Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,
hai teman-teman, apa kabar? Semoga selalu sehat dimanapun teman-teman
berada ya. Dengan kondisi virus yang pandemi seperti ini, jangan lupa untuk
selalu jaga imunitas tubuh kita dan tetap terus berdoa supaya wabah ini segera
berakhir dan Bapak-Ibu, teman-teman, dan adik-adik bisa melakukan aktifitas
seperti sedia kala. Aku tahu, pasti berat ya dengan harus stay at home dan
sudah satu bulan lamanya bahkan pasien covid-19 masih terus bertambah dari
waktu ke waktu. Sedih sebenernyaaa... tapi di balik sebuah peristiwa, aku yakin
ada Rahmat-Nya yang terus mengalir untuk kita masing-masing.
So well, aku tidak akan menyoroti pemerintah yang lambat untuk
penanganan covid-19 ini, atau jumlah pasiennya atau apapun itu. Back to my
basic and my interest about education yaaa... Di masa pandemic ini ada
beberapa hal yang perlu disoroti. I wanna begin my story about school in a
little region in Indonesia deh yaa…
Jadi, saat
jadi pengajar muda dulu di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di
pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, aku melihat potret
pendidikan yang buatku banyak sekali bersyukur. Daerah yang kawasannya memang
jauh dari perkotaan, ketika harus belanja alat tulis harus menempuh perjalanan
selama kurang lebih 45 menit dengan menggunakan sepeda motor. Mungkin beberapa
orang yang wilayahnya masih bisa dilalui dengan kendaraan umum, bisa dilalui
dengan sangat mudah. Namun, ketika teman-teman terjun langsung kalian akan
melihat bahwa untuk menuju ke sana kita harus menggunakan mobil carteran yang
biayanya bisa sampai 20 ribu hingga 30 ribu. Saat itu, buatku masih mahal
karena dengan biaya segitu, aku bisa belanja sayur di pasar malam yang hanya
ada satu minggu sekali di desaku. Warung saja bisa
dihitung dan itupun tidak lengkap seperti warung-warung yang ada di desa dekat
kota. Rasanya ingin sekali saat itu punya pintu kemana saja ala doraemon biar
kemana-mana mudah L
Nah, dari akses yang demikian dengan fasilitas yang terbatas aku melihat
anak-anak sekolah berjalan dari rumahnya. Jarak dari rumah ke sekolah pun 4
kilometer melewati hutan sawit, coklat, naik tanjakan melewati bukit yang
bernama bukit Sion, bahkan bisa melewati batas negara kita sendiri Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, bahkan kalau dengar cerita mereka melewati rangkain
pernak pernik itu, mereka bisa bertemu dengan babi hutan, ular cobra atau
sejenisnya yang masih hidup di hutan. MashaAllah yaaa... meskipun demikian,
mereka tetap bersemangat buat melalui perjalanan itu. Bahkan ketika aku
merasakan, bisa semenyenangkan itu mereka melaluinya. Aku melihat raut wajah
bahagia dari mereka, karena aku mengikuti perjalanan mereka dari rumah ke
sekolah dan begitu pun sebaliknya. J
Masaku di sana sempat belum ada listrik selama empat bulan lamanya, bahkan
tower saja baru dipasang dua bulan sebelum aku sampai di desa. Sinyal pun masih
timbul tenggelam kalau nggak dapat tempat yang punya sinyal kencang, sekencang
kamu berlari (halaah.. mulai halu) :D Air? Ya,
kami sempat kekeringan selama delapan bulan lamanya. Semua sungai
benar-benar kering tak ada air, pada akhirnya kami harus membeli air yang
biayanya tidak murah. Sumber mata air yang ada di bawah tanjakan dekat rumah
pun sudah tak dapat menampung untuk mandi dan cuci baju kami. Terus gimana?
Tentu saja, bermodalkan air yang dibeli tersebut dan bermodalkan air milo (air
yang berwarna coklat). Pokoknya seada-adanya sisa air di sana yang penting bisa
kebagian untuk mandi semua penghuni rumah.
Oh ya, aku tinggal di keluarga bugis beranggotakan Bapak, Mamak, dan empat
adik angkatku ditambah aku jadi kami ada bertujuh dalam satu rumah. Mereka
keluarga yang baik dan benar-benar tulus buat bantuin aku selama aku berada di
sana.
Well, begitulah sekilas tentang kehidupan di daerah. Nah, apa yang menjadi masalah selama pandemi ini belum selesai? Kalau dengar kabar dari warga desa mereka kesulitan untuk mengakses sekolah
secara daring. Mungkin kalau teman-teman bisa melihat, di kota besar seperti di
Jakarta atau dimanapun itu dapat diakses dengan mudah menggunakan video call
atau istilah kerennya sekarang menggunakan aplikasi zoom. Dengan mudah
mereka dapat mengakses itu semua, meskipun memang juga tidak mudah belajar
dengan melalui video call. Aku tau itu sulit, tapi tetap disyukuri yaa karena
hal itu memudahkan teman-teman yang mengajar untuk tetap bisa berkomunikasi
dengan anak didik teman-teman.
Apa kabar di daerah? Beberapa sumber mengatakan bahwa pembelajaran
secara online sangat sulit karena mereka masih belum memiliki database keluarga
atau bahkan nomor telefon dari orang tua murid. Kalau menggunakan smartphone
masih mudah, tapi kalau yang bukan? Bagaimana cara menyampaikannya,
sedangkan semua teman-temannya (terutama di perkotaan yang mudah aksesnya)
masih bisa berkomunikasi atau belajar menggunakan via WhatsApp, zoom dan
platform sejenisnya. Itu tidak hanya terjadi di daerah yang dekat dengan
perbatasan saja, tapi potret itu pun terjadi di daerah dimana saat ini aku
bekerja. Salah seorang guru merespon pendapat tentang pembelajaran secara daring
dan beliau mengatakan „Ya sangat susah pembelajaran demikian. Kita jadi seperti
makan gaji buta karena untuk mengakses hal demikian masih belum terjangkau.
Kalau orang tuanya punya akses WA semua sih ya nggak masalah, lah kalau yang
nggak punya bagaimana? Paham?“
Mungkin itu terjadi tidak hanya di daerah penempatanku mengabdi dulu atau pun tempat kerjaku sekarang, bisa jadi masih banyak daerah di pedalaman Indonesia yang masih belum bisa mengakses itu semua. Kalau ngobrolin tentang masalah pendidikan di Indonesia yang masih belum merata ini pasti tidak akan ada habis-habisnya. Masih saja ada yang harus dibahas dan terus ditelaah, banyak hal menarik yang perlu dikupas secara tuntas. Lalu apa solusinya jika demikian?
Pada akhirnya, yang harusnya social atau physical distancing mau
nggak mau para guru yang masih belum bisa mengakses anak muridnya tersebut
harus rela berkunjung ke rumahnya untuk memberikan tugas sekolah supaya mereka
tetap belajar di rumah. Itu salah satu usaha yang dilakukan oleh beberapa guru
di daerah. Satu hal lagi, saat ini kemendikbud membuat sebuah program dengan
belajar melalui TV (channel TVRI), hmmm... tapi kesulitan kembali untuk
di daerah adalah sangat jarang mereka mempunyai TV dan dapat mengakses channel
tersebut. Aku akui mereka mempunyai usaha yang baik untuk membantu para
guru di masa pandemic seperti sekarang ini, namun apakah pernah terfikirkan
yang di daerah akan dapat menjangkau itu semua?
Kita semua
tahu teman-teman, bahwa Indonesia itu terdiri dari ribuan pulau, suku, ras
bahkan budaya. Untuk bisa menjangkau pendidikan di seluruh wilayah Indonesia
pun tidak mudah, karena masing-masing butuh pengorbanan untuk bisa
menjangkaunya. Aku jadi kepikiran aja sih, pemerintah masih memikirkan solusi pendidikan
di daerah nggak ya karena ada pandemic seperti sekarang ini? Masihkah peduli
dengan hal itu? J
Let think
together about it. Aku mungkin belum bisa
melakukan banyak hal karena aku bukan power rangers ataupun super
woman. Karena aku yakin yang bisa dilakukan oleh kita ya cukup dari diri
kita sendiri dulu aja, meskipun kecil tapi setidaknya itu bisa memberikan
dampak yang besar bagi lingkungan sekitar kita. J
Wassalamu’alaikum
Warohmatullohi Wabarokatuh
Do your best yaa guys and dont forget to pray always
Because He would help you everytime and He never let you alone
-vidahasan-

0 comments:
Post a Comment