13 March 2016

Pesiar ke Bukit Sion (1)

SDN 005 Sebatik Tengah, salah satu sekolah yang letaknya di perbatasan dengan daerah tanah Malaysia. Mungkin hanya sekitar 6 kilometer saja jarak perjalanannya. Sudah 1 minggu sekolah berjalan, banyak kejadian yang tidak terduga, melihat potensi anak-anak di daerah perbatasan ini, rasanya saya siap untuk membantu mereka.

Daniel dan Petrus, siswa saya kelas 3 di SDN 005 adalah kakak beradik, iya, mereka berada di kelas yang sama. Bukan berarti Daniel (si kakak) dianggap bodoh di kelas, justru Daniel salah satu siswa yang memiliki potensi yang besar dan memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Pun tidak hanya Daniel, semua anak di kelas mempunyai semangat yang tinggi.

Daniel dan Petrus mengajak saya untuk berpesiar, sebutan orang-orang di Lourdes yang maksudnya adalah berkunjung ke rumah-rumah. Mereka mengajak saya ke rumahnya dan pergi berenang di sungai di dekat rumah mereka yang berada di balik bukit Sion. "Ibu, kami mau pergi berenang, Bu. Ikut yuk Bu" ajak Daniel. Saya pun hanya mengiyakan, janjian sama mereka untuk berjalan bersama menuju ke sana. Tak disangka, rupanya perjalanan ini sungguhlah luar biasa, karena saya harus menaiki bukit yang berada di balik sekolah. 

Awalnya, nafas ini mulai terengah-engah karena bukit ini naiknya curam dan tinggi. Demi anak-anak saya harus bisa sampai ke atas sana. Mereka lah yang membuat saya  naik turun bukit ini, karena kalau bukan tanpa mereka untuk apa aku berada di sini? Akhirnya selama perjalanan 1,5 jam kami pun tiba di perumahan di balik bukit Sion ini. Masih saja menjadi perkampungan orang Timor di kampung ini, hanya ada 1 keluarga saja yang muslim. Kalau dengar cerita dari mereka, mereka hijrah dari kampung Lourdes menuju bukit Sion karena mereka lebih nyaman berkebun di balik bukit ini. Tanahnya masih belum ditanami apa-apa, dan masih banyak tanah yang kosong.

Saya mampir ke salah satu rumah yang berkeluarga muslim. Sebelumnya saya pun masuk sebentar menuju ke rumah Daniel dan Petrus "Ibu, kasihannya. Panas-panas begini naik ke sini. Nanti setelah berenang mampir ya, Bu", kata Ibu Petrus. Saya berucap "iya" dan mengangguk.

Warga di sana sangatlah ramah, toleransinya pun masih sangat kental, tidak ada perbedaan yang signifikan. Mungkin karena kampung ini hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga saja, sehingga rasa toleransinya masih kental.

Kami pun menuju ke sungai yang melewati hutan kayu. Setelah sampai di sungai, wihiiww... Sungainya keren, tapi banyak berjejer kayu yang berjatuhan akibat pohon yang ditebang. Hal itu tidak berpengaruh sama sekali dengan anak-anak, karena mereka tetap bahagia berenang. Ketika kami berenang, hujan pun turun dan seraya saya basah akhirnya saya pun ikut masuk berenang di sungai tersebut bersama anak-anak.

Setelah itu, saya pulang dengan pakaian basah sembari menikmati kopi hangat ditemani dengan singkong goreng hasil kebun sendiri. Maklum saja, kata mereka di sana makanan khas pokoknya adalah singkong. Untuk membeli beras, ikan, dan sayuran pun sangat jauh. Alhasil masyarakat di balik bukit ini lebih nyaman dengan menanam sayuran atau umbi-umbian sendiri.

Saya pulang tepat ketika setelah maghrib, masih ditemani oleh anak-anak Lourdes yang ikut naik menuju bukit Sion. Oleh-olehnya adalah tomat yang bergelimang hasil dari kebun kakek Gusti. Hal yang sampai sekarang tidak dilupakan adalah karena perjalanan ini sudah lengkap dengan saya jatuh karena terpeleset. Maklum, saat itu hujan besar turun, sehingga membuat jalan (tanahnya) menjadi lecek dan licin. Apalagi perjalanan kami, hanya ditemani dengan senter dan lampu sechen (lampu yang baterainya diisi menggunakan tenaga surya).

But, I was soooo happy, if you know, this adventure make me feel, that I really live in my country, Indonesia. You have to try this adventure! 

Salam dari anak-anak Sebatik! 

-vidahasan-
SDN 005 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan
Share:

0 comments: