20 July 2013

Halo "SESAMA"

Entah apa yang harus dibicarakan kembali. Terkadang aku pun bingung harus memulainya darimana. Namun, aku teringat satu status fb dari kawanku. Dia mengatakan:
"miris sekali sy mendengar kata2 ini "eh tp dia islam lho/alhamdulillah pemain bola xxx ini islam/dst" LANTAS? MENGAPA kalo beragama Islam? Ibarat sprti melihat dadu dari satu sisi, bahasa udik dari kasus ini adalah NARROW MINDED. Apakah tidak terbaca dengan seksama, di bangsa sendiri saja sesama saudara seagama masih saling tikam bahkan bacok-bacokkan? Di sekitar anda, siapa saja yg pernah membuat hati anda terluka? mereka masih seiman, bukan? -ya, agama TIDAK menentukan karakter..what's in your heart-lah yang menunjukkan siapa anda sebenarnya.." *Milkha maaf ini aku copas statusnya*

Statusnya membuat hatiku bergetar. Aku takut menjatuhkan seseorang melalui perasaannya. Aku takut melukai seseorang lewat ucapanku, aku takut, meskipun aku beragama islam, tapi hanya "agama" saja sebagai status. Semua hal-hal dan pertanyaan-pertanyaan tersebut telah mencengkerama di dalam otakku. Beribu kata tersusun rapi dan menjadikan beberapa kalimat seperti itu. Adakah hal yang sama kita lakukan demikian? Adakah kita telah menyakiti hati orang lain atau bahkan teman dekat kita sendiri?

Mungkin ada banyak hal yang belum aku pahami, bagaimana aku harus bersikap, bagaimana aku harus bercakap, dan bagaimana aku harus menata diri agar aku bisa menjadi pribadi yang baik. Tidak muna memang, karena manusia di dunia ini ingin sekali yang namanya dihargai oleh orang lain. Tapi, apakah kita sudah menghargai orang lain pula, terutama yang ada di sekitar kita? Merekalah yang terkadang meninggikan derajat kita di mata orang yang lain juga. Bukan diri kita sendiri yang meninggikan derajat, jika itu terjadi, mungkin bisa disebut dengan kesombongan.

Andai manusia tahu, betapa bahagianya sebuah perdamaian, betapa bahagianya membantu orang lain yang sedang membutuhkan, betapa bahagianya bisa menyenangkan orang lain. Hal itu adalah yang membuat diri kita merasa, bahwa kita hidup di dunia ini untuk membantu mereka, untuk membantu sesama. Namun, memang hati lah yang menunjukkan kuasanya itu semua. Bisakah dia menerima orang lain itu, bisakah dia menerima apa yang dibenci orang lain, bisakah dia menerima apa yang dibutuhkan orang lain? Could it be? Wallahua'lam. Jawabannya ada pada hati di dalam diri kita masing-masing.

Mungkin terkadang hanya masalah sepele bagi kita, tapi itu adalah hal yang besar bagi orang lain. Tak dapatkah memberikan sedikit kebahagiaan saja? Yang dekat pun belum tentu bisa memberi kebahagiaan, tapi justru yang jauhlah yang terkadang memberi kebahagiaan itu. Yang dekat belum tentu bisa menerima diri kita, justru yang jauhlah yang dapat menerima diri kita apa adanya dengan lapang dada. Mungkin secara kasar, yang dekat itu hanyalah sebagai "perantara" saja. Datang jika ada keperluan.

Bukankah Rasul mengajarkan agar kita selalu mencintai kekerabatan, persaudaraan, perdamaian. Mengajarkan pula tolong-menolong dalam sesama? Apapun yang dibutuhkan oleh orang lain, jika kita mampu membantunya, semua hal pun akan terjadi. Kun Fayakun. Allah memberi pertolongannya melalui tangan-tangannya. Tangan-tangan manusia yang siap untuk membantu sesamanya. Begitulah... 

Mungkin aku juga bukan manusia sempurna. Ini hanya tulisan untuk bercermin diriku saja. Dan hal yang aku rasakan adalah ketika membantu teman yang mempunyai kesulitan, aku merasakan hal yang luar biasa senang. Beban berasa menjadi ringan, meskipun itu bukan masalahku tapi sebisa mungkin pun aku membantunya. Minimal dengan memberi motivasi, minimal dengan memberikan informasi yang menurutnya penting. 

Begitulah dunia, yang hanya menjadi tempat sementaranya hidup. :)
Share:

0 comments: