13 March 2016

Nunukers (part 3)

Masih ingat sekali dalam benak saya, ketika 2 bulan yang lalu saya ditempatkan di desa dimana saya ditempatkan. Berpisah dengan teman-teman 1 kabupaten yang letaknya cukup (sangat) jauh membuat saya harus mampu berdikari sendiri.

Eh... Rupanya memang sudah 2 purnama kami lalui di desa masing-masing. Waktu bergulir sangatlah cepat sekali saya rasa. Hal yang kita lakukan dengan senang hati, sekecil apapun itu memang sangatlah menyenangkan.

#Flashback 23 Desember 2015

Kami ber10 berkemas-kemas untuk bersiap menuju ke desa penempatan kami masing-masing. Sudah diputuskan, bahwa kami (saya dan mubin) duo Sebatik akan berangkat sendiri tanpa didampingi oleh kak Haiva, sedangkan teman-teman yang satu arah ke wilayah sebuku akan didampingi oleh kak Haiva dan pak Bunardi. Awalnya yang mereka membully saya, karena saya menangis akan diantar oleh mereka saya pun menunjukkan bahwa memang seperti inilah inginnya saya, daripada saya harus diantar oleh mereka ber8 sampai Sebatik. Itu akan membuat saya lebih sedih lagi, karena merasa kurang adil :p

Akhirnya kami berduo Sebatik, hanya diantarkan hingga pelabuhan speed yang akan kami naiki. Awalnya, saya sudah berhubungan dengan kepala sekolah saya, bahwa saya dan Mubin akan berangkat menuju Sebatik. Kepsek saya menjelaskan, saya lebih baik turun di Pelabuhan Bambangan karena lebih dekat menuju lokasi. Namun, alhasil ketika saya dan Mubin sudah mendapatkan tiket, kami terkejut karena kami akan diturunkan di Pelabuhan Mantikas. Entahlah dalam bayangan kami, letaknya itu sejauh apa saya tidak ada bayangan sama sekali. 

Setelah berlabuh kurang lebih 30 menit lamanya, saya dan Mubin pun tiba di pelabuhan Mantikas. Sebelumnya, di tengah perjalanan laut, saya mengabari kepala sekolah saya bahwa saya salah turun pelabuhan. Alhasil, kepala sekolah saya, pak Mohammad berputar arah menuju pelabuhan dimana saya dan Mubin diturunkan. Sekitar 1 jam lebih lamanya saya menunggu jemputan datang. Berulang kali, bertanya "Pak Mohammad, sudah dimana?" Jawabannya pun tetap sama, sebentar lagi sampai. Iya, menunggu dengan ketidakpastian akan tiba jam berapa :D yang jelas saya dan Mubin sudah mulai gelisah :D

Akhirnya setelah lama menunggu penantian ini, saya dan Mubin pun menuju ke desa penempatan kami berdua. Perjalanannya sangat luar biasa sekali, karena rupanya jarak pelabuhan Mantika sampai desa kami berdua sangatlah jauh. Butuh waktu hampir 2 jam lamanya di perjalanan. Luar biasa.

Kami singgah sebentar di desa Maspul, yaitu desa dimana sekolah mubin, SDN 002 Sebatik Tengah berada. Kami mampir dan berkenalan terlebih dahulu dengan para guru di SDN 002. Here we are! Ready for the adventure!
Setelah memastikan Mubin "diamankan", kami masih melanjutkan perjalanan kembali menuju desa penempatan saya.

Rupanya desa saya paling atas, dan benar-benar jauh dari peradaban kota :D oh iya, yang paling nggak disangka-sangka. Guru-guru di SD saya adalah orang Timor, dan anak-anak beragama Katholik. Buat saya, ini adalah hal menyenangkan, entah itu karena benar-benar merasa excited dengan keadaan sekitarnya seperti apa atau memang dari dulu saya tertarik untuk bisa mengenal orang Timor lebih jauh lagi :D yang jelas, saya bersyukur sekali ditempatkan di desa ini.

Sampai tiba di rumah saya langsung benar-benar excited, karena saya tinggal di rumah panggung yang sedari dulu memang ingin sekali saya rasakan. "Waaahh rumah panggung!" Saya langsung berkenalan dengan Mamak "baru" saya dan bercengkerama dengan mereka lebih dalam lagi.

Saya mempunyai adik angkat 4 orang, 3 perempuan dan 1 laki-laki. 

Paling besar kelas 3 SMP, yang nomor 2 kelas 2 SMP,  nomor 3 laki-laki dan tidak sekolah, yang terakhir kelas 3 SMP.

Adik angkat saya laki-laki memang berbeda dari yang lainnya. Makanya, dia tidak sekolah. Hal ini mengingatkan saya, ketika saya dulu bekerja sebagai Freiwillig di WHH. Rasanya, apa yang saya lakukan kemarin, rupanya saya alami juga di negeri saya. Pembelajaran saya kemarin merawat orang-orang berkebutuhan khusus, rupanya jawabannya adalah ini.

Yeah! Everything is about life. Ready for your life? Yes, I'm ready! :)

Salam dari pulau Sebatik!

-vidahasan-


Share:

0 comments: