Salah satu cara agar kita bisa menikmati hidup dengan tenang adalah, dengan membaca buku-buku atau novel-novel inspirasi yang dapat memotivasi diri kita sendiri. Jangan salah, sebuah novel dapat memberikan sebuah motivasi tersendiri bagi pembacaranya.
Baru saja saya mengkhatamkan novel garapan om Khrisna Pabichara dengan judul Surat Dahlan. Sebenarnya, ini merupakan novel trilogi yang digarap oleh om Khrisna. Judul pertama adalah Sepatu Dahlan, Surat Dahlan, kemudian yang terakhir adalah Senyum Dahlan. Saya kurang begitu paham bahkan tidak mengetahui isi novel pertama yang berjudul Sepatu Dahlan. Mungkin, lebih seru, karena memuat tentang kisah masa kecilnya pak Dahlan Iskan.
Rupanya, nama sebenarnya pak Dahlan Iskan adalah Muhammad Dahlan, beliau mengambil nama Iskan dari nama ayahnya. Beliau begitu mengagumi ayahnya, seorang anak laki-laki yang memiliki keteguhan hati, pekerja keras, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa pemimpin, yang (mungkin) sedang dibutuhkan bagi negeri ini. Seorang laki-laki yang berasal dari keluarga buruh tani, serba kekurangan, yang mengenyam pendidikan tanpa mendapatkan ijasah, yang ketika masa mudanya pernah menjadi seorang buronan tentara. Seorang laki-laki yang pada akhirnya mampu mengubah dirinya menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Beliaulah pak Dahlan Iskan. Salut dengan kebesaran hati beliau, salut dengan kesederhanaan beliau.
Di novel Surat Dahlan, lebih dijelaskan tentang peristiwa yang terjadi ketika Dahlan menjadi seorang laki-laki remaja. Dia merantau ke daerah, ke kota Samarinda, Kalimantan Timur. Melepas semua kenangan masa remajanya di desanya, meninggalkan semua teman-teman remajanya di Kebon Dalem, daerah perbatasan kota Madiun. Merantau ke tanah orang untuk melanjutkan sekolahnya. Dahlan sendiri pun sebenarnya tidak tertarik sama sekali untuk melanjutkan sekolahnya ini. Namun, karena dia menghormati ayah yang begitu dicintainya, akhirnya dia menuruti yang diperintahkan oleh ayahnya.
Novel ini memberikan sebuah pembelajaran yang sangat berharga buat saya. Bahwasanya, kita hidup bukan asal hidup. Pak Dahlan Iskan menikmati hidup yang benar-benar hidup. Berawal dari kehidupan yang serba kekurangan, yang pada akhirnya beliau memberontak karena pemerintah yang ketika itu tidak memiliki sikap adil untuk rakyatnya. Beliau berjuang mati-matian untuk membela hak-haknya, dan hak-hak warga negara. Lebih salut lagi, beliau sempat menjadi buronan nomor satu di kota Samarinda, karena aksi pemberontakannya kepada tentara saat itu. Namun, beliau tidak tertangkap, karena beliau "diasingkan" oleh seorang nenek yang rumahnya di pedalaman selama satu bulan.
Cerita dalam novel ini dikemas dengan kondisi masyarakat, kondisi remaja, dan kondisi Indonesia pada tahun 1970an. Oleh karena itu, kita dapat flashback dengan yang disampaikan penulis di novel ini. Dalam novel ini pun diceritakan, bagaimana Dahlan mengungkapkan perasaannya kepada seseorang yang dia cintai, bagaimana dia harus memilih dua hati yang sama-sama dia sayangi. Kalimat yang disampaikan juga sangat memotivasi. Banyak hal yang bermakna, yang dapat dipetik hikmahnya di novel ini.
Surat Dahlan.
"Kunamai kepalaku dengan kebun harapan. Kebun yang segala jenis bibit dapat tumbuh di sana". ___ Khrisna Pabichara.

0 comments:
Post a Comment