udah gede juga kan nggak akan berisik toh? Bahkan doi bisa kok tidur sepuasnya selama 8 jam kalau udah gede. Nah, klo anaknya udah gede pun doi masih bisa perawatan bareng, bisa diskusi hal-hal menarik dari pemikiran-pemikirannya yang berkembang, dan akan jadi sohib yang ngeklop banget pokoknya. Seyakin itu...

Ibarat kata, saat pertama kali mbak Gita mau ke Jerman pun juga pasti ada susahnya kan? Terus sekarang jadi influencer yang dipandang dengan pemikiran-pemikiran uniknya, yang bisa menghasilkan cuan sendiri dari bekerja dan content creator. Jadi, ada kebaikan-kebaikan hakiki yang didapat seandainya non childfree.

And then, kodratnya seorang perempuan yang berbeda dari laki-laki ya memang mengandung, melahirkan dan menyusui. Dari kodratnya itu, wanita jadi sangat dimuliakan. Pemikiran feminis kalau dalam islam itu, jadilah madrasah buat anak-anak kelak, karena Ibu adalah madrasah utama bagi anaknya. Dalam Islam pun wanita itu masih bisa mandiri, faktanya Ibunda Khodijah sebelum menikah dengan Rasululloh Sallahualaihi Wassalam berdagang dan bahkan saudagar kaya raya. Pun setelah menikah dengan Rasululloh dan memiliki keturunan, Ibunda Khodijah masih tetap berdagang. 

Ibunda Khodijah melahirkan keturunan yang cerdas dan bahkan sangat tawadu', memiliki rasa empati terhadap sesama. Coba deh kurang apa? Hmmm

Aku sih masih berharap mbak Gita mau melepas ego dengan kata childfree dan merespon hal-hal baik dari netizen, karena mbak Gita juga nggak bisa lepas dari kuasa-Nya. Kalau Ia sudah berkata, maka mbak Gita nggak akan bisa berbuat apapun kan? :) Harapanku juga mbak Gita akan melahirkan keturunan-keturunan yang cerdas seperti mbak Gita, karena seriusan pengen liat the next Gitasav and Partohaps. :)


Udah sih itu aja, komentar tentang childfree yang dilontarkan oleh mbak Influencer ini. :)

-vidahasan-

Tua itu pasti
 Menjadi dewasa itu pilihan
Bagaimanapun dirimu nanti
Ada Ia Yang Maha memberi keputusan


Share: