Hal luar biasa yang membuatku sangatlah sedih, sangatlah menyesal akan kehilangan sosokmu yang begitu aku harapkan untuk menjadi pendampingku kelak sehidup semati, membesarkan anak-anak kita bersama-sama. Namun apalah daya, Tuhan menakdirkan berbeda, mungkin kamu bukan takdirku, dan aku bukan takdirmu.
Keputusan berpisah ini, amatlah sangat berat, terlebih lagi kamu adalah sosok yang slalu membuatku terus tersenyum, terlebih memberiku amunisi agar aku bertahan hidup demi mewujudkan mimpiku. Terima kasih karna kamu pernah ada untuk setiap detik, menit untukku. Terima kasih karna kamu pernah menjadi bagian dari hidupku, meskipun hanya sekejap, seperti halnya jepretan kamera.
Hey kamu yang sekarang telah menjadi bagian dari diri orang lain, sesungguhnya aku masih slalu mengharap akan kehadiranmu. Sesungguhnya aku masih slalu berharap bahwa kamu selamanya menjadi bagian dari diriku. Mungkin cinta ini takkan pernah layu, sebelum aku menemukan sosok pengganti dirimu. Entah ramuan apa yang kamu beri untukku, hingga sampai saat ini aku masih mencintaimu, menyayangimu, meskipun kamu sudah berada di pelukan orang lain.
Aku hanya berharap, Tuhan merubah takdir agar kamu menjadi milikku selamanya. Tapi, mungkin ini hanyalah ego yang aku pegang, mungkin karna aku masih hanya belum menemukan sosok pengganti dirimu. Hingga akhirnya aku masih slalu mengingatmu. Jika saja, kejadian pahit itu tak terjadi, mungkin saat ini kita sudah bersama-sama demi meraih masa depan kita.
Ah sudahlah, aku hanya mendoakanmu dalam bisu. Mendoakanmu dalam kejauhan, karna aku takkan pernah lagi meraih tanganmu yang lembut. Mendoakanmu adalah hal yang mungkin paling bisa saat ini aku lakukan. Semoga kamu bahagia menjadi bagian dari dirinya. 😊
Mannheim, 11. Februari 2015
-Vida Hasan-
0 comments:
Post a Comment