15 July 2014

Antara Pemalang dan Yogyakarta :)

Dulu, pas SMA masih terutama pas jaman-jaman mau ujian nasional, jujur saya masih belum tahu mau kuliah dimana. Masih belum ada bayangan. Bahkan dulu dengan kekeuhnya pengen di Jakarta, Bandung, dan cuma Semarang (biar deket sama rumah jadi biar keseringan pulang) hehe. Kalo buat menetapkan pilihan jurusan sih emang udah ada. Maklum saja, karna saya dulu jebolan kelas bahasa juga, alhasil ya mau ngambil jurusan yang masih berkaitan dengan bahasa-bahasa. Bahkan, karna saking kepinginnya dulu masuk media, mau banget ambil jurusan komunikasi. Jelas saja biar bisa masuk dibagian media publik gitu, kaya program TV, jurnalistik, fotografer, perfilman dan lain-lain. Pokoknya yang menyangkut ke sana.

Dengan rasa bangga, saya dulu ingin mengambil jurusan komunikasi. Iya komunikasi Di Universitas ternama di Semarang. Saya langsung saja berkonsultasi dengan guru bimbingan konselling saya di sekolah. Beliau menunjukkan rating jurusan komunikasi di Univ tersebut. Tinggi. Iya mungkin bisa diibaratkan seperti hotel bintang 5. Saya was-was, saya takut akhirnya saya mundur dengan jurusan ini dan beralih dengan jurusan bahasa Inggris, bahasa Jerman dan psikologi. Iya saya mempunyai 3 pilihan jurusan, padahal jika saya ikut SNMPTN dan ingin mengambil 3 jurusan tersebut, saya harus mengikuti tes IPC (ilmu pengetahuan campuran) atau saya harus ikut tes ipa dan ips juga. Padahal saya tidak mempunyai basic kedua-duanya. Mungkin kalau ips masih bisa ditampung, nah kalo ipa saya angkat tangan, karna sama sekali di jurusan bahasa tidak belajar ipa, terkecuali matematika. Itu pun masih belum apa-apa dibandingkan di ipa dan ips, kami anak bahasa sudah kalang kabut hihi :)

Also, kembali lagi ke pilihan hidup tadi #eh. Iya, saya mundur, saya pesimis, karna ribuan orang mendaftar dan meminati jurusan ini. Intinya saya takut sebelum berperang, karna saya justru lebih memilih zona aman. Alhasil, saya pun mengikuti tes ujian masuk di salah satu universitas negeri di semarang, dan memilih jurusan bahasa inggris dan psikologi. Iya, karna di universitas ini tidak ada pilihan jurusan bahasa Jerman. Makanya, saya ambil kedua jurusan tersebut. Lambat laun, ketika mengerjakan soal entah kenapa sudah mendapatkan feeling bahwa rejeki saya bukan di sini. Ada, di tempat lain. Saya hanya lillahita'ala dengan hasilnya. Apapun hasilnya insyaallah bakal diterima dengan senang hati :) dan benar saja, ketika pengumuman hasil pun saya tidak lolos seleksi masuk di universitas tersebut. Kecewa? Hmm sedikit kecewa memang. Karna beberapa teman saya satu kelas, diterima di Univ tersebut. Kenapa saya tidak? Iri? Pastinya, sedikit iri. Ini jujur. Cuma, saya yakin Allah punya rencana yang baik buat saya. Jadi, kecewa saya cukup hari ini saja, besok dan seterusnya tidak boleh kecewa :) that's it!

Saat itu, setelah ini, guru BK saya menawarkan saya di Universitas negeri di daerah lain. Kebetulan, saat itu di Jogja membuka tes ujian masuk. Saya ditawari, dan di Univ tersebut ada jurusan Bahasa Jerman, iya dengan title S.Pd (sarjana Pendidikan). Jujur, saya sebenernya enggan dengan yang berbau pendidikan, karna kata orang pasti ujungny jadi guru. Saya mau jurusan bahasa Jerman, tapi yang murni. Berhubung ada di Bandung dan Jakarta, dan dulu masih belum kepikiran ke sana, yasudah saya mendaftar di jogja.

Iya, jurusan terakhir yang saya minati Bahasa Jerman pun tertulislah di lembar formulir pendaftaran. Bismillah, semoga jadi rejeki saya di sini. Sama, seperti di Semarang, dari awal saya mendaftar di Jogja seperti merasa lekat dengan kota ini. Padahal, saya belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di kota kraton ini. Piknik pun belum pernah sama sekali. Saya hanya selalu bepergian sekitar Jakarta-Bandung-Bogor dan Semarang. Wilayah ini, belum pernah sama sekali saya kunjungi dan saya masih sangat buta dengan yang namanya kota Yogyakarta. Tak ada bayangan sama sekali menginginkan di kota ini. Padahal teman-teman saya bilang, ini kota cantik, kota penuh sejarah jawa. Benar saja, ketika pertama kali, benar-benar pertama kali menginjakkan kaki di Jogja, saya mencium aroma kenyamanan di sini. Iya. Dan saya ingin belajar di kota yang (mungkin dulu) sebutan kota pelajar.

Dengan sepenuh hati saya mengerjakan soal, dan entah kenapa ketika mengerjakan soal seperti langsung lancar mengerjakan dan merasa yakin saya akan belajar di sini. Tapi, tetap saja lillahita'ala apapun keputusannya, Gusti Allah sudah merencanakan hal yang baik buat saya. Terang saja, pas pengumuman saya diterima. Awalnya saya santai, karna saya sengaja ingin mengecek nanti-nanti saja di warnet. Saya justru berkunjung ke rumah simbah. Tiba-tiba teman seperjuangan saya, yang juga mendaftar di Jogja bertanya, gimana dengan hasil pengumumannya? Saya dengan santai menjawab, saya tidak tahu, saya belum cek data. Saya balik bertanya dengan hasil tes teman saya, dan dia bilang, dia tidak lolos seleksi. Saya deg degan, saya takut. Entah kenapa perasaan ini tetiba datang sendiri. Berbeda dengan pengumuman tes seleksi yang ada di Semarang, santai, tidak setakut dan segemetar ini. 

Teman saya pun menawarkan untuk mengecek data saya. Sebenrnya saya tidak mau, karna saya ingin melihat hasilnya sendiri. Tapi apalah daya, karna sebegitu penasarannya saya akhirnya memberi nomer pendaftaran saya ke teman saya. Dan benar saja, teman saya bilang saya lolos seleksi. Saya tidak percaya, tapi dia sungguh-sungguh mengatakannya. Sekali lagi impossible. Bahkan saya sampai bilang, mungkin dia salah tulis atau salah apa gitu, dan dia bilang lagi, bener karna di sana ada nama saya. Sujud syukur alhamdulillah. Lagi dan lagi saya lolos dengan hal yang begitu mendesam seperti ini. Teringat ketika dulu masuk SMA N 2 Pemalang, dengan nilai rata-rata 7 koma sekian, minim di bawah, dan udah ketar-ketir karna nilai saya termasuk salah satu nilai kritis. Dan alhamdulillah diterima di sekolah ini :)

Iya, alhamdulillah. Petualangan saya pun dimulai di kota yang kental akan adat kejawennya. Di kota yang berhati nyaman, dengan lingkungan yang ramah. Iya, Arvida Rizzqie Hanita, jurusan Pendidikan Bahasa Jerman, memulai mimpinya dari sini, dari kota ini. Gusti Allah punya rencana buat saya. :)

Frankfurt, 15. Juli 2014


Share:

0 comments: