*Cerita ini adalah salah satu cerpen yang dikarang sendiri oleh siswa saya kelas 6. Salma namanya. Saya memang sengaja memasukkan ke dalam blog ini, karena melihat Salma seperti melihat masa lalu saya. Suka menulis, namun belum ada media untuk menyimpan tulisan-tulisan saya ini. Semoga dengan adanya tulisan Salma di blog ini, dapat memberi motivasi anak-anak yang lainnya. So, check it out and enjoy this story*
Biasanya jika aku berangkat sekolah aku dipakaikan baju sama mama. Sekarang tidak lagi, gara-gara adik, ibu selalu menyuruhku memakai pakaian sendiri. Aku rasanya tidak terurus sama mama dan papa. Mereka hanya sayang pada adik, sedangkan aku enggak. 10 tahun kemudian aku sudah berusia 12 tahun, adikku 5 tahun. Aku mungkin kelihatan enggak sayang sama adikku. Aku slalu marah adik, pukul adik, hari yang cerah aku enggak sekolah tapi adik membangunkanku. Aku sangat marah padanya, memukulnya hingga adik menangis.
Dalam hati aku berkata, kenapa papa dan mama sayang adik dan aku tidak? aku menangis tersedu-sedu sambil membayangi wajah adik. Aku marah dan membanting buku dan yang ada di dalam kamarku. Aku menangis dan tidak mau makan.
Setelah tangisanku reda, Papa mendapat kabar bahwa kakek meninggal. Aku sangat sedih dan "menangis hingga mataku bengkak. Cuma kakek yang mengerti perasaanku dan memahami diriku tanpa terasa, aku menangis terus. Aku merasa mataku perih, rasanya aku tidak melihat apa-apa dan aku pun pingsan dan dapat perawatan di rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa aku buta, aku merasa sangat sedih.
Dalam hati aku berkata bahwa adik lah yang membuatku buta.
Mungkin selama ini aku jahat sama adik dan selalu salah kau. Aku sadar aku bukan kakak yang baik, aku sangat sedih dan aku menjadi merasa sangat bersalah terhadap adikku.
Aku memeluknya dengan erat dan meminta maaf pada adikku.
Aku sadar aku salah. Aku tidak akan pernah buat adik sedih lagi. Karena mata yang aku pakai adalah matanya dan hari ini adik tidak lagi sedih karena aku sangat menyayanginya dan kami menjadi keluarga yang saling menyayangi satu sama lain. Aku sadar, selama ini aku memang nakal dan tidak pernah menyadari kesalahan.
Aku buktikan bahwa aku bukan Nisa yang nakal seperti yang dulu. Aku adalah Annisa Madyiah. Aku bukan wanita yang tidak punya perasaan.
NISA BUKAN ANAK NAKAL
Namaku: Annisa Madyiah, panggilanku Nisa. Aku anak kesayangan ayah dan ibu. Aku anak tunggal, tetapi dua bulan kemudian ibu mengandung. Pertama-tama aku merasa bahagia karena aku akan mempunyai adik seperti teman-temanku yang lain. Bermain bersama adik. Setelah Ibu melahirkan anak perempuan, aku menjadi merasa marah. Karena kehadiran adik, aku merasa kasih sayang orang tuaku berarti ke adik, dan aku diabaikan.
Biasanya jika aku berangkat sekolah aku dipakaikan baju sama mama. Sekarang tidak lagi, gara-gara adik, ibu selalu menyuruhku memakai pakaian sendiri. Aku rasanya tidak terurus sama mama dan papa. Mereka hanya sayang pada adik, sedangkan aku enggak. 10 tahun kemudian aku sudah berusia 12 tahun, adikku 5 tahun. Aku mungkin kelihatan enggak sayang sama adikku. Aku slalu marah adik, pukul adik, hari yang cerah aku enggak sekolah tapi adik membangunkanku. Aku sangat marah padanya, memukulnya hingga adik menangis.
"Ayah, Ibu... Aku dipukul sama kakak" Ayah dan ibu naik menuju kamarku.
"Nisa kenapa? Nisa kenapa selalu pukul adik, marah adik, dan bentak-bentak adik?"
"Pah, adik mengganggu. Aku lagi tidur."
"Pah, aku bangunin kakak, karen kakak menerima surat dari temannya."
"Bohong kamu? kamu sengaja kan supaya kakak dipukulin sama Papa?"Aku berkelahi sama adik lagi.
"Sudah? Nisa memang nakal sekali. Papa selalu lihat kakak pukulin adik."
"Papa."Papa selalu membela adik dan selalu marah Nisa. Papa dan adik keluar dan aku langsung mengunci pintu dari dalam sambil membanting diri ke kasur dan menangis.
Dalam hati aku berkata, kenapa papa dan mama sayang adik dan aku tidak? aku menangis tersedu-sedu sambil membayangi wajah adik. Aku marah dan membanting buku dan yang ada di dalam kamarku. Aku menangis dan tidak mau makan.
Setelah tangisanku reda, Papa mendapat kabar bahwa kakek meninggal. Aku sangat sedih dan "menangis hingga mataku bengkak. Cuma kakek yang mengerti perasaanku dan memahami diriku tanpa terasa, aku menangis terus. Aku merasa mataku perih, rasanya aku tidak melihat apa-apa dan aku pun pingsan dan dapat perawatan di rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa aku buta, aku merasa sangat sedih.
Dalam hati aku berkata bahwa adik lah yang membuatku buta.
"Kamu puaskan lihat aku buta?"
"Enggak, kakak! Aku sangat merasa sedih dengan keadaan kakak"Karena merasa bersalah adik, mendonorkan matanya. Setelah kakak enggak buta lagi, dia sangat bahagia tapi adiknya yang harus menderita.
"Ibu, aku enggak buta lagi. Aku sudah bisa melihat lagi, ibu membawa adik. Adik memegang tongkat
"Kakak.. Kakak uda sembuh?"Dengan perlahan air mataku menetes melihat adik.
Mungkin selama ini aku jahat sama adik dan selalu salah kau. Aku sadar aku bukan kakak yang baik, aku sangat sedih dan aku menjadi merasa sangat bersalah terhadap adikku.
Aku memeluknya dengan erat dan meminta maaf pada adikku.
"Adik, kakak minta maaf sayang. Kakak sangat sayang kamu"
"Kakak, aku sangat sayang kakak dan bangga punya kakak seperti ini, cantik dan bergaya"
"Adik"
Aku sadar aku salah. Aku tidak akan pernah buat adik sedih lagi. Karena mata yang aku pakai adalah matanya dan hari ini adik tidak lagi sedih karena aku sangat menyayanginya dan kami menjadi keluarga yang saling menyayangi satu sama lain. Aku sadar, selama ini aku memang nakal dan tidak pernah menyadari kesalahan.
Aku buktikan bahwa aku bukan Nisa yang nakal seperti yang dulu. Aku adalah Annisa Madyiah. Aku bukan wanita yang tidak punya perasaan.
~SEKIAN~
0 comments:
Post a Comment