Hali Halo manteman sekalian,
udah lama yaa nulis blognya keundur-undur terus hihi kadang tugas nulis yang lain juga masih harus dikerjakan, belum lagi ngisi content buat podcast. Yap! Selain blog aku sekarang juga sedang masuk ke dunia podcast. Nanti link podcast aku save di contact blog ini yaa.. Sebenarnya, cerita di podcast juga nggak beda jauh sih sama tulisan-tulisanku yang di blog. Hanya saja, podcast sebagai media ruang berekspresiku supaya lancar untuk cuap-cuap. Siapa tahu, nanti aku akan jadi vlogger gitu kan atau jadi influencer hihihi *ngarep banget dah Vida mau jadi influencer :')
Nah kan, saking banyaknya cincong. Aku mau share aja sih ke teman-teman tentang nama panggilan di negeri barat. Karena pengalamanku bertemu dengan orang-orang Eropa, terutama di Jerman jadi aku akan lebih menceritakan yang ada di sana dan yang aku alami aja yaa guys...
Nah, jadi suatu kali pernah aku berkunjung ke salah seorang keluarga atau teman. Saat itu aku sudah pulang dari Jerman sih, jadi ibaratnya mau silaturahim karena dua tahun tidak berjumpa dengan mereka. Aku ditanya terkait nama panggilang "Lah Vida di sana dipanggilnya apaan dong? Kalau bahasa Jermannya mbak atau mas apaan?" Duuuh.. kalau ditanya terkait itu, di Jerman susah untuk mengenal istilah nama panggilan yang sopan untuk yang lebih tua dari kita ya. Kalau mau panggil Bruder atau Schwester juga aneh aja gitu jadinya. Aku yakin, di sana pun istilah demikian bukan jadi patokan yang utama.
Apalagi kalau dipanggil Frau atau Herr hihi istilah demikian digunakan ketika kita bertemu dengan orang yang memang sudah jauuuuh usianya dari kita. Tapi, itu harus menggunakan nama keluarga kalau kita mau memanggil mereka dengan sebutan Herr atau Frau. Contohnya nih, mungkin teman-teman pernah dengar pemain sepakbola Thomas Mueller atau Bastian Scwheinsteiger nah, kata yang bercetak tebal dan aku garis bawahi itu adalah nama keluarga, jadi bisa dipanggil Herr Mueller atau Herr Schweinsteiger atau kalau untuk nama perempuan contohnya Brigitte Petri nah, bisa dipanggil Frau Petri.
Panggilan tersebut ditujukan untuk orang yang baru pertama ketemu sama kita dan memang belum kenal dekat yaaa... Biasanya meskipun mereka sudah jauh umurnya dari kita, kalau mereka maunya dipanggil namanya aja juga it's oke loh buat mereka. Katanya, biar berasa lebih akrabnya dan nggak ada jarak gitu kalau pas ngobrol bareng-bareng. Makanya, jangan heran ketika orang-orang barat nih mau Eropa atau Amerika, mereka akan menyebut saja nama Ayah/ Ibu/ Kakak mereka dengan nama saja tanpa ada embel-embel apapun. Orang tuanya marah nggak? No. Tapi begitulah adat di sana.
Jadi, di sana nggak mengenal istilah "dih nggak sopan banget sama orang yang lebih tua cuman dipanggilnya nama aja". Bukannya nggak sopan sih, tapi lebih ke mengakrabkan diri dan nggak mau ada jarak aja. Kesannya, kalau dipanggil dengan panggilan formal berasa ada jarak di antara kita *halaaah... :D
Pernah suatu kali, orang tua salah satu penghuni dulu tempat kerjaku. Mereka adalah orang yang sangat baik yang pernah ku kenal. Mereka selalu cerita, kalau mereka senang sekali melakukan sebuah perjalanan/ travelling. Aku selalu kagum dan terkesan dengan cerita-cerita serunya mereka dengan menikmati masa tuanya jalan-jalan keliling dunia. Itu mimpi mereka sebelum mereka dipisahkan oleh maut, katanya. "Vida, wie alt bist du?" -- "Ich bin 24 Jahre alt" -- "ah.. du bist noch sehr jung. Mach was du machen willst" mereka menanyakan umurku dan mereka bilang kamu masih sangat muda. Lakukan hal-hal yang mau kamu lakukan yaa!
Pada mereka aku pernah memanggil Herr dan Frau. Tapi, mereka selalu menolak dengan memanggil itu. Aku yang sangat polos kala itu, karena merasa nggak sopan memanggil namanya aja jadi kikuk. Tapi rupanya, setelah sadar aku tau betul bahwa mereka ingin aku bisa lebih luwes dan akrab ngobrol sama mereka. Bahkan aku sangaaaaat ingaaaat betul ketika hari terakhir bekerja di panti tersebut, mereka sengaja datang dan memberi sebuah bingkisan untukku. Tapi, sayangnya saat itu aku sedang tidak berada di tempat, kami sedang makan di luar bersama penghuni yang lainnya. Sooooo surprise... meski isinya hanya coklat, tapi itu sungguh sangat berkesan buatku dapat bingkisan dari orang tua salah satu pasienku.
Aku kira, aku tidak akan berjumpa dengan mereka di hari terakhirku di Jerman. Tapi ternyata, Allah mentakdirkan aku bertemu kembali dengannya keesokan harinya saat aku akan benar-benar pamitan dengan para pegawai yang lainnya. Aku sangaaaaat bahagiaaa bisa bertemu dengan mereka kembali di hari terakhirku sebelum aku pergi ke Frankfurt keesokan harinya. Mereka berdua memelukku erat seperti anak sendiri, dan di situ aku merasakan kehangatan yang ada pada mereka. Ah... seriusan rindu mereka... :(
Sayangnya aku tak sempat berfoto bersama mereka sebagai album kenanganku. Bahkan, cerita-cerita mereka sampai sekarang masih saja aku ingat. Apa yang mereka katakan dan apa yang mereka ceritakan benar-benar masih melekat dalam diri ini. Entah kapan lagi aku bisa berjumpa dengan mereka... Eh, aku kan lagi cerita nama panggilan kan yaa.. jadi nyambung ke mereka orang-orang baik. :')
Pada intinya, aku rasa Indonesia adalah salah satu negara yang mungkin paling sopan di antara berbagai macam negara yang memiliki panggilan "sopan" itu. But anyway, buatku aku udah terbiasa mau dipanggil hanya dengan nama saja meski memang ada yang usianya lebih muda dariku. Salah satu lembaga yang melakukan sistem panggilan nama yaa Goethe Institute, lembaga bahasa Jerman. Di sana, kita belajar tanpa memanggil pengajarnya Frau/ Miss/ Ibu. Jadi, ketika di luar setelah belajar pun cukup memanggil pengajarnya dengan sebutan nama saja. Tanpa ada embel-embel. Tapi, aku merasa lebih dekat dan seperti teman sendiri.
Hal itu, juga berlaku seperti TK di Jerman. Dulu, waktu nganterin adik asuhku berangkat ke TK, pengajarnya hanya dipanggil nama saja oleh anak-anak didiknya. Aku kaget sih sebenernya, karena nggak dipanggil dengan sebutan Frau. Bahkan gurunya pun kalau ketemu denganku, suka bilang "Ruf mich nur Suzanne, Vida". Sejak saat itu, aku jadi merasa punya teman karena memang berasa tak memiliki jarak dengan orang-orang di sana.
Tapi, tiba-tiba merasa bahagia dan semenyenangkan itu. :')
Kata orang, cara untuk mengenal seseorang itu
memiliki beragam keunikan masing-masing
Karena seringkali yang paling unik itulah,
yang akan jadi lebih sering dikenang dan diingat
Jadi, kalau kenalan sering diunik-unikin yaa
biar gampang diingatnya dan dikenang hihihi
- vidahasan -

1 comments:
Makasi kak
Post a Comment