14 April 2020

POTRET SFH (SCHOOL FROM HOME) DI DAERAH


Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,

hai teman-teman, apa kabar? Semoga selalu sehat dimanapun teman-teman berada ya. Dengan kondisi virus yang pandemi seperti ini, jangan lupa untuk selalu jaga imunitas tubuh kita dan tetap terus berdoa supaya wabah ini segera berakhir dan Bapak-Ibu, teman-teman, dan adik-adik bisa melakukan aktifitas seperti sedia kala. Aku tahu, pasti berat ya dengan harus stay at home dan sudah satu bulan lamanya bahkan pasien covid-19 masih terus bertambah dari waktu ke waktu. Sedih sebenernyaaa... tapi di balik sebuah peristiwa, aku yakin ada Rahmat-Nya yang terus mengalir untuk kita masing-masing.

So well, aku tidak akan menyoroti pemerintah yang lambat untuk penanganan covid-19 ini, atau jumlah pasiennya atau apapun itu. Back to my basic and my interest about education yaaa... Di masa pandemic ini ada beberapa hal yang perlu disoroti. I wanna begin my story about school in a little region in Indonesia deh yaa…

Jadi, saat jadi pengajar muda dulu di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, aku melihat potret pendidikan yang buatku banyak sekali bersyukur. Daerah yang kawasannya memang jauh dari perkotaan, ketika harus belanja alat tulis harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit dengan menggunakan sepeda motor. Mungkin beberapa orang yang wilayahnya masih bisa dilalui dengan kendaraan umum, bisa dilalui dengan sangat mudah. Namun, ketika teman-teman terjun langsung kalian akan melihat bahwa untuk menuju ke sana kita harus menggunakan mobil carteran yang biayanya bisa sampai 20 ribu hingga 30 ribu. Saat itu, buatku masih mahal karena dengan biaya segitu, aku bisa belanja sayur di pasar malam yang hanya ada satu minggu sekali di desaku. Warung saja bisa dihitung dan itupun tidak lengkap seperti warung-warung yang ada di desa dekat kota. Rasanya ingin sekali saat itu punya pintu kemana saja ala doraemon biar kemana-mana mudah L

Nah, dari akses yang demikian dengan fasilitas yang terbatas aku melihat anak-anak sekolah berjalan dari rumahnya. Jarak dari rumah ke sekolah pun 4 kilometer melewati hutan sawit, coklat, naik tanjakan melewati bukit yang bernama bukit Sion, bahkan bisa melewati batas negara kita sendiri Indonesia. Tak tanggung-tanggung, bahkan kalau dengar cerita mereka melewati rangkain pernak pernik itu, mereka bisa bertemu dengan babi hutan, ular cobra atau sejenisnya yang masih hidup di hutan. MashaAllah yaaa... meskipun demikian, mereka tetap bersemangat buat melalui perjalanan itu. Bahkan ketika aku merasakan, bisa semenyenangkan itu mereka melaluinya. Aku melihat raut wajah bahagia dari mereka, karena aku mengikuti perjalanan mereka dari rumah ke sekolah dan begitu pun sebaliknya. J

Masaku di sana sempat belum ada listrik selama empat bulan lamanya, bahkan tower saja baru dipasang dua bulan sebelum aku sampai di desa. Sinyal pun masih timbul tenggelam kalau nggak dapat tempat yang punya sinyal kencang, sekencang kamu berlari (halaah.. mulai halu) :D Air? Ya,  kami sempat kekeringan selama delapan bulan lamanya. Semua sungai benar-benar kering tak ada air, pada akhirnya kami harus membeli air yang biayanya tidak murah. Sumber mata air yang ada di bawah tanjakan dekat rumah pun sudah tak dapat menampung untuk mandi dan cuci baju kami. Terus gimana? Tentu saja, bermodalkan air yang dibeli tersebut dan bermodalkan air milo (air yang berwarna coklat). Pokoknya seada-adanya sisa air di sana yang penting bisa kebagian untuk mandi semua penghuni rumah.

Oh ya, aku tinggal di keluarga bugis beranggotakan Bapak, Mamak, dan empat adik angkatku ditambah aku jadi kami ada bertujuh dalam satu rumah. Mereka keluarga yang baik dan benar-benar tulus buat bantuin aku selama aku berada di sana.

Well, begitulah sekilas tentang kehidupan di daerah. Nah, apa yang menjadi masalah selama pandemi ini belum selesai? Kalau dengar kabar dari warga desa mereka kesulitan untuk mengakses sekolah secara daring. Mungkin kalau teman-teman bisa melihat, di kota besar seperti di Jakarta atau dimanapun itu dapat diakses dengan mudah menggunakan video call atau istilah kerennya sekarang menggunakan aplikasi zoom. Dengan mudah mereka dapat mengakses itu semua, meskipun memang juga tidak mudah belajar dengan melalui video call. Aku tau itu sulit, tapi tetap disyukuri yaa karena hal itu memudahkan teman-teman yang mengajar untuk tetap bisa berkomunikasi dengan anak didik teman-teman.

Apa kabar di daerah? Beberapa sumber mengatakan bahwa pembelajaran secara online sangat sulit karena mereka masih belum memiliki database keluarga atau bahkan nomor telefon dari orang tua murid. Kalau menggunakan smartphone masih mudah, tapi kalau yang bukan? Bagaimana cara menyampaikannya, sedangkan semua teman-temannya (terutama di perkotaan yang mudah aksesnya) masih bisa berkomunikasi atau belajar menggunakan via WhatsApp, zoom dan platform sejenisnya. Itu tidak hanya terjadi di daerah yang dekat dengan perbatasan saja, tapi potret itu pun terjadi di daerah dimana saat ini aku bekerja. Salah seorang guru merespon pendapat tentang pembelajaran secara daring dan beliau mengatakan „Ya sangat susah pembelajaran demikian. Kita jadi seperti makan gaji buta karena untuk mengakses hal demikian masih belum terjangkau. Kalau orang tuanya punya akses WA semua sih ya nggak masalah, lah kalau yang nggak punya bagaimana? Paham?“

Mungkin itu terjadi tidak hanya di daerah penempatanku mengabdi dulu atau pun tempat kerjaku sekarang, bisa jadi masih banyak daerah di pedalaman Indonesia yang masih belum bisa mengakses itu semua. Kalau ngobrolin tentang masalah pendidikan di Indonesia yang masih belum merata ini pasti tidak akan ada habis-habisnya. Masih saja ada yang harus dibahas dan terus ditelaah, banyak hal menarik yang perlu dikupas secara tuntas. Lalu apa solusinya jika demikian?

Pada akhirnya, yang harusnya social atau physical distancing mau nggak mau para guru yang masih belum bisa mengakses anak muridnya tersebut harus rela berkunjung ke rumahnya untuk memberikan tugas sekolah supaya mereka tetap belajar di rumah. Itu salah satu usaha yang dilakukan oleh beberapa guru di daerah. Satu hal lagi, saat ini kemendikbud membuat sebuah program dengan belajar melalui TV (channel TVRI), hmmm... tapi kesulitan kembali untuk di daerah adalah sangat jarang mereka mempunyai TV dan dapat mengakses channel tersebut. Aku akui mereka mempunyai usaha yang baik untuk membantu para guru di masa pandemic seperti sekarang ini, namun apakah pernah terfikirkan yang di daerah akan dapat menjangkau itu semua?

Kita semua tahu teman-teman, bahwa Indonesia itu terdiri dari ribuan pulau, suku, ras bahkan budaya. Untuk bisa menjangkau pendidikan di seluruh wilayah Indonesia pun tidak mudah, karena masing-masing butuh pengorbanan untuk bisa menjangkaunya. Aku jadi kepikiran aja sih, pemerintah masih memikirkan solusi pendidikan di daerah nggak ya karena ada pandemic seperti sekarang ini? Masihkah peduli dengan hal itu? J

Let think together about it. Aku mungkin belum bisa melakukan banyak hal karena aku bukan power rangers ataupun super woman. Karena aku yakin yang bisa dilakukan oleh kita ya cukup dari diri kita sendiri dulu aja, meskipun kecil tapi setidaknya itu bisa memberikan dampak yang besar bagi lingkungan sekitar kita. J

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh



Do your best yaa guys and dont forget to pray always
Because He would help you everytime and He never let you alone



-vidahasan-




Share:

0 comments: