28 October 2017

Di Patok 15 "Saya berdiri untuk Indonesia"

2 Mei selalu diperingati sebagai hardiknas atau yang lebih lengkapnya lagi, kita kenal sebagai peringatan hari pendidikan nasional. Sebuah hari dimana pada tanggal ini, bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara lahir. Iya, pelopor pendidikan di negeri inilah beliau. Makanya, hari lahir beliau ditetapkan oleh pemerintah di Indonesia sebagai hari pendidikan nasional.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau sebelum-sebelumnya saya selalu mengikuti upacara di sekolah, di kampus bahkan sudah 2 tahun tidak ikut merasakan euforianya hardiknas. Maka, tahun ini berbeda sekali dari tahun-tahun sebelum-sebelumnya. Iya, mengabdi di ujung negeri yang berbatasan langsung dengan negeri jiran, Malaysia memang selalu menambah pengalaman yang luar biasa. Pasalnya, saya ikut merasakan euphoria hardiknas dengan mengikuti upacara di patok 15 pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan. Penasaran.

Awalnya, saya hanya ingin berada di sekolah (jaga kandang) saja. Karena, memang sepertinya sudah lama sekali saya meninggalkan sekolah untuk urusan yang tidak terduga-duga. Maklum saja, minggu sebelumnya saya harus ke Nunukan demi kelancaran kegiatan festival anak sebatik bersama dengan saudara relawan saya dari makmal pendidikan dompet dhuafa, Aldo dan Shalipp. Mencari sebongkah puing-puing harapan di sana ceritanya. Akhirnya saya rela meninggalkan kelas untuk itu. Selanjutnya, setelah dari Nunukan, saya pun harus bekerja dengan partner Sebatik saya, Mubin untuk berkeliling Sebatik sembari mencari-cari informasi terkait dengan kegiatan festival anak Sebatik. Iya, pejuang itu memang tidak akan hentinya. Dan saya kembalikan ke “misi” awal.

Well, dengan bacaan bismillah dan ijin dari pak Hilla dan pak Andreas, akhirnya pun saya berangkat menuju ke tempat upacara hardiknas. Letaknya cukup jauh, karena dekat dengan pelabuhan Bambangan, Sebatik. Melewati bukit-bukit dengan jalanan tanjakan yang luar biasa. Saya membawa salah satu murid saya, Guido untuk ikut serta mengikuti upacara bendera ini.

“Ido, ikut saya!”
“kemana, Bu?”
“Upacara hardiknas di Bambangan, patok 15”
“kapan, Bu?”
“Sekarang lah! Cepet gih ambil topinya”

Ido pun bergegas mengambil topi ke dalam kelas. Iya, kenapa saya bawa Ido, setidaknya dia perwakilan siswa-siswi SDN 005 Sebatik Tengah untuk ikut serta mengikuti upacara hardiknas ini. Saat itu, yang ada dipikiran saya, karena ini hadiah buatnya telah mendapat nilai bahasa Indonesia tertinggi di kelasnya.

Setelah kami tiba di Bambangan, kami memarkirkan sepeda motor. Lalu, berjalan mendaki menuju arah patok 15. Luar biasa pendakiannya. Saya kira sekedar biasa saja pendakiannya, rupa-rupanya pendakiannya memang luar biasa. Butuh tenaga super untuk bisa mencapai di patok 15 di atas sana. Iya, saya dengar jarak dari tempat parkir menuju patok 15 itu sekitar 1,5 km. Saya kira, betul saja saya menggunakan sepatu yang bukan ber hak tinggi. Jadi, saya santai saja naik sampai atas sana, bahkan di saat guru-guru yang lain mengeluh karena bedaknya sudah luntur, saya pun tetap berjalan terus tanpa pikir panjang. Yang ada di benak saya saat itu, saya dapat berjalan hingga ujung, hingga mendapatkan kesan yang luar biasa selama di penempatan ini.

Dan… tadaaaaaa!!! Memang sungguh menakjubkan. Dari bawah pendakian terdengar sudah check sound dan membentang panjang merah putih beserta tiangnya. Kereeeenn… hingga Nunukan dan Tawau pun terlihat dengan jelas dari atas patok 15 tersebut. Saya, sudah tidak sabar menuju sampai atas sana. Saya berjalan semakin laju dan tak peduli dengan penat yang dirasakan, bahkan saya tidak merasakan penat sama sekali. Yang saya rasakan hanyalah rasa syukur yang terus menerus karena dapat kesempatan melihat upacara hardiknas secara langsung seperti ini.



Persiapan di atas sudah hampir selesai. Sebelum upacara dimulai dengan hikmat, para petugas melakukan gladi resik untuk pemantapan. Sempat ketika bendera (latihan) akan diturunkan, bendera tersebut tersangkut di atas tiang bendera. Bendera tidak bisa diturunkan kembali, namun dengan kerja sama yang baik para combat (sebutan TNI di perbatasan) pun menurunkan kembali tiang bendera lalu melepaskan bendera tersebut, setelah itu tiang kembali didirikan.

Upacara berjalan dengan hikmat dengan inspektur upacara dipimpin oleh camat Sebatik Barat, H. Haini. Beliau menyampaikan pesan-pesan dari bapak menteri kemendikbud, Anies Baswedan mengenai tema pendidikan yang diusung tahun ini yaitu “nyalakan pelita, terangkan cita-cita”. Saya sendiri yakin, bahwa bangsa ini ada karena berasal dari orang-orang yang terdidik. Sekalipun di perbatasan, maka mereka adalah tunas-tunas bangsa yang mulia yang masih perlu untuk tetap bisa maju, terutama di bidang pendidikan.

Saya selalu mengatakan dengan murid-murid saya, bahwasanya “kalian semua berhak untuk menjadi seorang pemimpin dan berhak untuk mendapatkan penghargaan. Jangan pernah merasa kurang percaya diri dengan yang berada di kota. Meskipun kalian tinggal di daerah perbatasan, kalian berhak untuk maju seperti teman-teman kalian yang tinggal di kota”.

Dijelaskan pula, bahwa upacara hardiknas ini dihadiri sekitar 1000 peserta dari kalangan guru, pelajar, satgas pamtas, TNI, Koramil, muspida dan muspika, mariner, polri dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. Bendera merah putih yang terbentang sepanjang 127 meter membuat saya pribadi tertegun dengan upacara di sini. Entahlah, semacam ada gundah kelana yang tidak dapat disampaikan dengan kata-kata. Banyak muncul kata “andai saja, jika saja, semoga saja”. Iya, inilah Indonesiaku, begitu luar biasanya orang-orangnya hanya tinggal sedikit polesan saja untuk merubah dan memperbaikinya.

Tiang bendera pun, saya dengar baru terpasang beberapa hari sebelu upacara hardiknas dilaksanakan. Tiang bendera tersebut mempunyai tinggi 12 meter yang merupakan sumbangan dari TNI perbatasan di patok 15. Keren yah! Semoga anak-anak negeri ini selalu semangat untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Mereka adalah tunas yang baru merekah, sehingga mereka perlu dinobatkan menjadi anak-anak penerus generasi bangsa.



…Anak-anak adalah pesan hidup yang kita kirimkan kepada masa yang akan datang… -Neil Postman-

--Sebatik, 11 Mei 2016-- 
Share:

0 comments: