25 January 2013

Mbah Uti

25 Januari 2013

Mbah Uti yang telah tenang di sisiNya,

mbah Uti, mbah Uti di sana baik kan? Gak diapa-apakan kan sama Pemilik Hidup? Aku kangen sama simbah, makanya aku nulis surat ini buat simbah. Meskipun aku tau, simbah juga gak akan mungkin membaca suratku ini. Tapi, aku yakin simbah bisa mendengarkan keluh kesah dan rinduku ke simbah. Aku rindu dan kangen sekali sama masakan yang dibuat sama mbah Uti. Entah kenapa tiba-tiba merasa, kalo aku pengen banget makan masakannya simbah.  Bukan berarti masakan mama gak enak mbah, masakan mama juga enak. Tapi mungkin karna simbah orang dulu, jadi beda aja gitu sama masakannya simbah. Masakannya mbah Uti bikin aku slalu kembang kempis nafasnya karna kepedesan. Dan yang paling aku suka adalah sayur asem, penyet ikan tengiri dan panggang, telur dadar campur cabe uleg, soto tauco, bakso daging, pokoknya semua masakan mbah Uti yang mbah Uti pernah buat.

Mbah Uti tau, pas aku dapat kabar simbah uda gak ada? Saat itu, aku lagi di Jogja mbah, lagi panas-panasnya ngurusin organisasi di kampus. (seharusnya) saat itu di Kampus, aku disuruh mewakili organisasiku untuk menjadi tim futsal. Tapi, pas mau berangkat bapak tiba-tiba menelfonku dan mengabarkan bahwa simbah uda gak ada. Saat aku mendengar bapak bilang seperti itu, aku bener-bener gak percaya dan aku ingin sekali segera pulang saat itu juga. Gak mau tau, pokoknya aku harus pulang saat itu juga. Akhirnya, aku menelfon travel dan Alhamdulillah aku dapet tempat duduk. Itu cuman karna aku ingin melihat simbah, ingin memastikan bahwa kabar ini gak bener. Aku langsung lemas dan menangis mbah, gak tau harus ngapain. Aku belum ikhlas dengan kepergian yang benar-benar mengejutkan itu. Aku merasa bahwa baru satu bulan yang lalu aku berjumpa denganmu. Dan aku ingat simbah pesen apa sama aku saat itu, pas aku berjumpa terakhir kali dengan simbah. Simbah cuma bilang "Vida sekolah sing rajin nggih, ben cepet lulus. Bapak kaleh mama direwangi" (vida sekolah yang rajin ya, biar cepet lulus. Bapak sama mama dibantu). Itu pesen simbah yang sampai sekarang aku slalu mengingatnya. 

Kadang, aku gak percaya mbah Uti bakal ninggalin aku secepet ini. Aku merasa baru kemarin aku lahir dan bertemu dengan sosok yang mirip sekali dengan mama. Tapi mbah, simbah tau? Aku bahagia, iya bahagia, karna banyak orang yang bilang padaku bahwa mbah Uti pergi dengan membawa kebahagiaan. Mbah Uti, masih sempat bercengkerama dengan budhe, terus tertawa dan akhirnya mbah Uti menghembuskan nafas terakhir dengan senyuman dan lafadzh Allah. Subhanallah, itulah yang menguatkan aku saat itu.

Mbah Uti, meskipun banyak orang yang berkata seperti itu, aku masih belum menerima ini semua. Aku masih belum ikhlas dan percaya dengan kepergian mbah Uti yang menurut aku secara tiba-tiba. Aku tahu tentang kun fayakun mbah, jadi memang harus dipersiapkan segalanya, iya segalanya. Karna umur hanya Tuhan lah yang menentukan. Semua kehidupan kita di dunia hanya Dialah yang mengaturnya. Aku tau tentang itu mbah, tapi (ya Allah kuatkan aku)... Aku ingat, ketika terakhir kali mbah Uti akan di bungkus dengan kain kafan. Aku melihat wajah seri dan bersih mbah Uti, namun justru itu yang buat aku gak kuat sampai aku menangis sejadi-jadinya, dan iya sampai mbah Uti masuk ke tempat peristirahatan terakhir pun aku masih menangis sejadi-jadinya. Gak cuma aku mbah, mba Meri (sepupu) juga sama seperti aku, ya karna mbah Uti adalah panutan buatku. Mbah Uti adalah sosok yang luar biasa buatku. Saat itu, aku gak pernah bisa membendung air mataku yang pada akhirnya air tersebut pun jebol karna gak rela ditinggal sama mbah Uti. Semua orang di sana bilang padaku "mpun Da, ikhlas. Simbah ayu kan? Simbah mpun tenang teng mriko" (sudah Da, ikhlas. Simbah cantik kan? Simbah uda tenang di sana). Ya, tentu saja simbah sudah tenang di sisi Sang Pemilik Hidup.

Mbah Uti, ini adalah sebagian kecil yang aku sampaikan melalui kata-kata, mbah. Masih banyak hal yang pengen banget aku ceritain sama simbah. Terimalah kecup rinduku dan sayangku untuk simbah. Meski aku tau, aku gak akan bisa menggapai kecupan dari simbah.

Dari cucu simbah yang bandel
~Vida Hasan~
Share:

0 comments: