Assalamu'alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh,
Dear Friends,
semoga kamu tidak bosan dengan apa yang ingin saya tuliskan di blog saya ya. Yep! Karena lagi-lagi saya akan menceritakan tentang daerah pedalaman di mana 2 tahun lalu saya ditugaskan di sana. Berada di tempat yang daerahnya berbatasan dengan wilayah Malaysia membuat diri saya ini tersadar bahwa, Indonesia butuh orang-orang yang mempunyai pikiran "gila" untuk bisa merubahnya. Meskipun yang dilakukan adalah hal-hal kecil, yang penting adalah membuat dirinya bahagia sehingga orang di sekitarnya juga ikut merasakan kebahagiaan.
Berawal dari penasarannya saya dengan gerakan pendidikan seperti Indonesia Mengajar atau SM3T, sebelum lulus kuliah saya memasukkan dan menuliskan 2 nama tersebut di catatan wish list saya. Loh... Padahal nih, seorang Vida yang dulu kuliah di jurusan pendidikan bahasa Jerman, bahkan skripsi saja bukan mengambil ke ranah pendidikan, yang maunya sok sokan sastra justru memasukkan agenda mengikuti gerakan pendidikan di wish listnya. Kebayaaaang nggak siihh?? But, really I couldn't imagination for that!
Saya mempertimbangkan salah satu dari dua pilihan tersebut yang akan ambil. SM3T jurusan saya tidak ada di dalam daftar pilihan, sedangkan Indonesia Mengajar siapapun boleh ikut serta untuk turun tangan, bahkan tidak hanya yang mempunyai background pendidikan, mau dia dari sarjana lulusan teknik, psikologi, akuntansi, dan lain-lain boleh ikut menjajal untuk mendaftar. So, I registered my name in this website.
(pokoknyaa udah jadiii aja yaaa jadi pengajar muda terus uda ada di penempatan. Takut kelamaan ceritanya. Panjang soalnya mah....)
Intinya, dari kegelisahan yang berawal "Lah, aku sarjana mah pendidikan. Tapi gengsi banget buat ngajar di sekolah? Lah mereka? yang bukan sarjana pendidikan aja mau kerja di bidang pendidikan?" Astgahfirulloh... Betapa yaaa sombongnyaaa diri saya ini. Gaya, gengsi, sok-sokan, rasanya ada semua hal-hal demikian yang memang harus saya buang jauh-jauh...
Daaaaannn... Allah Maha Baik, Super Duper Baik. Bisa jadi, saya benar-benar diberi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana pendidikan di daerah yang jauh dari fasilitas nyaman dan lengkap. Saya dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang menjadi saudara saya yang luar biasa, yang seringkali memberi asupan positif di kala saya merasa jenuh.
Allah mungkin ingin memperlihatkan saya supaya saya lebih sering bersyukur, "Vid, kalau kamu nggak berpendidikan, kamu nggak akan bisa sampai ke Jerman, atau seperti sekarang ini"- "Vid, coba apa yang sudah kamu lakukan, apa kamu nggak mau dibagikan ke orang lain yang mungkin dari cerita-cerita kamu mereka lebih bisa bersemangat lagi untuk menggapai mimpinya?" Pertanyaan-pertanyaan ini selalu memacu di pikiran dan benak saya.
Di sana saya justru menjadi seorang pembelajar. Pembelajar yang benar-benar harus mensyukuri rasanya hidup di daerah yang fasilitasnya boleh dikatakan lengkap. Melihat anak-anak didik di daerah perbatasan membuat saya lebih banyaaak bersyukur, lebih banyak termotivasi, karena mereka tidak pernah mengenal kata menyerah bahkan mengeluh sekalipun. Apa yang mereka perbuat, ya cukup mereka syukuri. "Daripada nggak sekolah? Mau jadi apa anak-anak kami?" Kebanyakan dari orang tua murid selalu menyampaikan demikian.
Saluuut aslii saluuutt.. Belum lagi dengan perjalanan beberapa murid yang harus mereka tempuh berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki melewati hutan sawit, coklat atau naik turun bukit yang cukup curam, bahkan tanah saja sempat longsor atau bahkan mereka rela tidak mengenakan alas kaki hanya demi menjaga sepatu mereka supaya tidak rusak. Selain itu, baiknya lagi Allah sama sayaaa... dipertemukan terus dengan orang-orang baik yang ada di sana. Meskipun memang baru pertama kalinya bertemu. Ada ajaaa untuk menawarkan bantuan-bantuan yang tak pernah diduga. MashaAllah... :")
![]() |
| perjalanan menyenangkan bersama anak-anak bukit Sion. Mendaki gunung lewati lembah :) |
Allah kurang baik apa coba sama kita? Buku tinggal beli di toko buku terdekat, mau apa ajaaa juga dipermudah, tapi yaa kurang bersyukurnya diri kita pada-Nya.. Maka dari itu, memberi manfaat adalah salah satu cara untuk kita bisa menikmati keanugerahan-Nya. Semoga kita selalu menjadi hamba yang tak pernah kenal lelah untuk mencari ilmu dan membagikan ilmu kita kepada siapapun. Karena setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah (Ki Hajar Dewantara).
Wassalamu'alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh
Menjadi pendidik adalah sebuah anugerah dari Allah. Karena dengan demikian pendidik bisa belajar dari anak didik, begitu pun sebaliknya. Bisa jadi ada simbiosis mutualisme di dalamnya. :)
"Orang-orang yang berilmu kemudian dia memanfaatkan ilmu tersebut (bagi orang lain) akan lebih baik dari seribu orang yang beribadah atau ahli ibadah". (H.R. Ad-Dailami)


0 comments:
Post a Comment