Bismillahirrohmanirrohim,
Ini tahun kedua saya hidup di negeri rantau, negeri yang sedari sekolah dulu ingin sekali saya kunjungi, negeri yang bahasanya, telah saya pelajari sekitar hampir 5 tahun, tapi tak pernah saya gunakan untuk berbicara, negeri yang kebanyakan orang juga ingin sekali berada di sini. Ah sudahlah :) waktu memang cepat sekali berlalu, tapi perjalanan masih belum usai, rasanya waktu yang telah lalu pun terbung sia-sia, tak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Sedih rasanya.
Keputusan yang mungkin berani, karna harus berani jauh dari keluarga yang benar-benar mencintai keberadaan saya. Saya pun demikian, harus bisa bertahan dengan kerasnya hidup di sini, tanpa ayah ibu, tanpa sanak saudara, tak ada siapapun yang berada di sini. Kecuali teman-teman yang baru dikenal, yang bukan lebih dulu saya kenal. Merekalah yang menguatkan saya hingga saya bisa bertahan sampai saat ini.
2014? Ah Gusti, ini tahun sungguh istimewa. Bulan Agustus 2013 saya terbang hingga ke negeri panser, awal tahun lalu selalu kepikiran, setelah selesai aupair pokoknya saya harus pulang. Saya pun slalu berusaha agar saya bisa mengumpulkan uang agar bisa membeli tiket pesawat pulang. Namun, alhasil, jujur saja, saya mendapat pengalaman (pahit) yang luar biasa selama setahun lalu. Pengalaman yang benar-benar membuat saya belajar sangat banyak tentang kehidupan, kehidupan dan kehidupan.
Pengalaman aupair, yang banyak orang bilang sangat mengasyikan dan itu benar, sangatlah mengasyikan sekali untuk kehidupan saya ini. Hingga waktunya slalu berkata, belajar, belajar dan terus belajar, karna ilmu hidup itu tidak akan pernah ada habisnya, pun dengan ilmu pengetahuan. Tak akan pernah ada habisnya sama sekali.
Pengalaman pahit? Memang pengalaman pahit apa yang dirasakan selama aupair? Pasti hal ini yang akan ditanyakan oleh semua orang. Biarlah waktu yang menjawab, bukan saya yang menjawab, biarlah kenangan pahit itu segera hilang, dan pengalaman baik selalu tersimpan dengan rapi di dalam benak ini. Tapi saya selalu mengambil kebaikan dari pengalaman pahit itu, karna tidak smua pengalaman pahit benar-benar pahit buat diri saya. Adakalanya pengalaman pahit justru menjadi pengalaman luar biasa, supaya diri ini tetap kuat, tegar, lebih sabar. MasyaAllah...
Nah sekarang, sudah saatnya membuka lembaran baru. Mungkin dengan pengalaman yang baru ini juga akan menjadi pengalaman luar biasa buat saya. Sudah 1,5 tahun hampir berlalu, saatnya kah untuk saya pulang? Saatnyakah untuk saya berhenti di negeri rantau? Saya pun tidak tahu, harus bagaimana. Tapi yang jelas, apa pun rezeki yang Allah berikan untuk saya, tidak akan pernah saya tolak. Kalau saya memang harus pulang, saya pulang, kalo Allah menyuruh saya untuk tetap belajar di negeri ini, dan pulang dengan membawa ilmu, insyaAllah pun saya jalani. Yang terpenting dari saya, ikhtiar dan doa.
Sejujurnya, yang membuat diri tidak nyaman di negeri ini adalah tentang ibadah. Rasanya banyak dosa, karna pada akhirnya ibadah saya sangatlah kurang di sini. Saya selalu kepikiran, kalo di negeri saya sendiri di sana, orang-orang slalu bisa menyempatkan waktunya untuk beribadah. Tapi di sini? Tidak! Orang pun seakan lupa dengan ibadah, mereka hanya berfikir bekerja, bekerja, dan bekerja. Bukan saya sok agamis, tapi memang begitulah adanya. Saya merasa tiap hari jadi orang yang berdosa, karna saya selalu menjamakkan, atau mengqodhokan ibadah saya (jujur seperti itu).
Rasanya, benar2 tidak nyaman. Meskipun kollega saya mengijinkan saya untuk sholat di tempat kerja, namun sama saja. Saya tak nyaman, karna harus keburu waktu, karna tempat yang belum tahu bersih atau tidak, iya dikarenakan alas kaki mereka bisa saja menginjak kotoran anjing, mungkin alas kaki saya juga, itu semua membuat saya merasa kurang nyaman. :(
Na ja, semoga keberkahan tahun ini menjumpai saya. Aamiin :)
Mannheim, 3 Januari 2015.
0 comments:
Post a Comment