Marhaban yaa Ramadhan. Alhamdulillah, tahun ini bisa merasakan dan dipertemukan kembali dengan bulan suci yang penuh berkah ini. Semoga di tahun berikutnya bisa berjumpa, dan harus lebih baik lagi. Aamiin..
Ada hal yang berbeda di Ramadhan tahun ini. Ramadhan tahun ini, saya bisa berkumpul dengan keluarga, Ramadhan tahun ini saya full merasakan dari pertama sampai insyaAllah hari kemenangan di rumah. Alhamdulillah, masih punya kesempatan buat ber Ramadhan bersama keluarga tercinta. Ayah, Ibu, Aghiel, meskipun belum lengkap tanpa kehadiran Mirza di rumah, namun ini membawa warna tersendiri buat saya karena dapat berkumpul dengan mereka semua.
Tahun kemarin, saya harus ber Ramadhan di perantaun. Lebih tepatnya lima kali Ramadhan saya merasakan ber Ramadhan di tempat perantauan. Subhanalloh, banyak belajar dari hal-hal seperti ini. Ada suka begitu juga ada duka yang terjadi sebelum saya merasakan ber Ramadhan bersama Ayah Ibu di rumah.
Ramadhan pertama saya jauh dari keluarga pada tahun 2008. Saat itu saya sedang menjadi mahasiswa baru di Universitas Negeri Yogyakarta. Saya senang, karena bisa melanjutkan sekolah di kampus yang cukup favorit ini, yang banyak orang ingin belajar di sana, namun mereka tidak seberuntung saya. Saya sangat beruntung karena saya bisa masuk untuk belajar di kampus ini. Waktu itu, karena harus mengikuti kegiatan kampus, saya harus berpuasa jauh untuk pertama kalinya tanpa ayah dan ibu. Awalnya sangat berat, karena sejak dulu sampai saya masuk ke sekolah menengah, ayah yang slalu membangunkan saya sahur. Saya bangun, sholat malam, lalu makanan sudah tersedia di atas meja, lalu saya hanya tinggal menyantap hidangan itu. Berbeda dengan di rumah, saya merasakan kesedihan yang mendalam. Tidak ada yang membangunkan sahur, tidak ada yang menyiapkan makanan, dan jarang berjamaah di masjid. Apa-apa saya harus melakukannya sendiri. Saya ingat, ketika pertama kalinya, saya sahur tanpa adanya teman, kesepian, kesendirian, saya makan sahur sambil menangis. Meskipun beberapa kali mba kos menyuruh saya untuk bersahur bersama-sama dengan yang lain, saya tetap berada di kamar. Waktu itu saya masih belum bisa beradaptasi, merasa mereka semua adalah orang-orang asing.
Ramadhan kedua saya jauh dari keluarga pada tahun 2009. Sebagai mahasiswa baru (1 tahun), saya masih belum terbiasa dengan keadaan ber Ramadhan jauh dari keluarga. Masih ingin merasakan ber Ramadhan bareng sama mereka. Selama satu tahun menjadi mahasiswa baru, setiap bulan saya selalu mencari jatah hari libur (tanggal merah) agar saya bisa pulang ke rumah. Masih merasa, belum terbiasa jauh dari ayah dan ibu. Masih harus banyak belajar dan masih butuh beradaptasi. Sebelum bulan Ramadhan, saat itu saya di rumah dan sedang sakit hingga berminggu-minggu. Padahal saya ingat betul, bahwa saya adalah panitia salah satu kegiatan di kampus. Waktu itu saya menjadi pemandu di Ospek fakultas dan ospek jurusan. Ini adalah tugas, saya sedang mengemban tugas. Saya masih memikirkan ego saya sendiri, kalau saya ingin berlibur di rumah. Akhirnya saya memberi kabar ke koordinator, bahwa bagaimana kalau saya dikeluarkan atau diganti saja dengan orang lain? Saya sudah tidak bertanggung jawab, kontribusi saya sangat kurang. Namun, koordinator saya malah mengatakan bahwa "kami butuh kamu. Kamu harus segera sembuh dan bergabung kembali bersama kami". Saat itu perasaan saya langsung tidak karuan, perasaan tidak enak, merasa bahwa saya tidak bertanggung jawab. Saya pun bangkit dan harus sembuh, sehingga saya dapat bergabung kembali bersama tim saya. Well, ketika itulah saya merasakan puasa pertama kalinya tanpa keluarga (lagi), saya merasakan puasa bersama teman-teman saya lagi. Namun bedanya dengan tahun pertama, tahun kedua ini saya sudah bisa beradaptasi dengan teman-teman satu kos dan teman kampus. Merasa bahwa kita semua saudara dan saling membutuhkan. Kebersamaan inilah yang saya inginkan meskipun saya jauh dari ayah ibu saya. Saya merasa bahwa saya tidak sendiri, bahwa saya tidak kesepian, bahwa saya memiliki saudara di tempat ini.
Ramadhan ketiga saya jauh dari keluarga pada tahun 2010. Pada tahun 2010 adalah masa saya menjadi seorang mahasiswa yang mengikuti banyak kegiatan. Saat itu ospek dilaksanakan ketika bulan Ramadhan. Alhasil, saya sebagai panitia pun mau tidak mau harus mengikuti kegiatan ini. Tahun ketiga saya mulai terbiasa merasakan ber Ramadhan hari pertama tanpa keluarga. Banyak kegiatan yang pada akhirnya saya lupa dengan segala hal, saya menikmati hidup ini. Namun, saya hanya beberapa hari berpuasa di perantauan, setelah kegiatan selesai memang sudah tekat saya untuk langsung kembali ke kampung halaman. Lebih tepatnya saya mudik lebih awal daripada teman-teman saya, sehingga saya dapat merasakan ber Ramadhan (hampir) sebulan penuh bersama dengan keluarga saya di rumah.
Ramadhan keempat saya jauh dari keluarga pada tahun 2011. Saya mengikuti kegiatan KKN PPL tahun ini. Tugas yang cukup berat sedang ada di depan mata saya. Jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman kos, jauh dari teman dekat kampus. Namun, saya menikmatinya, karena saya memiliki sahabat baru dan seperti keluarga baru. Program dari kampus ini memang cukup menguras banyak tenaga, namun saya sangat senang menjalaninya. Saat itu awal puasa sampai H-10 sebelum lebaran saya mengikuti kegiatan di sekolah. Banyak hal yang dipelajari, banyak hikmah yang didapat. Sudah sangat mulai terbiasa melakukan sendiri, apa-apa sendiri dan hanya teman dekatlah yang bisa diandalkan. Kenangan berpuasa dengan "keluarga" baru ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Sampai sekarang pun saya masih inget, ketika sahur di kontrakan, ketika buka puasa di kontrakan, dan ketika tarawih di masjid belakang kontrakan. Itu semua masih teringat di memori saya. Kenangan ber Ramadhan yang luar biasa.
Ramadhan kelima saya jauh dari keluarga pada tahun 2012. Pertama puasa memang di rumah, tapi 2 hari kemudian saya harus berangkat kembali ke perantauan untuk menyelesaikan misi dan amanah saya yang belum dikerjakan. Tahun kemarin, adalah ramadhan yang sangat berat buat saya, karena saya harus mengerjakan tugas akhir skripsi saya. Gara-gara mogok 3 bulan tidak mengerjakan skripsi, akhirnya saya tekatkan lagi bahwa tahun ini saya harus selesai, saya harus segera ujian, dan semester ini adalah semester terakhir saya di UNY. Akhirnya tekat saya bulat, saya bertemu dengan dosen pembimbing, minta pencerahan, setelah mendapat pencerahan saya kerjakan, setelah saya kerjakan dikumpulkan, setelah itu menunggu dan lalu revisi kembali dengan judul baru (lagi). Berat rasanya, karena begitu terus setiap minggunya. Namun karena tekat saya sudah bulat, meskipun seberat apapun harus tetap saya jalani karena saya sudah janji pada diri saya dan terutama ayah dan ibu. Saya justru tidak menyangka bahwa ramadhan tahun 2012 adalah ramadhan terakhir saya di kota perantauan, di kota yang penuh banyak kenangan ini. Berkesannya adalah saya sudah bukan mahasiswa aktif lagi di kampus, sehingga saya punya banyak waktu luang di kampus. Salah satu hal yang berkesan adalah saya dan teman-teman saya membuka lapak di kampung ramadhan jogokaryan. Waktu itu kami berjualan bakso ikan dan lumpia seafood. Sebelumnya memang saya dan teman-teman saya ini sudah merencanakan ingin membuka lapak ketikat bulan ramadhan. Alhasil, begitulah yang kami buka, sisa dari hasil jualan ikan Bibi sama Memet, kami buat bakso ikan dan lumpia seafood, lalu dijual di kampung ramadhan Jogokaryan. Tidak begitu banyak pembeli, namun promosi terus dilakukan sama Nani. Mungkin, karena kami datang sangat telat. Penjual yang lain buka lapak dari jam 3 sore, saya dan teman-teman saya sampai di TKP jam setengah 5 sore. Haahahah ternyata jualan tidak semudah yang dibayangkan, apalagi makanan. Alhasil, jualan kami masih sangat banyak dan kami memutuskan untuk membagikannya ke orang jalanan, seadanya yang kami temui. Luar biasaaaaa...
Iyaaaa saya jadi rindu ber Ramadhan di perantauan akhirnya. Padahal pertamanya saya mewek, pengen pulang gara-gara jauh dari ayah ibu. Tapi ternyata sekarang malah merasakan keseruan dan kenangan yang tidak dilupakan bisa merasakan Ramadhan di tanah orang. Mudah-mudahan tahun depan bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan, dan kemungkinan saya pun akan merasakan (lagi) ber Ramadhan di negeri orang. :)
Yang terpenting adalah dimanapun kita ber Ramadhan yang jelas bulan ini bulan berkah, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk ber i'tikaf memohon kepada Gusti Allah. :)
Bismillahhirrohmanirrohim..
0 comments:
Post a Comment