Sebatik, 22 Juni 2016
Cinta, lama tidak berdiskusi dengannya tentang rasa yang satu ini. Jika dibilang tabu, bukan juga, tapi mengungkapkannyalah yang cukup sulit untuk dilakukan. Butuh ekstra kekuatan untuk bisa mengungkapkannya. Pun tiap-tiap dari diri itu butuh keberanian yang mungkin ekstra. Aku? Jatuh cinta? Iya, aku memang sedang jatuh cinta, jatuh cinta kepada Sang Pemilik Hidup, jatuh cinta berkali-kali denganNya.
Tuhan tidak melarang umatNya untuk merasakan cinta apalagi cinta dengan sesama hambaNya. Namun kadar cinta itulah yang harus ditimbang. Lebih besar cintamu kepadanya atau kepadaNya? Jika rupanya cinta kita lebih besar kepada umatNya, berarti kita telah membuatNya cemburu. Oh Allah, maaf membuatMu cemburu, padahal Dia sangat mencintai kita lebih dari yang kita inginkan.
Iya, coba kita banyak meminta hal dariNya, meskipun tidak langsung diberikan tapi Dia memberinya melalui proses supaya kita tahu bagaimana perjalanan untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Lalu, supaya kita lebih percaya bahwa proses itu selalu akan ada hasil, dari proses itulah maka Kun Fayakun.
MendekapNya adalah salah satu cara supaya aku lebih mencintaiNya. Mau jodoh? Lebih dekatkan diri lagi kepadaNya. Jika yang lain sudah ada jodoh dan kita belum, La Tahzan, Innallaham'ana. Setiap kita sudah dipasang-pasangkan, meskipun mungkin tidak ditakdirkan bersama selamanya. Tapi doaku, semoga aku diperkenankan mendampingi sampai akhir hayat. Ah, ini perkara mudah kan meminta (lagi) kepadaNya?
Allah,
Maaf sekali lagi membuatMu cemburu. Semoga semata-mata cinta kepada hambaMu ini tumbuh hanya sebagai ilusi. Aku ingin lebih mendekatkan diri padaMu, bukan membuang rasa ini tapi jadikan rasa ini lebih dan lebih supaya aku lebih bisa dekat mendekapMu.
2 comments:
Nice
Terima kasih mas irsyad :)
Post a Comment