16 October 2016

Road to be Pengajar Muda XI (1)


...kala itu...
Dari sekian banyak cerita yang ditulis di blog saya. Mungkin cerita perjalanan tentang seleksi di Indonesia Mengajar belum saya utarakan. Ceilee kek gimana juga diutarakan. Iya, siapa tahu saya bisa jadi artis ngedadak lagi gegara ngeposting tentang seleksi IM ini haha :p ah bukan bermaksud demikian. Jikalau pun blog saya ini mengandung unsur kebermanfaatan intinya mah saya sangat senang sekali :)

Sebenernya ini kali kedua saya mendaftar program IM. Pada tahun 2013 setelah dinyatakan WIS UDAH, saya mencoba mencari peruntungan dengan mendaftar program IM yang nantinya setelah lolos akan dinobatkan menjadi Pengajar Muda (PM). Mungkin, karena belum sangat niat dan lebih konsen ke hal yang lain, belum rezeki saya untuk lolos diseleksi awal PM. Saat itu kalau tidak salah mungkin PM VIII kali ya :D ngisi essai saja ngawurnya masyaAllah. Masih ada dan aplikan formulirnya dan saya baca ulang kembali, kok yo ngawur ngene iki -____-

Saat itu yang saya fikirkan adalah, ketika melihat profil Pengajar Muda sebelumnya sangat keren-keren dan kece-kece, sedangkan saya hanya fresh graduate yang masih minim pengalaman, jadi saya merasa aja gitu pesimis. Saya mah apa atuh dibanding kakak-kakak PM sebelumnya yang MasyaAllah kerennya seperti tiada kiranya. Maka akhirnya, saya memilih untuk fokus mencari pengalaman terlebih dahulu baru setelah itu ikut IM. Jadi kan bisa berbagi dan banyak cerita dengan anak-anak :D

Well, setelah 2 tahun diantara 2013-2015 menggelandang mencari ilmu dan bertapa di sebuah tempat yang memang cukup histeris, maka akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan mimpi saya yang sempat tertunda tersebut. Iya, mimpi menjadi pengajar muda di program Indonesia Mengajar. Dengan membaca bismillahirrohmanirrohim, maka ternobatkanlah formulir saya secara online di website Indonesia Mengajar.

Jika seleksi awal tahun 2013 itu saya mengisinya sangat ngawur dan tidak jelas mbuh sing penting keisi wae, maka di tahun 2015 ini saya lebih serius lagi untuk mengisinya. Jadi, untuk biodata yang cukup panjang itu diisi dengan lancar, aman dan sentausa. Giliran masuk di bagian mengisi pertanyaan-pertanyaan essai itulah yang buat diri ini geli-geli tidak jelas :D Yang penting saya isi sesuai dengan pengalaman atau kejadian yang saya alami selama ini. Makanya, saya isi saja secara apa adanya. Tapi, jadi lebih membutuhkan waktu selama sekitar 2-3 hari -__- Entahlah, butuh me time banget buat ngisi essai. Dan ini beneran sangat serius ngisinya.

Nah, buat kalian yang emang pengen banget jadi PM nih, usahakan untuk pengisian essai itu beneran apa adanya dan tidak dibuat-buat. Jadi diri kalian sendiri aja tanpa ada paksaan apapun. Kalau memang punya pengalaman yang sesuai dengan pertanyaan essainya mah yauda diisi aja. Jangan lupa, yang jelas minta doa restu sama orang tua. Karna merekalah mimpi-mimpi dapat tercapai :D

Seleksi di tahap awal ini tidak terlalu meribetkan. Saya merasa dipermudah sekali dengan seleksi dengan menggunakan formulir online ini. Jadi, kita buat akun di website Indonesia Mengajar, nah akun tersebut digunakan untuk kita mendaftar menjadi Pengajar Muda atau sekedar emang pengen punya akunnya saja :D Akun ini akan selalu aktif sampai batas yang entah tidak ditentukan sampai kapan. Soalnya, dalam kurun waktu 2 tahun meninggalkan dunia keIMan akun saya masih saja terpampang dengan unyu di websitenya. Bahkan formulir pendaftaran jadi PM saya yang pertama pun masih bisa saya baca sampai saat ini :D

Dulu mah saya juga tidak ingin sebenernya menjadi pengajar apalagi guru, namun panggilan tetaplah panggilan. Dari sekian banyak ribuan orang, yang bukan dari jurusan non pendidikan saja mau jadi guru dan mengajar, masa saya hanya diam sembari melipat lutut dan menutup mata dalam pendidikan. Well, panggilan jiwa itu ada ketika kita merasa bermanfaat untuk orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain?

Intinya, just be yourself and believe what will you do!!!

--Sebatik, 14 Oktober 2016—
Arvida Rizzqie Hanita
PM XI Kabupaten Nunukan
Share:

0 comments: