17 June 2016

Solo Backpacker (again) in Warnemuende

Yey! Saya ingin menceritakan kembali kisah setahunan yang lalu. Sudah setahun? MasyaAllah rasanya cepat sekali sudah setahun lalu perjalanan ini dilalui :D

5 June 2015

Iya. Setelah selesai saya menjelajah di Berlin selama beberapa hari. Lalu, perjalanan liburan kali ini
saya lanjutkan untuk berjumpa dengan salah seorang kawan lama saya ketika saya dulu duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Pertemuan kami ini memang sudah kami sepakati jauh sebelum hari H. Sebelumnya memang kawan saya ini memberitahu bahwa dirinya setiap hari Jumat dalam sebulan akan berlabuh di Jerman, daerah pantai utara (Nordsee), Rostock.



Kemauan saya yang memang sangat besar untuk berjumpa dengannya akhirnya memunculkan keberanian yang tidak pernah terduga-duga, karena lagi-lagi saya melakukan solo backpacker. Menjadi solo backpacker adalah salah satu hal yang pertama kali saya alami ketika perjalanan menuju ke Praha, Republik Ceko. Buat saya pribadi, saya sangat menikmatinya. Entahlah apa yang dipikirkan yang lain, ketika saya bercerita dengan orang-orang dengan kenekatan saya ini.

Saya melakukan perjalanan dari Berlin pada pukul 8 pagi. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 jam, bahkan tepat 3 jam perjalanan menuju ke Warnemuende. Warnemuende adalah salah satu daerah di bagian pantai utara Jerman bersebelahan dengan kota Rostock, kawasan Mecklenburg Vorpommern. Saya fikir, sekalian karena Berlin letaknya sudah berada di atas, dan mumpung perjalanan tidak terlalu jauh, akhirnya saya pun bablas.

Saya meninggalkan rumah tempat menginap sekitar pukul 7 pagi. Semua orang masih tidur, dan saya justru sibuk sendiri. Maafkan saya mbak :( Namun, apalah daya, daripada saya tertinggal bus dan akan sulit lagi bus menuju ke daerah sana, maka akhirnya saya harus lebih pagi cabut dari rumah -____- Mengendap-endap semacam pencuri, di rumah orang ya Allah :( dari halte Alexander Platz saya menggunakan Bahn menuju ke terminal bus di Berlin. Ini terminal ada tempat pertama kalinya saya tiba di Berlin bersama dengan Debora ketika itu.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 07.40 sedangkan saya masih berada di trem (sebutan mudahnya). Ya, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 20 menitan hingga trem tiba di terminal bus pusat ini. Jaraknya memang yang agak jauh dari perkotaan membuat saya harus lebih awal berangkatnya. Akhirnya, selang beberapa menit kemudian saya pun tiba di halte bus pusat atau biasa disebut Belin ZOB. Saya menunggu beberapa menit, Alhamdulillah saya tidak telat datang, karena waktu saat itu kurang 10 menit lagi. Maklum, di negeri ini orang harus selalu on time bahkan in time dalam segala hal.



Dan tadaaaaa panggilan bus saya pun akhirnya terdengar. Pas masuk ke dalam bus, kebanyakan mereka adalah akan berlibur di pantai Warnemuende ini. Membawa barang yang cukup banyak semaca carrier, koper bahkan berbagai macam perlengkapan untuk mereka berliburan. Libue musim panas tiba. Yang aneh lagi adalah, penumpang melihat saya dengan aneh -_- entahlah apalah salah saya. Yang jelas, saya cukup senyum-senyum saja untuk menarik perhatian mereka :D

Perjalanan saya tempuh 3 jam lamanya. Really on time. Jam 8 pagi bus berangkat, pukul 11 siang saya tiba di Rostock meskipun belum di Warnemuende. Awalnya saya bingung, ketika bus berhenti di stasiun Rostock. "Haruskah saya turun? atau berlanjut?" Lalu berlanjutlah saya, dan tibalah saya di stasiun Warnemuende.

Paling hectic karna saya bingung bagaimana saya mengabari teman saya. Padahal dianya pun sedang tidak online, kami akhirnya pun saling menunggu dan mencari-cari keberadaan kami masing-masing. Rupa-rupanya, saya memang salah turun, harusnya turun dimana, sayanya turun dimana.

"Entschuldigung, wo ist die Altstadt von Warnemuende?" (maaf dimana ya kota tuanya Warnemuende?)
"Ach so. Da ist ja. Sie muessen dahin laufen. In der naehe wo die Schiffe hinstellen" (ah, di sana. Tapi Anda harus berjalan menuju arah sana dimana kapal-kapal berlabuh)
"Aha! Ok, alles klar. Danke schoen" (ok. Terima kasih)
"Woher kommen Sie?" (Darimana asal Anda?)
"Ich komm aus Indonesien" (dari Indonesia)
"Waaa. Sie sprechen wirklich gut Deutsch. Wie lange sind Sie in DL?" (bahasa Jerman Anda sangat bagus. Sudah berapa lama di Jerman)
"Danke. Schon 2 Jahren. Ich bin aber jetzt FSJlerin fuer behinderte Menschen in Mannheim"

Yap! sekilas percakapan kami sebelum akhirnya saya berjalan kaki menuju ke arah bang Adit berada. Kalau difikir orang di sini mah ramah-ramah, padahal sebelumnya pun saya sudah diwanti-wanti oleh teman saya.



"Vida, du muss aufpassen ja, wenn du allein irgendwo bist. In Rostock gibt's viele....."  Saya tau, rasa rasis itu yang dikhawatirkan oleh teman saya. Namun, saya yakin jika saya bisa mengantisipasi hal tersebut, inshAllah akan aman-aman saja.

Daaaann Yeeeeeyyy akhirnya berjumpalah kami berdua. MasyaAllah, lama tak bersua sekalinya bersua kami dipertemukan kembali di ujung negeri panser ini. Alhamdulillah... Kami berkeliling bersama menikmati kota tua Warnemuende ini. Bukan apa-apa, namun kami hanya ingin bernostalgia dan bercerita-cerita tentang kehidupan kami saat ini. Rupanya semua hal memang butuh proses yang setidaknya bahkan membuat diri kita sendiri ini takjub menjalaninya dan tak disangka-sangka.

Bang Adit pun mengalami proses yang hampir sama dengan saya. Banyak hal yang sudah dilalui olehnya, dan sekarang sudah ada hasilnya. Intinya memang apapun prosesnya harus slalu dinikmati dan disyukuri yang telah ada.



Meskipun beberap jam saja kami bertegur sapa, namun menceritakan hal-hal yang sudah dilalui masing-masing membuat saya merasa bahwa di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin. Kuncinya memang MAN JADDA WA JADDA!!!



"menuju kembali ke peradaban yang sesungguhnya bukan berarti masuk ke dalam lubang yang salah. Tidak ada lubang yang salah, yang ada hanyalah lubang dimana kita akan menjadi orang yang slalu pandai bersyukur dan berusaha dengan apa yang telah terjadi di lubang itu"


--Vida Hasan--

Share:

0 comments: