…
Sebuah Ruang…
--Episode Penjajakan—
Tatkala, selama ini saya memang selalu
menceritakan tentang hal-hal yang saya alami. Dari saya berkelana dari
ujung hingga sekarang menuju paling ujung Indonesia. Meskipun bukan memang
daerah timur Indonesia, tapi tempat penugasan ini memang paling ujung yang
berbatasan dengan Negara Malaysia.
Berada di sebuah lembaga yang sudah saya damba-dambakan adalah memberikan sebuah ruang baru bagi diri ini. Pengalaman,
teman, keluarga bahkan sudah seperti saudara sendiri, padahal kami sama-sama
belum mengenal satu sama lain sebelumnya. Dari beragam daerah satu ke daerah
yang lain, membuat saya semakin merasa bahwa memang Indonesia itu adalah satu.
…Nunukan…
Cerita tentang Nunukan mengisahkan
banyak hal yang tidak pernah saya duga-duga sebelumnya. Mendapatkan penempatan
tugas sebagai Pengajar Muda XI di daerah yang berbatasan dengan Malaysia adalah
hal yang sampai sekarang masih belum percaya. 14 November 2015, iya sudah
hampir 10 purnama yang lalu masih ingat sekali dalam ingatan.
“Persiapkan diri kalian masing-masing.
Dimanapun kalian ditempatkan di sanalah kalian akan mengabdikan diri kalian.
Jangan merasa bahwa wah kok aku
ditempatkan di sini ya, wah kenapa ya?. Intinya jangan terlalu
berkepsektasi yang tinggi dengan siapa dan dimana. Siapapun dan dimanapun itu,
kalian akan ada di sana.”
Perasaan saya dag dig dug tidak karuan, bahkan bukan saya sendiri yang mempunyai
perasaan seperti ini. Semua pengajar muda XI pun merasakan hal yang sama
seperti yang saya rasakan. Kami semua saling berpegangan tangan, merangkul satu
sama lain yakin dengan apapun yang terjadi. Saya merasakan ada binar kehangatan,
ada binar tidak bersabar, ada binar-binar yang banyak memunculkan
pertanyaan-pertanyaa yang jawabannya akan sebentar lagi kami ketahui.
Kak Rizky, selaku yang diamanahkan
sebagai pemandu untuk memberikan pengumuman penempatan kami pun memutar sebuah
video yang isinya pesan-pesan yang disampaikan oleh para Pengajar Muda XI.
Muncul pertama kali yang ditayangkan adalah Afriza Firlana Gany, saya kira saat
itu akan menjadi sebuah urutan abjad nama. Sesuai dengan yang sering dipasang
di video atau di website.
Pertanyaan kembali mengelilingi rautan
kening dan entah seperti ada yang menjawab bahwa saya akan ditempatkan di
kabupaten baru. Entah itu baik di Natuna, Nunukan atau Pegunungan Binta, namun
yang aku rasakan ada di tempat baru.
“Aku
dimana ya? Tapi sepertinya di Nunukan. ah apapun itu yang jelas harus bisa
dijalani.” Pikir saya. Feeling kuat entahlah selalu jatuh di kabupaten Nunukan, meskipun
memang sebenarnya saya lebih mengarah ke Pegunungan Bintang, Papua.
Layar selebar papan tulis yang berada di
barak tempat kami gunakan untuk pelatihan mulai riuh. Iya, karna akhirnya kami
tahu kabupaten penempatan kami untuk pengabdian selama setahun mendatang.
Dengan dihiasi background masing-masing
daerah penempatannya, muncullah satu per satu PM XI yang akan ditempatkan di
daerah tersebut.
Ketika aku yang ditayangkan, saya kira
saya akan berada di Kabupaten kepulauan Natuna. Rupanya, gambar perahu itu
hanyalah sebuah gambar (tapi memang yang punya hanya Nunukan dan Natuna), namun
akhirnya Kabupaten Nunukanlah yang akan menjadi tempat persinggahan selama
setahun ke depan.
Kami semua berpelukan dengan erat,
menyanyikan lagu Indonesia Raya, Bagimu Negeri, dan Tanah Air Pusaka. Semuanya
bergandengan tangan sembari menangis, iya, yang saya rasakan adalah bersyukur
karena berada di tempat ini. Karena saya berada di lingkungan yang penuh dengan
energi-energi positif yang juga akan selalu merambatnya ke dalam tubuh ini.
Kami keluar dalam ruang yang menjadi
saksi pengumuman penempatan kami. Bersalaman berkeliling sembari berpelukan
satu sama lain. Ada rasa terharu karena pada akhirnya takdir dimana akan
ditempatkan telah dikukuhkan. Kami 50 Pengajar Muda XI, selalu bersyukur, terus
bekerja dan tetap berdaya demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Kami ber 50
saling bergandengan tangan dan berpelukan seraya menyampaikan janji, bahwasanya
dimanapun berada mekarlah demi kebermanfaatan pendidikan di negeri ini.
Sebuah ruang, yang banyak berucap
harapan-harapan, banyak sorotan mata yang optimis akan keberadaan masyarakat di
luar sana yang masih peduli dengan pendidikan. Maka, berlayarlah 10
pemuda-pemudi yang siap mengemudikan perahunya untuk menuju daerah
masing-masing untuk memberikan harapan itu.
Sudah hampir 10 purnama dilalui. Apa
kabar daerah kalian? Semoga ada langkah-langkah kecil yang terus berkembang dan
mengayunkan tangannya untuk membantu pendidikan di ujung negeri ini. Jika bukan
kita, lalu siapa lagi?
--Arvida Rizzqie Hanita--
Pengajar Muda XI SDN 005 Sebatik Tengah
Kabupaten Nunukan
0 comments:
Post a Comment