Sebatik, 1 Januari 2016
Well, membuka awal tahun ini saya mengucapkan banyak-banyak bersyukur sekali, karena diberi amanah untuk melakukan pengabdian saya. Sebenernya ini telat, no! mungkin bukan telat, karea keterbatasan yang saya miliki jadi tulisan ini agak telat sedikit. Entahlah...
Tahun lalu, saya masih ingat ketika merayakan tahun baru di tempat kerja bersama dengan Bewohner dan beberapa rekan kerja saya, karena tahun lalu saya diharuskan untuk bekerja di malam tahun baru. Rasanya, memang masih belum menyangka bahwa saat ini saya berada dimana dan tahun lalu berada dimana. Rindu Jerman? Hmm... pertanyaan ini yang kadang sering dilontarkan ke saya, saya memang rindu Jerman, namun lebih tepatnya saya merindukan teman-teman saya di sana. 2 tahun di sana memberikan banyak hal yang seumur-umur belum pernah saya dapatkan, jika di flashback kembali kejadian apa saja yang saya alami, sangatlah banyak. Bahkan, saya sulit untuk mengungkapkan satu persatu (maklum saja, hutang menulis saya di Berlin bagian akhir pun belum selesai). Macamana pula laaaahh :(((
2015 adalah tahun yang begitu berarti, bukan berarti tahun-tahun sebelumnya tidak berarti, justru setiap tahun buat saya adalah kesan tersendiri buat saya. 2 tahun jauh dari rumah, membuat langkah ini tak mau kunjung berhenti. Rasanya ingin bergerak terus menerus sekalipun memang nggak tau harus kemana. Membuat keputusan besar untuk kembali pulang ke tanah air adalah hal yang awalnya berat namun pada akhirnya membuat saya semakin yakin, bahwa tanah air adalah tempat saya untuk mengabdikan diri saya ini.
bulan Agustus akhir 2015 saya kembali ke tanah air dan 1,5 bulan kemudian saya berangkat kembali untuk melakukan pelatihan sebagai calon pengajar muda angkatan XI. Rasanya, benar-benar baru berhenti kaki ini, langsung saya bergerak kembali menuju perjuangan berikutnya. Namun, tugas saat ini yang saya jalankan cukup berat karena menyangkut dengan pendidikan. Amanah adalah tanggung jawab, sedangkan tanggung jawab harus diselesaikan hingga tuntas demi pendidikan di penjuru negeri.
Desember, tepat tanggal 20 2015 saya diberangkatkan menuju ke daerah penempatan. Kami ber10 sungguh terlalu bahagia karena di sana pasti kami akan dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa. Saya mengajar, tapi saya juga ingin diajar, karena ilmu saya pun masih jauh dari apa yang orang sangka-sangka. Di sini saya belajar untuk bisa menunaikan tanggung jawab saya, belajar bersama dengan anak-anak dan masyarakat sekitar. Sungguh, betapapun apa yang kita hadapi, apa yang kita dapatkan adalah sebuah anugrah yang tak ternilai harganya. Belajar dari kalimat bahagia itu sederhana, sesederhana kita menarik bibir kita ke kanan dan kiri (senyum).
Thank you so much 2015, what a beatiful year I had. Frohes Neujahr und einen Guten Rutsch wuensche euch. :))
--vidahasan--
keluarga Bu Saminah, Kampung Lourdres Sebatik Tengah
Well, membuka awal tahun ini saya mengucapkan banyak-banyak bersyukur sekali, karena diberi amanah untuk melakukan pengabdian saya. Sebenernya ini telat, no! mungkin bukan telat, karea keterbatasan yang saya miliki jadi tulisan ini agak telat sedikit. Entahlah...
Tahun lalu, saya masih ingat ketika merayakan tahun baru di tempat kerja bersama dengan Bewohner dan beberapa rekan kerja saya, karena tahun lalu saya diharuskan untuk bekerja di malam tahun baru. Rasanya, memang masih belum menyangka bahwa saat ini saya berada dimana dan tahun lalu berada dimana. Rindu Jerman? Hmm... pertanyaan ini yang kadang sering dilontarkan ke saya, saya memang rindu Jerman, namun lebih tepatnya saya merindukan teman-teman saya di sana. 2 tahun di sana memberikan banyak hal yang seumur-umur belum pernah saya dapatkan, jika di flashback kembali kejadian apa saja yang saya alami, sangatlah banyak. Bahkan, saya sulit untuk mengungkapkan satu persatu (maklum saja, hutang menulis saya di Berlin bagian akhir pun belum selesai). Macamana pula laaaahh :(((
2015 adalah tahun yang begitu berarti, bukan berarti tahun-tahun sebelumnya tidak berarti, justru setiap tahun buat saya adalah kesan tersendiri buat saya. 2 tahun jauh dari rumah, membuat langkah ini tak mau kunjung berhenti. Rasanya ingin bergerak terus menerus sekalipun memang nggak tau harus kemana. Membuat keputusan besar untuk kembali pulang ke tanah air adalah hal yang awalnya berat namun pada akhirnya membuat saya semakin yakin, bahwa tanah air adalah tempat saya untuk mengabdikan diri saya ini.
bulan Agustus akhir 2015 saya kembali ke tanah air dan 1,5 bulan kemudian saya berangkat kembali untuk melakukan pelatihan sebagai calon pengajar muda angkatan XI. Rasanya, benar-benar baru berhenti kaki ini, langsung saya bergerak kembali menuju perjuangan berikutnya. Namun, tugas saat ini yang saya jalankan cukup berat karena menyangkut dengan pendidikan. Amanah adalah tanggung jawab, sedangkan tanggung jawab harus diselesaikan hingga tuntas demi pendidikan di penjuru negeri.
Desember, tepat tanggal 20 2015 saya diberangkatkan menuju ke daerah penempatan. Kami ber10 sungguh terlalu bahagia karena di sana pasti kami akan dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa. Saya mengajar, tapi saya juga ingin diajar, karena ilmu saya pun masih jauh dari apa yang orang sangka-sangka. Di sini saya belajar untuk bisa menunaikan tanggung jawab saya, belajar bersama dengan anak-anak dan masyarakat sekitar. Sungguh, betapapun apa yang kita hadapi, apa yang kita dapatkan adalah sebuah anugrah yang tak ternilai harganya. Belajar dari kalimat bahagia itu sederhana, sesederhana kita menarik bibir kita ke kanan dan kiri (senyum).
Thank you so much 2015, what a beatiful year I had. Frohes Neujahr und einen Guten Rutsch wuensche euch. :))
--vidahasan--
keluarga Bu Saminah, Kampung Lourdres Sebatik Tengah
0 comments:
Post a Comment