Malah bahkan teman-teman saya sudah pada menikah, sudah pada punya anak. Lha saya? Sama siapapun juga masih abstrak belom tau :D jodohnya masih disembunyiin sama Allah, insyaAllah kalo dikasih umur panjang pasti bakal dipertemukan dengan jodoh saya. Jadi bagi yang tanya sama saya kapan sebar undangan, harap bersabar. Sudah direncanakan, tetapi masih belum dipertemukan dengan lelaki sholeh yang bisa mengimami saya dengan baik. #eeaa :))
Eh rupa-rupanya di umur 23 saya pun sudah berani berpetualang melanglang buana sendiri hingga negeri yang jauh dari desa lahir saya. Gini-gini saya bangga sekali jadi anak desa, saya bukan anak kota yang punya gaya modern, yang fashionable, meskipun begitu saya masih punya mimpi untuk bisa mengembangkan diri, untuk bisa membentuk karakter dalam diri saya. Tahun lalu adalah tahun dimana saya sedang galau-galaunya antara pilihan ini, antara pilihan benar-benar pergi meninggalkan rumah dan orang-orang tercinta, atau tetap bertahan di sana dan tetap tinggal bersama mereka. Kedua pilihan antara pergi dan tinggal adalah pilihan cukup sulit. Karna saya tidak akan tahu akan ada kejadian apa ke depannya ketika saya pilih dari masing-masing pilihan ini.
Iya. Dan bertekadlah saya, memantapkan hati bahwa saya harus berani berkembang, bahwa saya harus berani meninggalkan rumah dan orang-orang tercinta saya. Berat. Buat saya dan buat keluarga besar saya. Bisa-bisanya seorang wanita pergi jauh dari rumah dan meninggalkan keluarga tercinta. Lalu, adalah salahnya? Ketika seorang wanita berusaha untuk menggapai ilmu yang lebih tinggi, mencari pengalaman yang lebih baik untuk ke depannya? Tidak ada yang salah kah? Tak ada yang salah dengan wanita. Yang salah adalah pandangan di setiap sudut mata orang-orang. :)
Keberanian ini saya tangguhkan. Seriously, that's so cool! Incredible! I'm really not believable. Finally, I'm fly, I'm fly to my dream :) yeah. Itulah, di ulang tahun ke 23 tahun (lalu), adalah kado yang paling spesial buat saya karna saya akhirnya bisa mengawali mimpi ini. Mimpi menuju negeri Jerman. Hallo Jerman. Negeri yang dari sekolah menengah atas ingin dikunjungi, karna diiming-imingi oleh guru bahasa Jerman saya. Tetap jadi motivasi saya, karna saya akhirnya pun masuk jurusan (pendidikan) bahasa Jerman. Saya kira, daripada saya harus berdiam diri seperti orang bodoh, di rumah, lebih baik saya putuskan untuk pergi mencari ilmu, mengembangkan ilmu. Ilmu itu banyak juga, ilmu kehidupan. Iya tentang ilmu kehidupan.
Setahun sebagai aupair rasanya... Nyes, belajar banyak banget tentang ilmu kehidupan. Ya Allah Gusti, alhamdulillah udah dibukakan mata saya untuk benar-benar melihat "dunia". Semoga nantinya pengalaman saya setahun ini bisa dijadiin bahan cerita buat anak cucu saya nanti :)) Arvida Rizzqie Hanita, umur 23 tahun, sarjana pendidikan bahasa jerman mengawali mimpi menjadi seorang aupair. Nggak ada salahnya kan buat dimulai dari nol dulu? Karna begitulah hidup, biar penuh dengan rasa, bahkan berjuta rasa nano nano :D
Nggak minta-minta uang sama bapak ibu di rumah rasanya bagai kembang api. Serasa aman dan bangga. Hehe bukannya sombong. Tapi memang begitulah adanya, rasanya seperti tidak menjadi beban buat mereka. Mereka kan sudah membiayai sekolah saya dari Taman kanak-kanak bahkan sampai lulus kuliah. Rasanya uangnya kebuang sia-sia kalo sayanya pun juga berdiam diri di rumah. Dan sekarang memang saatnya untuk berdikari, membangun diri demi mereka yang sudah merawat dan membiayai saya dari saya mulai belajar tentang pendidikan di lingkungan sekolah.
Tapi nanti, setelah saya punya suami, sepertinya memang lebih baik untuk menetap di rumah. Bukan berarti pengalaman ini nggak berharga atau nggak laku. Hidup itu kan balik lagi dengan pilihan. Sebagai seorang wanita ingin bekerja atau ingin di rumah saja. Di rumah seorang wanita juga bekerja, karna mereka bekerja mengurus rumah tangga (anak dan suami) mereka. Jadi jangan beranggapan bahwa "uda jauh-jauh datang dari luar negeri, kok ujungnya jadi ibu rumah tangga", na und? Balik lagi, karna masalah pilihan. Bahkan itu sudah menjadi nilai plus juga untuk bekerja sebagai ibu rumah tangga. :)
Eh, saya sih maunya juga ke Jerman lagi kalo suami saya besok dapet beasiswa S2 atau S3 gitu :p bisa bisa bisa deh ini. Hahaha (ntar deh pertemuannya, kalo udah dikasih lampu hijau sama Gusti) hehehh :p umur 25 nikah juga boleh kok wahahhahha taun depan :)) aamiin...
Di umur 24 tahun ini, semoga bisa mendapat pengalaman lebih berharga lagi. Lebih menakjubkan lagi. Paringana sehat kuwarasan ya Allah. Bapak lan Ibu, lan adek sehat-sehat juga nggih :*
Liebe Grüße aus Frankfurt,
Vida Hasan
0 comments:
Post a Comment