Pagi menyerukanku agar kegembiraannya dapat mengalir lagi seperti kemarin. Saat itu, minggu pagi. Aku beranjak keluar dan memandang ke arah jendela, dimana biasanya aku melihat seseorang yang sudah lama menungguku. Dia melambaikan tangannya, raganya yang beberapa bulan terakhir ini duduk disebuh kursi roda, membuatku tak henti-hentinya menahan kesedihan yang begitu mendalam. Tapi sebisa mungkin, aku tak menguras air mataku didepannya. Karna dia, dia begitu sempurna bagiku.
“Bella.. cepet donk turun. Aku ingin mengitari taman dan sudut kota lagi.” Teriak suara yang besar dan agak melengking itu. Aku pun bergegas untuk berganti pakaian dan mengajaknya jalan-jalan.
“Iya Ben, sebentar. Aku akan segera turun.” Teriakku pada Benny.
Yah, sosok Benny adalah sahabat dari kecilku. Dia begitu dekat denganku, kecelakaan yang terjadi padanya, membuat dia sempat rapuh dan merasa dia tidak berguna lagi. Aku menangis, ketika mendengar kabar yang tak mengenakkan itu, aku pun sempang pingsan karna aku tak kuat menahan deritanya juga. Dia membutuhkan seseorang yang selalu mendukungnya. Ayah Ibunya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan aku? Aku hanya mahasiswi yang kerjaannya hanya kuliah pulang kuliah pulang saja. Jadi waktuku pun masih sempat aku sisihkan untuk menemani Benny jalan-jalan.
“Lama banget ya kamu dandannya, Bel?” Tanya Benny.
“Aku baru bangun Ben, jadi harap maklum. Lagian ya, kalau mau ngajakin jalan-jalan kan bisa SMS dulu.” Jawabku. “Sudah siap buat gowes?” tanyaku.
“Siap sekali!! Ayook jalaaaaan.” Teriaknya dengan semangat.
Aku pun mendorong kursi rodanya itu. Membawanya mengitari taman dan komplek yang masih cukup asri didekat rumah kami. Tepat di desa Cangkringan, di Sleman. Suasananya yang masih asri, dan pepohonan serta sawah yang masih hijau segar. Terbentang dengan pemandangan gunung Merapi yang masih gagah berdiri disana. “ah.. aku suka tempat ini.” Batinku.
“Bel, kok ngelamun.” Tegur Benny.
Benny, membangunkan pikiran dan lamunanku yang terjadi beberapa saat. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Tak ada angin tak ada topan, tiba-tiba aku menengok dan menjawab teguran Benny.
“Eh, iya Ben. Aku gak ngelamun. Cuma, aku suka banget sama tempat ini. Ini adalah rumah yang aku cintai.. yaa sangat aku cintai.” Ucapku.
“Iyalah jelas, berkat tempat ini kita pun jadi dekat. Coba kalo gak ada tempat ini, kita gak akan bisa dekat kaya gini Bel.” Sambungnya.
Sempat aku terkejut mendengar kata-kata Benny. Tapi, aku pikir aku pun juga suka dengan kata-katanya. Manis sekali.
“Kamu tau Bel, aku gak tau bakal jadi apa kalo gak ada kamu. Kamu memang benar-benar sahabatku yang sangat baik. Beruntung aku bisa mengenal dan dekat denganmu. Pasti laki-laki yang mencintaimu diluar sana lebih sangat beruntung daripada aku.” Ungkapnya.
“Eh.. laki-laki yang mana Ben? Ayahku mencintaiku, tapi justru aku yang beruntung memilikinya.” Jawabku mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum kecut.
Sejak kecelakaan itu terjadi, pembicaraanku dengan Benny jadi lebih seperti mendramatisir. Laki-laki yang mana? Kamu tau, laki-laki yang aku impikan selama ini ada pada dirimu Ben, yah ada pada dirimu.
“Maksudku, pacarmu Bella. Gimana sih?” kata Benny sambil memasang wajah cemberutnya.
Aku melepaskan jariku dari pegangan kursi roda, dan berpindah jongkok menghadap ke arah Benny.
“Hmmmm... bukankah kamu tau sendiri. Aku sedang menunggu seseorang. Tapi dia masih kurang berani untuk mengungkapkan itu. Ada banyak sih, tapi pada cemen semua. Suka tapi gak pernah diungkapin sama aja kan?” kataku.
Wajah Benny sempat memerah dan dia agak gugup.
“Kenapa gak kamu duluan yang bilang?” Tanyanya.
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “ Karna menurutku, laki-laki yang mengungkapkan perasaannya adalah seorang laki-laki yang jantan dan pemberani.” Jawabku.
Aku berdiri dan melanjutkan perjalananku dengannya ditepian sungai. Kami memang suka sekali bermain ditepian sungai itu. Aku menghentikan langkahku sejenak dan berjalan ke arah tepian sungai meninggalkan Benny sendirian sesaat.
“Sini Ben, nyemplung...” panggilku padanya.
“Ahh.. kamu ngece. Aku kan belum bisa berdiri.” Jawabnya.
“Bukan begituu.. seenggaknya ayok laah berusaha berdiri Ben..” kataku.
“Gak bisa Bel, aku gak bisa.” Ujarnya lagi.
Aku mendekati Benny dan memberinya semangat bahwa dia bisa berdiri dan akan bisa berjalan seperti dulu. Tiba-tiba Benny memegang pergelangan tanganku.
“Bel, makasi yaa. Kamu slalu memberiku semangat.” Bisiknya.
Aku tertegun memandang wajahnya, pipiku menjadi merah karena ucapannya. Iya, aku sangat sayang padamu Ben, sangat menyayangimu. Seandainya kamu tahu, aku punya perasaan ini sejak SMA dulu. “Tapi ya sudahlah” batinku.
“Iya Ben, sama-sama. Lagian kita kan sahabatan. Toh slalu memberi dukungan dan semangat kan.” Jawabku tersenyum.
Tiba-tiba sesaat setelah aku meninggalkannya ke tepian sungai, Benny memanggil namaku.
“Bella.....” teriaknya. “Kamu mau nggak jadi pacarku?”
Aku kaget mendengar ucapannya. Aku gak berani melihatnya, tapi kata-kata itu terdengar jelas ditelingaku. “Coba Ben, sekali lagi kamu katakan.” Batinku. Itulah keingananku selama ini. Seorang laki-laki yang aku cintai yang aku sayangi, tiba-tiba mengatakanku seperti itu. Ya Tuhan.. ini sebuah mimpi atau hanya sekedar mimpikah?
“Belll... aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu slalu ada disampingku, meski aku seperti ini.”
“Iya.. dia mengatakannya lagi.” Aku mencoba membalikkan badanku dan tiba-tiba aku semakin terkejut dengan keadaanya yang bisa berdiri tegap. Aku berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya yang tinggi itu.
“Koook?” aku gugup mengatakan sesuatu padanya “Ini bener-bener keajaiban Ben. Kamu bisa berdiri dan berjalan.”
“Aku sebenernya sudah bisa berjalan tadi pagi sebelum aku menjemputmu ke rumah. Aku sengaja ingin kasi kejutan ini sama kamu.” Ucap Benny.
“Jahat bener kamu. Aku berat tau dorong-dorong kamu.” Kataku.
“Jadi gimana? Mau gak?” tanyanya.
Aku semakin gugup dan bingung harus jawab apa.
“Mau apa?” tanyaku lagi pura-pura tidak tahu.
“Ya itu tadi, jadi pacar aku. Aku jantan dan pemberani kan?” Katanya.
Aku tertawa melihat tingkahnya itu. Aku menyindir kamu sebenernya, ternyata sadar juga. Aku menganggukkan kepalaku memberinya jawaban bahwa aku mau menjadi pacarnya.
Aku melihat sinar mentari saat itu tersenyum melihatku, menandakan ikut berbahagia atas apa yang dialami padaku dan dirinya...
Vida Hasan
*ditulis tanggal 23 Mei 2011*
0 comments:
Post a Comment