17 May 2016

Berlin (end)

-- 4 Juni 2015--

Perjalanan kami di Berlin belumlah selesai. Masih ada hal baru yang harus saya intip di Berlin ini. Pagi ini, saya dan Debora harus meninggalkan Hostel karena memang jadwal kami hanyalah 1 malam saja. Debora akan melanjutkan perjalanan ke belahan dunia Weimar sedangkan saya akan menuju ke belahan bumi Warnemunde (Rostock) untuk bertemu dengan kawan lama saya.



Debora akan berangkat siang hari ini, sedangkan saya akan berangkat keesokan harinya. Tapi, alhamdulillah saya pun akhirnya juga sudah mendapatkan tempat untuk menginap semalam. Di salah satu rumah yang Ayu juga menginap. Letaknya tidak jauh dari daerah Alexander Platz. Sembari menunggu siang hari tiba, lagi-lagi kami harus membeli tiket sehari supaya kami dapat berkeliling Berlin sepuas kami. Oh iya, tiket di Berlin juga ada tiket Ring 1-3, jadi sistemnya ada tiket dalam kota dan luar kota. Harganya pun berbeda-beda. Lebih murah yang dalam kota pastinya. Cuman kalau boleh menyarankan sih lebih baik menggunakan tiket yang sekalian sampai ring 3 (luar kota) karena kalau ke Potsdam lebih gampang.

Nah, hari terakhir kami bersama ini kami menyisihkan sedikit untuk berkunjung ke istana Charlotten. Kami sengaja jalan kaki, karena memang sayang ongkos, tapi ujungnya memang akhirnya kami pun beli tiket lagi karena ternyata perjalanannya sangatlah lumayan sekali. Istana ini, besar namun sangat sepi, entahlah mungkin karena masih pagi hari sehingga belum ada wisatawan yang menuju ke tempat ini. Tapi, memang akhirnya seru ketika tempat wisata itu sepi, karena berasa tempat wisata sendiri dan bebas akan bergaya foto seperti apa.

Jeprat jepret sepuas hati sampai memory full pun tidak ada masalah sama sekali. :p

Setelah dari istana Charlotten, kami pun melanjutkan ke tempat wisata selanjutnya. Menuju ke gereja paling tua di Jerman dimana gereja tersebut merupakan bukti atau saksi sejarah dari terjadinya perang dunia kedua. Gereja tersebut bernama Kaiser Wilhelms Gedaechtnis Kirche. Gereja ini dibangun pada tahun 1890 dan dibom atom perang dunia kedua pada tahun 1943. Gereja ini mengingatkan saya ketika dulu saya kuliah lalu presentasi tentang sejarah terjadinya perang dunia kedua di Jerman. Judul yang sama dan bahasan yang sama tentang gereja ini.



Waktu sudah menunjukka sekitar 12 siang. Sedangkan Debora sudah harus melanjutkan perjalanan kembali menuju terminal dan lanjut ke kota Weimar (kota dimana sastrawan Schiller dan Goethe manjadi saksi persahabatan mereka). Saya pun bergerak menuju arah Alexander Platz. Tempat dimana saya akan bermalam malam ini. Setelah itu, saya pun melanjutkan kembali bergerak menuju ke arah stadion bola di Berlin. Iya, karena saat itu akan dilangsungkan pertandingan final liga champion saya pun ingin ikut merasakan euforia pertandingan ini. Akhirnya kami berdua (saya dan Ayu) bergerak menuju ke Olymphia Stadion, salah satu stadion yang digunakan ketika pesta piala dunia tahun 2006.


Euforianya sangat terasa sekali, banyak wartawan dan wisatawan yang hadir ikut meramaikan pertandingan ini. Angan-angan juga ingin menonton namun apalah daya, saya sudah melaksanakan janji untuk berjumpa dengan teman saya di daerah Warnemunde, Rostock. Setelah dari stadion kami menuju ke Holacoust dan daerah pusat tembok Berlin, atau biasa disebut dengan Gallery Art. Dimana tempat ini merupakan sisa-sisa dari tembok Berlin yang telah dihancurkan oleh seluruh rakyat Berlin.

Holacoust adalah tempat pemakaman orang-orang Yahudi. Nah, foto di bawah ini merupakan holacoust loh. Saya jujur heran, ada gitu ya pemakaman model seperti ini :D tidak menakutkan sama sekali masalahnya -__- nah, di bebatuan yang saya duduki itu (sebenernya tidak boleh diduduki sih) ada tulisan-tulisan nama dari para korban. Cuman memang jadinya agak semacam bangunan bebatuan saja. Saya hanya mengira, mungkin untuk mengenang dibuat seperti ini :)



Tembok Berlin dibangun pada tahun 1961. Pada tahun 1989 tembok tersebut dihancurkan tepatnya pada tanggal 9 November. Hal ini disebabkan karena saat itu Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu menjadi negara republik Jerman. Tembok tersebut pun dibuat beberapa graviti untuk mempercantiknya. Graviti atau gambar-gambar karikatur tersebut menggambarkan tentang kejadian masa lampau di Berlin, tentang tentara NAZI, tentang pemerintahan di Jerman, bahkan ada juga tentang alam yang menginginkan Berlin tetap aman-aman saja. Begitulah kemungkinan sekilas ceritanya...




Kami bergegas menuju ke arah tujuan kami selanjutnya, menuju kembali ke restoran Nusantara di Berlin. Kali ini sepertinya saya akan menikmati nasi goreng buatan tangan orang Indonesia asli. Hmmm... Nikmatnyaaaa :))) Kami pun pulang dengan kondisi kenyang XD

Waaaah terima kasih kakak yang telah menampung saya semalam di Berlin. Rasanya memang agak terburu-buru karena tiket bus saya sangat awal berangkatnya pukul 8 pagi. Jadi, saya akan keluar rumah sekitar pukul 7 pagi. Terima kasih Ayu sudah menampung saya, terima kasih semuanyaaa...

And now, I walk alone going to Warnemuende, Rostock. Hey, wait me the beach!!!

--vidahasan--
Share:

0 comments: